Archive for May, 2005

Revolusi Itu Berangkat Dari Kedai Kopi

Tuesday, May 31st, 2005

Pengajian senin sore kemaren mengajak
jari saya untuk menelusuri seperti apa kafe yang ada di Mesir. Sore itu
sang ustadz bilang…

"Kafe di Mesir mempunyai fungsi yang sangat berbeda dengan kafe-kafe yang ada di Indonesia".

"Kafe
di Indonesia identik dengan minuman keras, tempat dugem, perdangan
narkoba dan sembarang kalir yang tidak jauh dari itu. Lain halnya
kafe-kafe yang ada di Mesir. Disana mereka menjadikan kafe sebagai
tempat munculnya pergerakan, revolusi rakyat pun digodok dari
kedai-kedai ini. Belasan karya sastra utama juga lahir dari sana"….

"Para ulama dan darwisy sufi juga punya pangkalan kafe (maqha) tersendiri. Minum kopi biar bisa zikir tahan lama".

Ah
masa sih ? saya sendiri juga sedikit meragukan hal tersebut dan membuat
saya penasaran. Akhirnya saya menelusuri internet untuk mencari
bagaimana sebenarnya keberadaan dan fungsi kafe di Mesir. Berikut ada
beberapa tulisan yang saya dapatkan dari catatan koresponden Gatra di
Kairo, Mohamad Guntur Romli, tentang serba-serbi kafe Mesir.

ANGKA
1919 adalah angka keramat bagi rakyat Mesir. Bilangan ini mewakili
peristiwa paling heroik dalam sejarah negeri itu: revolusi tahun 1919.
Ketika itu, gelombang revolusi rakyat Mesir menggulung kolonialisme
Inggris. Tahun yang sama, warga Mesir mengangkat tokoh pujaan mereka,
Saad Zaghlul, sebagai perdana menteri pertama.

Tapi, tak banyak
yang tahu tempat asal cita-cita revolusi 1919 itu mulai dibangun.
Revolusi rakyat tersebut ternyata lahir dari bangunan sederhana di
bundaran Atabah, muara Jalan Muski, Kairo. Di tempat itu sebagian warga
melepas lelah, ngobrol, dan minum kopi. Kedai kopi? Ya! Revolusi itu
dimulai dari kedai kopi bernama Maqhâ (Kafe) Mitatia.

Spirit
revolusi itu tertanam jauh sebelum 1919. Pada penghujung abad ke-19, di
Kafe Mitatia, sosok lelaki asing separuh baya hadir menarik perhatian
banyak orang. Pria itu lahir di Afghanistan, belajar di Persia (Iran),
dan punya hobi melanglang buana. Ia telah menjelajah India, Turki,
Suriah, dan terakhir di Mesir.

Kumis dan janggut berjuntai
menutupi bagian bawah wajah pria itu. Gaya bicaranya meledak-ledak.
Terkadang keluar kata-kata keras dan tajam dari bibir yang tidak pernah
lepas menyedot pipa shisha –rokok Arab bertabung dan berpipa panjang–
itu. Asap shisha meliuk-liuk dipermainkan angin menerpa wajah
orang-orang sekitarnya.

Kata-kata keras sosok asing itu
belakangan mampu membakar semangat rakyat Mesir untuk melawan
penjajahan Inggris. Orang-orang yang biasa memanggilnya, Syekh
Jamaluddin. Lengkapnya –karena ia berasal dari Afghan– Syekh
Jamaluddin al-Afghani. Di kafe Mitatia, 20-an orang selalu setia
menyimak kata-katanya.

Di antara hadirin itu hampir selalu
tampak seorang pria lulusan Al-Azhar bertubuh pendek, berkumis, dan
berjenggot. Namanya Muhammad ‘Abduh. Kelak, Abduh dikenal sebagai murid
setia Syekh Jamaluddin dan salah seorang pelopor pembaruan keagamaan
serta mufti Mesir ternama.

Halaqah Kafe Jamaluddin al-Afghani

SELAIN
Abduh, ada dua sosok lelaki lain yang rajin hadir. Pertama, Abdullah
al-Nadim yang nantinya dijuluki Khathîb al-Tsawrah (Orator Revolusi
1919). Yang kedua, yunior Abduh di Al-Azhar, bernama Saad Zaghlul.
Kelak Zaghlul-lah yang menjadi tokoh utama revolusi 1919 dan perdana
menteri pertama Mesir.

Al-Nadim dan Zaghlul sama-sama dikenal
sebagai "singa panggung". Pengaruh sang guru, Syekh Jamaluddin,
tertanam kuat dalam jiwa mereka. Selain nama-nama besar tersebut, masih
ada tokoh revolusi 1919 lain yang juga setia mengikuti "halaqah kafe"
Syekh Jamaluddin. Yaitu, Mahmud Sami al-Barudi.

Cerita itu
bukanlah kabar burung, atau sekadar kisah dari mulut ke mulut. Tapi
tercantum dalam buku Ayyam laha Tarikh (Hari-hari yang Memiliki
Sejarah), karya terpenting sastrawan Mesir, Ahmad Bahauddin. Revolusi
1919 yang dahsyat ternyata berasal dari pojok kafe sederhana. Kafe
ternyata memiliki kekuatan mengubah jalan sejarah.

Pengaruh kafe
di Mesir tak hanya dikenal dalam bidang politik. Sastrawan Mesir peraih
Nobel 1988, Naguib Mahfouz, juga lebih banyak menghabiskan waktunya
dari kafe ke kafe. Tidak ada kafe ternama yang belum disinggahi Naguib.

Penyanyi
legendaris Umm Kultsum juga terbiasa nongkrong di kafe. Setiap lepas
show, Ummi Kultsum berdialog dengan fansnya di kafe untuk menanyakan
kesan dan kritik mereka. Saat ini Ummi Kultsum diabadikan menjadi nama
sebuah kafe yang sering ia kunjungi.

Jika ke Mesir, perjalanan
Anda memang tidak lengkap bila belum menyinggahi kafe-kafenya. Di situ
Anda bisa duduk rileks sambil minum teh. Kalau suka, teh bisa dicampur
daun na’na’ (mint) agar napas lebih segar dan harum. Sambil menyeruput
teh atau kopi Arab beraroma khas, bisa diselingi menyedot shisha.

Revolusi dan Miniatur Negara

AROMA
shisha, rokok Arab itu, juga bisa dipilih. Ada aroma stroberi, mangga,
apel, melon, dan buah-buahan lain. Di samping teh dan kopi, Anda juga
bisa mencoba minum sahlab –susu kental panas ditaburi kacang, pisang,
dan sedikit cokelat. Sambil ngobrol Anda bisa bermain domino dan
mahyong yang disediakan secara gratis oleh pemilik kafe.

Kafe
tak bisa dilepaskan dari kehidupan rakyat Mesir. Di setiap sudut jalan,
kafe-kafe mudah dijumpai. Mulai kelas rakyat jelata hingga eksekutif.
Orang Mesir tahan berlama-lama duduk di kafe hanya untuk ngobrol
ngalor-ngidul, minum teh, dan main domino. Tak jarang tradisi ini
menuai kritik karena dipandang membuang-buang waktu.

Tapi, jika
kita mengunjungi kafe-kafe yang punya sejarah panjang ada yang terasa
mengesankan. Kafe adalah saksi sejarah, forum diskusi, dialog, dan
debat tokoh-tokoh Mesir sejak dulu. Bagi rakyat Mesir, kafe adalah
"miniatur negara" karena segala persoalan negara, dari politik,
ekonomi, sosial, sastra, dan budaya, dibahas di kafe.

Para
pengunjung duduk mengepung meja, mereka bergantian bicara, tanpa
moderator ataupun notulen. Kesimpulan pembicaraan tak pernah satu,
terserah pada kepala masing-masing. Fenomena ini tidak hanya ada di
Kairo, juga di kota negeri Arab lain seperti Beirut di Lebanon, Baghdad
di Irak, Rabat di Maroko, dan Damaskus di Suriah.

Tradisi kafe
semacam ini bukanlah tradisi khas Arab. Di kota besar benua lain, kafe
dengan fungsi sosial-politik juga mudah dijumpai. Di Paris terdapat
kafe-kafe bersejarah tempat diskusi Picasso, Victor Hugo, Pascal,
Descartes, Camus, hingga Foucault. Ada kafe Deux Magots dan de Flore
tempat Sartre, Hemingway, dan Simone de Beauvoir berdialog melahirkan
filsafat eksistensialisme. Konon, kafe juga menjadi tempat titik tolak
revolusi pemuda di Prancis tahun 1968.

Di Mesir, sosok kafe
seperti ini baru dikenal pada zaman pemerintahan Turki pada 1517.
Sebelumnya, memang ada beberapa tempat yang sering dijadikan tempat
kumpul masyarakat Mesir, seperti pasar dan masjid. Tetapi untuk
kegiatan seni, sastra, dan budaya, pasar terlalu gaduh dan masjid
terlalu sakral.

Kafe Anti-Perempuan

SEBELUM kafe
dikenal, kegiatan sastra Kairo dipusatkan di perahu-perahu yang
mengapung di Sungai Nil. Kebiasaan rakyat Mesir ini berlangsung sejak
era pemerintahan Mamalik. Hingga pemerintahan Muhammad Ali Pasha,
perahu-perahu Nil masih sering digunakan untuk tempat pesta rakyat.

Namun,
dengan masuknya penjajah Prancis di Mesir pada Juni 1797, fenomena kafe
mulai tumbuh pesat di Kairo. Pesta di perahu mulai elitis dan
membutuhkan biaya tinggi, selain terasa terlalu sempit. Selain itu,
kebiasaan serdadu-serdadu Prancis nongkrong di pinggir jalan ikut
menyebabkan lahirnya kafe-kafe baru.

Menurut catatan Ali Pasha
Mubarak, pada tahun 1880, setidaknya ada 1.067 kafe di Kairo. Jumlah
kafe terbanyak ada di kawasan Azbakia, sebanyak 252 buah. Sebagian
besar, 228 kafe, juga menyediakan minuman keras. Di kawasan Bulak
terdapat 160 kafe, di kawasan Jamalia ada 142 kafe, dan di kawasan
Abidin tercatat 102 kafe.

Aktivitas di kafe juga beragam. Mulai
mendengarkan musik, syair, dongeng rakyat, hingga merayakan ritual
keagamaan seperti Maulid Nabi. Alkisah, Syekh Al-Bakri, seorang syekh
tarekat di kawasan Azbakia, selalu mengadakan perayaan maulid Nabi di
salah satu kafe. Konon, penguasa Mesir saat itu, Napoleon Bonaparte
juga rajin hadir.

Sejak itu, beragam kafe tumbuh di Kairo. Mulai
kafe umum hingga kafe khusus yang memiliki pelanggan dari strata
tertentu. Seperti kalangan buruh, pedagang dan tentu saja, kafe khusus
serdadu Prancis. Pada awal pertumbuhannya, kalangan bangsawan masih
sungkan duduk di kafe. Alasannya, nongkrong di kafe akan mengurangi
kewibawaan.

Kalangan perempuan Mesir juga dilarang duduk dan
ngobrol di kafe. Larangan tersebut masih berlaku sampai muncul gerakan
feminisme di Mesir. Seorang jurnalis Mesir terkenal, Dr. Mahmud Azmi,
pernah dikecam masyarakat karena duduk di Kafe Bar Liwa bersama
istrinya, seorang perempuan berkulit putih asal Rusia.

Kafe Khusus Ulama Al-Azhar

YANG
menarik, para pengajar dan ulama Al-Azhar juga punya kafe khusus.
Namanya, Kafe Afandia. Kisah kafe ini terungkap dari korespondensi
Abdullah Fikri Pasha yang berada di Turki dengan Syekh Utsman Haddukh,
seorang pengajar Ilmu Nahwu di Al-Azhar.

Surat bertanggal 5
Jumadal Ula 1288 H (1870 M) itu menceritakan kerinduan Fikri Pasha
minum kopi dan ngobrol di Kafe Afandia, dekat Masjid Al-Azhar. Sepulang
dari Turki, Abdullah Fikri Pasha sempat menjabat Menteri Pendidikan
Mesir. Meski Kafe Afandia tak bisa ditemukan lagi, namun kafe Afandia
dikenal sebagai pelopor kafe sastra.

Sudut kota Kairo yang
hingga kini sering dipenuhi lautan manusia adalah kawasan Masjid
Husein. Orang sering menyebutnya kawasan Al-Azhar karena Masjid
Al-Azhar ada di seberangan jalan Masjid Husein. Sebutan lain kawasan
itu adalah Khan Khalili, berasal dari nama pasar tradisional di samping
Masjid Husein.

Segitiga emas Masjid Husein, Masjid Al-Azhar dan
Khan Khalili membuat tempat itu selalu ramai hingga sekarang. Kawasan
kuno itu dibangun tahun 972 M oleh Jawhar Saqali, seorang jenderal
Daulah Fathimiyah. Tepat di samping istana kerajaan, pusat
pemerintahan, dibangun Masjid Al-Azhar sebagai pusat keilmuan.

Adapun
pasar tradisional Khan Khalili dibangun pada 1382 oleh seorang amir
bernama Djaharks el-Khalili. Pasar ini bergaya Turki. Para pelancong
yang datang ke Mesir bisa membeli suvenir mulai dari kertas papirus,
hingga patung kuno di sini. Ada juga minyak kadal Mesir dan batu
jahamam yang konon ampuh menambah kekuatan seks.

Kehidupan seni
dan sastra juga berkembang di kawasan ini. Pelajar, ulama, dan syekh
al-Azhar memiliki kafe tersendiri untuk berdiskusi. Para darwisy sufi
juga memiliki kafe khusus yang bernama Kafe Wali Ni’am yang berdiri
hingga sekarang. Tokoh tarekat Syekh Sholih al-Ja’fari juga sering
nongkrong di kafe ini sepulang dari Masjid Husein.

Pojok Ilham Naguib Mahfouz

MENURUT
Fathi Wali Niam, 50 tahun, pemilik Kafe Wali Ni’am sekarang, keberadaan
kafe ini tidak bisa dipisahkan dari tradisi darwisy-darwisy sufi. Para
darwisy itu hobi minum kopi untuk menghilangkan kantuk agar bisa kuat
begadang dan wirid. Tapi, Kafe Wali Ni’am bukanlah kafe tertua di Pasar
Khan Khalili.

Kafe yang paling uzur di kawasan Khan Khalili
adalah Kafe El-Fishawi. Menurut sastrawan Mesir Hafidz Ibrahim dalam
buku al-Shalîb wa al-Hilâl (Salib dan Bulan Sabit), menjelang revolusi
1919 kafe ini sering digunakan tempat rahasia untuk mempertemukan
delegasi Koptik Kristen dan ulama Al-Azhar. Di sini mereka menyusun
strategi revolusi.

Pada era 1920-an dan 1930-an Kafe El-Fishawi
juga dijadikan pusat informasi rahasia perlawanan rakyat Mesir terhadap
penjajahan Inggris. Ketika Perang Dunia I dimulai pada September 1939,
kafe ini menjadi "pelarian" orang-orang yang hobi begadang. Sebab, pada
saat itu tidak ada satu pun kafe yang berani buka kecuali Kafe
El-Fishawi.

Di tengah berkecamuknya perang, orang merasakan
ketenangan duduk di kafe yang terletak di pelataran Masjid Husein itu.
Mengenai usia kafe ini, terjadi silang pendapat antara pemilik kafe
El-Fishawi dan para arkeolog. Menurut ahli sejarah Kairo Lama
(al-Qâhirah al-Qadîmah), kafe ini berumur 200 tahun lebih.

Tetapi,
menurut Akram Mustafa el-Fishawai, 46 tahun, generasi ketujuh pemilik
kafe El-Fishawi, kafe ini telah berumur 245 tahun. Sebagian orientalis
punya teori lain. Menurut mereka cikal bakal Kafe el-Fishawai berasal
dari Kafe Al-Pasvor yang dibangun pada saat Prancis menguasai Mesir.

Konon,
Napoleon pernah mengunjungi kafe ini karena tertarik dengan lokasinya.
Menurut catatan sejarah Kairo Lama, kafe ini memulai aktivitasnya sejak
1772, pada era Sultan Muhammad Abu Dahab yang dikenal dengan sebutan
Al-Pasvor. Pendiri kafe yang berasal dari keluarga El-Fishawi memberi
nama kafenya dengan nama sultan.

Kafe Tutup, Kuda Pun Mati

AWALNYA,
luas Kafe El-Fishawi tidak lebih dari 60 meter persegi, dan terletak di
pelataran Masjid Husein. Namun lama-lama kafe ini tidak tampak lagi
dari pelataran masjid. Beberapa rumah makan dan kafe-kafe baru menutupi
Kafe El-Fishawi. Luasnya pun juga tidak lagi seperti sebelumnya.

Pada
1968, Pemerintah Mesir memutuskan memangkas sepertiga luas kafe ini.
Karena kecewa, pemilik kafe saat itu, Mustafa El-Fishawi, mati secara
mendadak. Anehnya, kuda kesayangan pemilik kafe ini pun turut mati
menyusul tuannya. Cerita tragis tersebut hingga kini terus menjadi
cerita turun-temurun.

Pada awal abad ke-20, Kafe El-Fishawi
menjadi primadona. Tokoh besar Mesir seperti Syekh Jamaluddin
Al-Afghani, Umar Makram, Syekh Al-Basyari, dan Abdullah al-Nadim sering
terlibat diskusi hangat di kafe ini. Raksasa sastra Mesir, Naguib
Mahfouz –pemenang Hadiah Nobel Sastra 1988– juga mulai membentuk pola
pikir dan tulisannya di kafe ini.

Kafe El-Fishawi berdekatan
dengan perpustakaan Al-Gouri milik Kementerian Wakaf tempat Mahfouz
bekerja. Mahfouz memiliki tempat khusus di pojok kafe untuk menyendiri
dan merenung. Beberapa karya emas mengalir dari tangan Naguib Mahfuoz
lewat kafe ini, yakni: Khan Khalili, al-Bidayah wa al-Nihayah, Awlad
Haratina, dan lain lain.

Saat ini pojok tempat Mahfouz
berkontemplasi diabadikan dan diberi nama Rakn (Pojok) Naguib Mahfouz.
Potret Mahfouz muda yang sedang duduk di Kafe El-Fishawi tergantung di
ruangan itu bersama potret Amr Musa, Sekjen Liga Arab. Mahfouz ditemani
gambar besar Syekh El-Fishawi kakek pendiri Kafe El-Fishawi.

Kafe
El-Fishawi juga punya sederet tanda tangan dan catatan tokoh besar yang
pernah berkunjung. Seperti Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, Syekh
Jamaluddin Al-Afghani, Syekh Muhammad ‘Abduh, Saa’ad Zaghlul, Mustafa
Kamil, Abbas Mahmud Akkad, Ahmad Amin, Thaha Husein, dan Ahmad Syauqi.

Koleksi Tokoh Ternama

JUGA
ada goresan tangan musisi Mesir ternama Muhammad ‘Abdul Wahab, penyanyi
legendaris Umm Kultsum, penyair Ahmad Rami, dan tokoh-tokoh Revolusi
1952: Muhammad Naguib, presiden pertama Mesir, Gamal Abd Naser, serta
Anwar Sadat. Catatan dan tanda tangan mereka tersimpan rapi dalam
sebuah buku pengunjung.

Salah satu contoh catatan dan tanda
tangan dari mereka adalah: "Salam penuh cinta untuk tanahku tercinta,
Kafe El-Fishawi. Semoga Allah mengabadikan usianya dan orang-orang yang
datang mengunjunginya. Salam hormat, Naguib Mahfouz 23/12/1982."

Pada
saat ini, aktivitas sastra di kafe El-Fishawi tidak seramai dulu.
Tetapi, menurut Akram Mustafa El-Fishawi, tidak sedikit tokoh sastrawan
Mesir masih sering datang untuk sekadar minum teh, menyedot shisha, dan
mengingat-ingat masa lalu di pojok Naguib Mahfouz.

"Meskipun
tempat ini tidak seperti dulu lagi, namun para sastrawan tetap memiliki
kepentingan untuk merasakan romantisme historis di tempat bersejarah
ini. Dan mereka tidak akan mampu menemukan perasaan itu kecuali di
tempat ini." Kata Akram.

Sejauh pengamatan Gatra, Kafe
El-Fishawi memang telah berubah fungsi. Saat ini tidak lebih dari
sekadar tempat melepas lelah para pembeli yang kecapaian berputar-putar
di Pasar Khan Khalili. Beberapa orang datang hanya untuk menyeruput teh
hijau minuman khas Kafe El-Fishawi yang konon bisa menghancurkan lemak.

Lebih Tua daripada Republik

PERUBAHAN
fungsi ini diakui secara jujur oleh Akram El-Fishawi yang biasa
dipanggil mu’allim (master). "Zaman sekarang bukan lagi seperti zaman
dulu. Puluhan ribu kafe telah berdiri di Kairo. Meskipun begitu, semua
orang pun tahu, Kafe El-Fishawi satu-satunya kafe yang memiliki akar
historis lebih tua daripada umur republik ini," katanya.

Akram
El-Fishawi menganggap kafe ini warisan sejarah yang bernilai tinggi.
"Meski kafe ini mungkin tidak seperti dahulu, saya harus tetap
menjaganya," katanya. Kafe El-Fishiwa kini memang tidak semenarik dulu.
Pelataran depan kafe ini berebut dengan lorong sempit tempat orang
lalu-lalang.

Tetapi sejarah seolah mengabadikan kafe ini.
Meskipun telah ada kafe bernama Naguib Mahfouz yang jauh lebih indah
dan modern di dekatnya, Kafe El-Fishawi tetap terkenal sebagai kafenya
Naguib Mahfouz. Tanyalah pada orang yang lalu lalang di lorong Pasar
Khan Khalili, "Di mana kafe Naguib Mahfouz?" Niscaya semua orang akan
mengantarkan Anda ke Kafe El-Fishawi.

"Kafe yang paling banyak
memberikan ilham, ide dan alur cerita kepadaku adalah El-Fishawi,"
demikian pengakuan Naguib Mahfouz dalam buku Hara’iq Kalam fi Maqahi
al-Qahirah. Bagi Mahfouz, ilham tidak datang dari bangunan kafe yang
sudah dimakan usia. Kafe ini menumpahkan ide ke kepala Mahfouz melalui
bibir mereka yang duduk ngobrol bersamanya.

Naguib Mahfouz: Peraih Nobel yang "Gila" Kafe

TAK
ada sastrawan Mesir yang gila kafe melebihi Naguib Mahfouz. Kakek
kelahiran 1911 di Abbasea, Kairo, ini menghabiskan hampir seluruh
umurnya di kafe. Mulai kafe rakyat di tempat kelahirannya, Abbasea,
Husein, hingga Kasino Kafe Kasr Nil dan Kafe Ali Baba di bundaran
Tahrir. Seandainya Naguib tidak dimakan usia dan tidak ada
fundamentalis yang mencoba membunuhnya, niscaya hingga kini ia masih
kongko-kongko di kafe.

Sejak mengalami upaya pembunuhan pada
1994, Naguib tidak lagi berani duduk di kafe-kafe tepi jalan. Dia
pindah ke kafe-kafe hotel berbintang lima dan kapal pesiar di Sungai
Nil. Kapal pesiar yang sering dikunjunginya adalah Farah Boat. Jika tak
keluar rumah, sosok tua itu kini menghabiskan hari-harinya di sebuah
kamar rumahnya yang diberi nama "kafe".

Kafe tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan Naguib Mahfouz. Karya-karya terpentingnya
seperti Qashr Syawq (Istana Rindu), al-Sakariyah, dan Bayna Qashrayn
(Antara Dua Istana) lahir di kafe. Di Kafe Opera yang berornamen Eropa,
Naguib memulai forum sastranya sejak tahun 1940, setiap Jumat, jam
10.00-13.00.

Menurut kritikus sastra Jamal al-Ghaythani, forum
sastra tersebut banyak dihadiri sastrawan senior dan junior. Dari forum
ini, kelak lahir generasi sastrawan Mesir angkatan 1960-an. Selepas
diskusi di Kafe Opera, Naguib dan teman-temannya akan melanjutkan
obrolan di salah satu kafe rakyat di Azbakia.

Pada 1962, forum
sastra Kafe Opera dilarang aparat keamanan. Dua tahun kemudian, Naguib
memulai forum sastranya di Klub Qishshah, namun hanya bertahan beberapa
minggu. Lalu pindah ke Kafe Sphinx di depan Bioskop Radio. Kafe ini
kemudian berubah jadi toko sepatu. Naguib pun kemudian pindah ke Kafe
Riche.

Menurut Magdi Abd Mullak, pemilik Kafe Riche, forum
sastra Naguib bertahan selama 17 tahun. Tradisi Naguib ini
dipertahankan sampai sekarang. Tiap hari Jumat jam 10 pagi, Magdi
menggelar acara "sarapan sastra" bersama kalangan sastrawan, wartawan,
dan penulis Mesir.

Setelah 17 tahun bersama Kafe Riche, Naguib
terpaksa pindah Kafe Kasr Nil karena pemerintah menutup Riche setiap
hari Jumat. Naguib terkenal sosok yang akrab, penuh humor, dan
familiar. Setiap pengunjung kafe pasti mengenali tawa Naguib yang
terbahak-bahak. Naguib menyediakan hari Kamis untuk bertemu teman-teman
lamanya.

Dalam bukunya, Haraiq al-Kalam fi Maqahi al-Qahirah
(Kobaran Kata di Kafe-kafe Kairo), Naguib menulis pengakuannya tentang
kehidupan kafe. "Selain Kafe Qasytamar, Arabi, dan El-Fishawi untuk
menjumpai teman-teman lama, aku juga sering mengunjungi beberapa kafe
lain, bertemu kalangan sastrawan dan intelektual," tulis Naguib.

Naguib
sering duduk di Kafe Ummi Kultsum, bundaran Arabi. Di musim panas, ia
berjalan kaki dari rumahnya menuju kafeteria Hotel Shahr Zad untuk
minum teh dan membaca koran pagi. Naguib punya kesan berbeda antara
kafe rakyat dan kafe Eropa. "Jika pergi ke kafe rakyat, kamu tidak
butuh teman. Kamu akan banyak menemukan teman ngobrol," katanya.

Sedangkan
pada kafe lain, seperti kafe bergaya Eropa, Naguib berpesan, "Jika kamu
pergi sendiri, maka kamu akan sendirian sepanjang waktu." Kafe-kafe di
tengah kota Kairo, bagi Naguib, adalah tempat berjanji dan menunggu
teman-temannya sebelum pergi ke bioskop dan teater. Ia pernah menulis
skenario film yang disutradarai Salah Abu Saif di kafe Taryabon di
Iskandariyah, serta menulis skenario film Raya wa Sikkina di Kafe
Galemo Nobolo.

"Novel-novel karyaku tidak bisa aku tulis kecuali
di atas meja, baik di rumahku maupun di kantorku," tulis Naguib.
"Tetapi aku sering mencari ide dan alur cerita novel sewaktu
duduk-duduk di kafe, kemudian aku menulisnya sewaktu pulang." Kafe yang
paling banyak memberinya ilham, ide, dan alur cerita karya-karyanya
adalah Kafe El-Fishawi.

Menurut Dr. Adil Mohamed Atha Ilyas,
penulis disertasi tentang karya Naguib, al-Lishsh wa al-kilâb (Pencuri
dan Anjing-anjing), mengutip pernyataan Naguib bahwa universalitas
(al-’âlamiyah) dimulai dari lokalitas (al-mahalliyah). Novel-novel
Naguib semuanya bercerita tentang peristiwa dan tempat sekelilingnya.
Kafe, bagi Naguib, menyajikan miniatur masyarakat sekitarnya karena di
sanalah bertemu segala lapisan masyarakat.

Samir Sarhan: Dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana

PROYEK
buku murah Pemerintah Mesir dengan moto "Membaca untuk Semua Kalangan"
tak lepas dari peran Dr. Samir Sarhan, Ketua Lembaga Umum Buku Mesir.
Sastrawan Mesir ini berhasil memasyarakatkan buku dan tradisi membaca.
Di tangan Samir pula, Pameran Buku Internasional Mesir diadakan tiap
tahun.

Tahun 1980-an, Samir menerbitkan biografinya berjudul,
‘Ala Maqha al-Hayah (Di Kafe Kehidupan). Pilihan judul ini memiliki
alasan tersendiri. Samir, sebagaimana Naguib Mahfouz, menghabiskan
sebagian besar usianya di kafe-kafe. Pengenalannya pada dunia sastra
dimulai dari Kafe Abdullah di bundaran Giza, tahun 1950-an.

Ketika
itu, Kafe Abdullah menjadi ajang pertemuan para sastrawan dan kritikus
sastra: Abd Kadir el-Kit, Lewis Iwadl, Anwar al-Ma’dawi, Salah Abd
Sabur, Mahmud al-Sa’dani, dan lain-lain. Diam-diam, Samir yang baru
berumur 16 tahun mengamati keasyikan mereka berdiskusi. Samir ingin
sekali masuk komunitas itu dan berdiskusi.

Tapi, Samir sadar ia
belum punya satu karya pun. Namun, Samir terus menguping pembicaraan
para sastrawan itu tentang sastra Arab dan Barat. Dalam banyak segi,
Samir cukup paham karena banyak membaca sastra Arab dan Barat. Maka,
tekad Samir untuk bergabung pun makin kuat. Samir mulai menulis cerita
pendek dan menerjemahkan beberapa cerpen asing.

Karya pertama
Samir diberi judul Tujuh Mulut. Setelah merasa cukup baik, Samir pergi
ke Dar al-Fikr al-Arabi, penerbit ternama waktu itu. Pemilik Dar
al-Fikir al-Arabi, Abd Munim, jelas tidak mau gegabah menerbitkan karya
orang yang belum terkenal. Munim hanya mau menerbitkan bila karya Samir
diberi pengantar kritikus sastra terkenal waktu itu, Anwar al-Ma’dawi.

Samir
bergegas ke Kafe Abdullah dan menyerahkan karyanya kepada Anwar
al-Ma’dawi untuk dikaji dan diberi pengantar. Anwar terkejut. Pemuda
yang sering dilihatnya memperhatikan pembicaraan sastrawan tersebut
datang membawa karya. Anwar berjanji mempelajari naskah Samir dan akan
memberi pengantar khusus.

Janji Anwar ditepati. Akhirnya, Tujuh
Mulut diterbitkan Dar al-Fikir al-Arabi. Dengan terbitnya karya pertama
tersebut, Samir merasa telah hidup seratus tahun! Sejak itu, Samir
menjadi bagian komunitas sastrawan Kafe Abdullah. Setelah berkali-kali
mengikuti diskusi, dia merasa masih bodoh. Itu membuatnya makin
semangat membaca dan berkarya.

Suatu hari, komunitas Kafe
Abdullah pindah ke Kafe Indiana di Dokki, tidak begitu jauh. Bedanya,
Kafe Abdullah terletak di bundaran Giza yang dikelilingi masyarakat
kelas bawah. Sedangkan Kafe Indiana dikepung masyarakat kelas menengah
dan atas.

Bagi Samir, perpindahan itu berarti perpindahan dunia.
Perpindahan ide dan inspirasi. Masyarakat yang datang membawa
permasalahan berbeda dari kafe satu dengan kafe lain. Letak kafe dan
pengunjung kafe sangat menentukan kehidupan di dalamnya.

Masa
muda Samir berbeda dengan pemuda Mesir lain yang lebih menyukai tempat
hiburan dan bioskop. Samir menghabiskan masa mudanya berdialog dengan
para sastrawan dari kafe ke kafe. Setelah menamatkan S-1 jurusan sastra
Inggris di Universitas Kairo, Samir pun mendapat beasiswa melanjutkan
studi di Amerika Serikat.

Samir terkejut karena ditempatkan di
Universitas Indiana, nama yang sangat familiar dengannya. Perpindahan
hidup kembali dijalani Samir dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana.
Toh, kehidupan Samir di Amerika tidak berubah, banyak dihabiskan
membaca buku di kafe-kafe.

Tidak banyak kesan yang didapat
kecuali dia bisa membaca buku sastra sebanyak-banyaknya. Setelah tamat,
Samir kembali ke Mesir. Tempat yang dia kunjungi lebih dahulu adalah
kafe-kafe yang pernah mempertemukannya dengan para sastrawan Mesir.

Mulailah
Samir Sarhan mengawali kehidupannya seperti semula, berdiskusi, mencari
ide dari kafe ke kafe. Kafe Abdullah di Giza, Kafe Indiana di Dokki,
dan Kafe Riche di bundaran Tal’at Harb. Bagi Samir, kafe adalah
kehidupan itu sendiri. Dari kafe dia merasa banyak belajar tentang
kehidupan dan mendapatkan inspirasi.

Dari tulisan : Mohamad Guntur Romli (Kairo)

sumber : milis ikbal_alamien

Ah, Friendster … ( lagi-lagi berbicara tentang FS )

Tuesday, May 31st, 2005

Tak ayal lagi yang namanya Friendster
sekarang udah jadi tempat mejeng. Baik itu lelaki, perempuan, pria,
wanita bahkan ikhwan dan akhwat pun gak ketinggalan untuk pasang
tampang di situs pertemanan yang sudah mencapai 17 juta pengguna itu.
Sepertinya friendster sudah menjadi sebuah gaya hidup. Tak lengkap
rasanya kalo obrolan satu hari tanpa kata-kata "add gua", "Invite ya",
"Kasih testi dong", "FS lu apaan ?". Dan banyak lagi yang membuat orang
buru-buru ke internet cuma sekedar cek Friendster….

Sebuah
perkembangan yang cukup mengejutkan memang. Orang yang tak kenal sama
sekali dengan internet explorer, sekarang udah jago bahkan tau kalo
setting proxy ie belum kepasang. Seumur-umur tidak pernah dengar yang
namanya Adobe Photoshop, sekarang sudah jago "nge-crop" foto
agar tampak lebih yahud. Kasih efek sana sini agar keliatan canggih.
Sungguh perubahan yang sangat drastis sekali. Kalopun tak mampu
berphotoshop, tentunya teman sejawat dapat orderan meningkat.

Fasilitas
figura foto yang ada pada friendster jadilah sebuah galeri tempat
aktualisasi diri. Berbagai macam pose dan gaya yang berbeda ada disana
dan siapa saja bisa menikmatinya. Terlepas itu foto diri sendiri atau
bukan, yang penting bisa nampang. Akibatnya ? foto box di mall-mall
menjadi tempat antrian bak rumah bersalin. Webcam di warnet jadi
sasaran untuk ambil gambar segera dan seadanya. Bahkan kamera
digitalpun laris manis, karena tak puas dari fotobox yang hanya dua
kali jepret atau webcam yang terkadang buram.

Mungkin scan foto
tidak terlalu laku karena hasilnya kabur berhubung foto udah uzur.
Namun masih banyak juga yang menyematkan hasil scanan karena tak mampu
beli kamera digital atau memang foto paling terbagus cuma satu dan itu
pun dalam bentuk lembaran.
Apapun itu yang dipajang, jadilah fasilitas foto di Friendster menjadi album pribadi kebanggaan.

Ah,
friendster memang tempat ajang nampang gratis dan itulah yang membuat
dia laris. Namun sayang terkadang fasilitas itu tanpa disadari membuat
kita terjebak dalam lingkaran kecanduan. Sepertinya ada yang kurang
kalau satu hari tidak login ke FS ( friendster - red ). Begitu
senangnya menerima testimonial yang notabenenya adalah pujian-pujian
yang terkadang terkesan dipaksakan. Bahkan meminta kepada orang lain
dengan sedikit "memaksa" untuk menulis testimonial tentang dirinya, dan
itu sama saja dengan berkata "pujilah saya !" bukan ?.

Bagi yang
menulis testimonial tentunya tidak enak juga kalau "pujiannya" agak
menyudutkan, mengkritik dan semacamnya tetapi ditulis sedikit lebih
bagus pun tidak pantas karena tidak begitu adanya. Terjadilah
polesan-polesan, dan jangan heran kalau testimonial itu berubah menjadi
tempat menarok slogan-slogan yang tak perlu yang ditulis dengan teks
yang disusun berbentuk gambar seperti "cool", "cute", "happy" dan lain
sebagainya.

Bulletin Board, ah ini dia. Sepanjang mata saya
melihat bulletin board sering beralih fungsi. Semestinya kan menjadi
tempat untuk berbagi informasi, namun gak jarang kalo bulletin board
dijadikan tempat untuk unjuk gigi. Seperti contoh, pertanyaan yang
dibikin sendiri kemudian dijawab sendiri. Siapa yang bakal peduli
dengan pertanyaan : "Hari ini kamu bangun jam berapa ?" kemudian
dijawab "9 pagi". Yang jadi pertanyaan bagi saya, ini apa sih
indikasinya ? gak mutu banget !

Atau mungkin sambung menyambung
kata dari user A trus B kemudian C yang akhirnya menciptakan sebuah
alur cerita yang mengalir dengan ujung pangkal permasalahan yang tak
jelas. Dan yang paling basi adalah surat berantai yang dikirim ke
sekian orang maka harapan terkabul, atau berita bohong yang kalau tidak
dikirim kesekian orang membuat user FS nya hilang … ah sungguh
menunjukkan betapa bodohnya si pengirim pesan tersebut. Tau gak apa
akibatnya dengan hal-hal bodoh seperti itu, inbox message dipenuhi
subjek "FWD Penting !".

Banyak fenomena-fenomena yang tak jelas,
namun walopun demikian FS sudah banyak memberikan konstribusi dalam
hubungan silaturohim. Hubungan saudara yang sempat terputus sekian
lamanya karena kehilangan kontak bisa tersambung kembali setelah
bertemu di FS. FS pun menjadi lahan dakwah baru bagi para aktifis,
dengan mengirimkan tulisan-tulisan dari pikiran sendiri ataupun kopian
dan terasa lebih sedikit mengena.

Pada akhirnya kesemuanya itu
dikembalikan lagi pada sang pengguna, karena pengguna adalah raja dari
apa yang dia pakai. Mau difungsikan sebagai apa fasilitas itu ? anda
dibalik layar monitor lah yang punya jawaban.

# dedicate for my bro & sis yang suka mejeng di FS.

Kolombia Aja Melarang Gosip

Tuesday, May 31st, 2005

Tambah lagi satu negara ( tepatnya salah
satu kota dari negara tersebut ) yang bukan mayoritas muslim
menjalankan apa yang disyariatkan Allah dalam (QS 49:12) yang artinya :

"Orang yang suka menggibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri".

Ghibah
atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?”
Tanya seorang sahabat pada Rasulullah SAW. “Ghibah adalah memberitahu
kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?”
Tanya sahabat lagi. “ Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah
dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu
Hurairah. …

Dan tau kah anda negara mana yang melarang warganya
untuk bergosip ? ya itulah dia Kolombia. WaliKota Icononzo, Ignacio
Jimenez, memberlakukan larangan bergosip atau bergunjing bagi warganya.
Seseorang yang ketahuan bergunjing dijatuhi hukuman berupa denda hingga
hukuman penjara selama empat tahun.

Awalnya saya sih rada tidak
percaya apa yang saya lihat dan perhatikan di berita tengah malam di TV
swasta. Ah, masa sih ? ternyata memang benar adanya demikian. Salah
satu kota di Kolombia sudah memberlakukan peraturan tersebut dengan
alasan, gosip telah menyebabkan kondisi keamanan tidak terkendali.

Bayangkan,
ada warga yang mati terbunuh gara-gara menggosipkan seseorang terlibat
dalam gerakan revolusioner di wilayah tersebut. Selain itu delapan
orang di penjara gara-gara digosipkan sebagai anggota yang sama. Dan
banyak kejadian yang menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil karena
alasan di gosipkan yang tidak benar. Daerah tersebut memang sangat
rawan akan konflik, sedikit saja berita tersebar perang langsung
berkobar.

Sekarang coba kita berkaca ke Indonesia, negara yang
mayoritas masyarakatnya muslim ini, silahkan di survei pada semua warga
yang punya televisi, sangat doyan atau paling tidak tau dengan acara
seputar "gosip" dengan berbagai judul ditayangkan di TV swasta. Apalagi
ibu-ibu dan remaja putri, mereka tidak akan melewatkan begitu saja
acara yang mengumbar gosip tersebut. Apalagi gosip tentang selebritis,
wah itu laris manis bak kacang goreng.

Jam 1/2 4 dini hari saja
anda sudah disodori acara gosip bukan ? sampai subuh nanti … berbagai
macam gosip sudah siap saji. Selesai subuh, ada lagi acara gosip yang
siap anda santap. Siang jam 9, 10, 11, 12 ? gosip lagi. jam 12, 13, 14
ya itu mungkin berita aktual yang membuat anda untuk istirahat sebentar
melemaskan mata untuk persiapan acara gosip jam 15, 16 sore hari. Jam
17 sampe malamnya disediakan jam khusus buat anda menggosip di komplek
perumahan anda. Dan setelah itu anda tentunya butuh istirahat malam
juga setelah puas bergosip seharian.

Ya, begitulah siklus rutin
yang tanpa disadari kita jalani. Tiada hari tanpa gosip. Gosip akan
berhenti kalo mata terpejam. Selain gosip dari TV kita juga sering kali
melihat atau mendengar bahkan pelaku menggosip. Pada saat berbelanja
mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara
arisan atau kumpulan ibu-ibu. Menggibah/menggosip kadang mendapat
pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”.
Padahal di balik itu kurang lebih mungkin lebh banyak faktor ghibahnya
daripada pelajarannya.

Dibalik semua itu pernahkah kita tau
Allah Robbi Izzati mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan
perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa
buruknya tindakan ghibah/gosip.

Jabir bin Abdullah ra.
Meriwayatkan “ Ketika kami bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba tercium
bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai maka Rasul pun bersabda,
“Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang
meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

Dalam hadits lain dikisahkan
bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku
melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga.
Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya
pada Jibril” Siapa mereka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan
daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka
inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” (dari Abu Daud yang berasal
dari Anas bin Malik ra).

Benarkah orang cenderung suka
mengghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Menurut
seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak,
mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama
puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat
suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang
terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak
seperti orang lain atau tidak dirinya saja yang menderita. Karena
umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang
memiliki masalah.

Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia,
tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya
mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk
dosa akibat pergunjingan.

Setiap orang mempunyai harga diri yang
harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada
seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di
hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

Kembali
pada negara yang menjalankan pelarangan ghibah/gossip tadi, apakah kita
tidak merasa malu dengan apa yang mereka berlakukan. Padahal negara
tersebut sangat minim sekali dengan umat islam. Tetapi mereka mengambil
aturan dari Ayat suci Al-Qur’an dan sistem Islam. Sedangkan kita ?
mayoritas penduduk umat Islam dengan jumlah lebih 200 juta jiwa. Malah
doyan dengan hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama Islam,
astaghfirullah.

Wallahualam Bishowab

Digoda Lagi

Tuesday, May 31st, 2005

Kemaren sore saya digoda lagi lho
sama anak kecil. Sampai detik ini saya masih bingung jika mengingat
seringkali ada anak kecil yang suka ngeliatin, trus tersenyum bahkan
tertawa melihat saya. Aneh ya ? saya saja gak habis pikir sampai
sekarang, kok bisa ? apa wajah ini kayak badut ?

Bukan di angkot atau di pusat perbelanjaan tapi ini
sedang mengendarai sepeda motor. Bayangkan, siapa yang bakal
memperhatikan orang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan lebih
kurang 50 km/jam apalagi dari dan tujuan arah yang sama. Tapi ya
begitulah kenyataannya. Begitu jalan beberapa ratus meter melewati
lampu merah di pertigaan Jln Gajayana, saya mengendarai sepeda "sedikit
ngebut". Beberapa saat tiba-tiba dari sebelah kanan saya ada sepeda
motor lain yang dikendarai oleh seorang bapak, dan 2 anaknya yang masih
kecil boncengan di belakang….

Anak yang berada ditengah kira-kira
berumur 4-7 tahun, gak kelihatan persis karena berada ditengah dan pake
jilbab. Sedangkan yang dibelakang, sepertinya kakak yang ditengah
sekitaran kelas 1 SD. Nah, disaat sepeda motor itu menyalip dan berada
didepan saya. Di saat itulah saya sadar yang tengah menoleh kebelakang
memutar kepala sekitar 120 derajat. Melihat saya, trus ketawa.
Sepertinya sejak dari samping tadi dia sudah memperhatikan. Kemudian
dia bilang sama kakaknya, entah apa yang dia katakan dan kakaknya
ikutan menoleh ke arah saya. Kemudian mereka ketawa bareng.

Tentunya
saya kaget dong, apa ada yang salah dengan saya ? tapi seperti biasa
kalo ada anak kecil yang memperhatikan seperti itu, senyum atau ketawa
melihat saya. Saya reflek aja langsung senyum sambil gerakin alis. Tau
gak akibatnya apa ? mereka malah tambah ketawa riang, trus juga mencoba
menggerakan alis mata. Kalo mereka bales seperti itu, saya malah tambah
banyak lagi sambil menggoda meraka dengan memainkan wajah. Namun sayang
belum lagi mereka membalas, bapaknya mengendarai sepeda motor terlalu
ngebut dan terpaksa harus berpisah dengan mereka karena saya juga harus
belok kanan memasuki kampus.

Saya melambaikan tangan kiri sambil
tersenyum melihat mereka jauh. Mereka berdua pun melambaikan tangan
sejenak mereka tak kelihatan lagi karena kehalang oleh angkot dan mobil
pribadi yang melewati jalan itu. Saya memasuki kawasan kampus,
diperjalanan menjelang parkir saya tak habis pikir. Apa sih yang lucu
dari saya ? atau mungkin ada sesuatu di wajah saya ? sambil terus jalan
saya ngacac di spion kelihatannya tak ada yang ganjil atau aneh.

Apa
ini karma kali ya Sa ? soalnya saya dulu sering kalo ada anak kecil
memperhatikan diem, serius (mungkin lagi berpikir "kok ada yang orang
kayak gini" ya ?) walopun gak kenal atau baru ngeliat saya langsung
godain. Saya pasang tampang agar dia bisa tersentum syukur-syukur
ketawa. Dan kebanyakan memang berhasil.
Nah sekarang saya dapat
balasannya. Waktu di sepeda motor itu saya memang lagi memikirkan
skripsi yang belum kelar-kelar. Eh tau nya digodain oleh anak kecil.

Ah,
anak kecil … balita, batita atau apa saja lah istilahnya mereka
memang menghibur. Saya jadi kangen sama Ami yang centil, Yusuf yang
matanya bulet idungnya mancung. Kapan ya saya digelitikin lagi sama Ami
saat lagi baca buku, atau ditarik-tarik sama Yusuf ngajak jalan-jalan ?
duh kangen …

Jejak Yahudi Dewa & Ahmad Dhani

Tuesday, May 24th, 2005

Kritik & Investigasi Oleh : Erros Jafar 22 May 2005 - 2:00 pm

imageKasus
Dewa telah meninggalkan pertanyaan besar, sejak tanggal 2 Mei lalu
seluruh pemberitaan mengenai kelanjutan kasusnya sepertinya masuk
keranjang sampah tepatnya sejak budaya H. Ridwan Saidi melaporkan Dewa
ke Kejaksaan Agung sehubungan temuan beliau bahwa album dewa menyesatkan dan memakai lambang lambang yang dilarang. Padahal masyarakat banyak yang menunggu kelanjutan dari hasil temuan temuan tersebut.
Syukur alhamdulillah, pada edisi Mei 2005, majalah Saksi memuat artikel dan wawancara dengan budayawan H. Ridwan Saidi.

Penjelasan
ini tentu saja sangat penting khususnya bagi H. Ridwan Saidi untuk
menghindari tuduhan "Fitnah" dari group band Dewa.

Sangat menarik untuk kita telaah bersama, salah satu lagu berjudul "SATU" dalam album "Laskar Cinta" versi CD, di bawah lirik lagu ditulis Ahmad Dhani, "THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG", sementara untuk versi Kasetnya bertuliskan "THANKS TO: AL-HALLAZ" yang tak lain adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar

SATU

Aku ini…adalah dirimu
Cinta ini…adalah cintamu
Aku ini…adalah dirimu
Jiwa ini…adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu

Reff :
Tak…ada yang lain..selain dirimu
Yang selalu ku puja…ouo…
Ku…sebut namamu
Disetiap hembusan nafasku
Kusebut namamu…
Kusebut namamu…

Dengan tanganmu…aku menyentuh
Dengan kakimu…aku berjalan
Dengan matamu…ku memandang
Dengan telingamu…ku mendengar
Dengan lidahmu…aku bicara
Dengan hatimu…aku merasa

Reff…Reff…Reff…Reff
"THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG"

Album DEWA 19 (1992)

Di cover depannya ada gambar piramid
yang atasnya disamarkan, tapi jika diperbesar akan tampak ada sesuatu
di puncaknya. Ini mirip dengan lambang gerakan rahasia Zionisme
(Iluminati). Bandingkan dengan gambar piramid Yahudi yang terdapat
dalam lembaran One Dollar AS

Album TERBAIK-TERBAIK (1995)

Terpampang simbol Dewa RA
(Dewa Matahari Dalam Mitologi Mesir Kuno). Dewa Ra diklaim Yahudi
sebagai salah satu dewa mereka. Di Sinagog lambang ini lazim dipajang.

Selain
itu, dalam album yang sama ada pula gambar satu halaman Protocol of
Zions dalam bahasa Ibrani. Ridwan Saidi (pakar Zionisme) yang menguasai
bahasa Ibrani menegaskan, "ini jelas diambil dari satu gambar Protocol
of Zions, karena diatas lembaran itu ada judul dan logo. ini tidak ada
dalam Taurat ataupun Talmud".
Lalu ada simbol lingkaran dengan titik
di tengahnya, dimana personil Dewa berdiri dibawahnya. Simbol ini lazim
dikenal sebagai simbol Mata Setan yang menguasai dunia (evil eye),
sebuah simbol Yahudi. Di bagian lain dalam album yang sama, simbol mata
setan juga dimuat.

Album The Best of Dewa 19 (1999)

Di pinggiran discnya
terdapat simbol panah dan garis lurus yang saling memotong spt salib.
Lambang garis tsb sbenarnya sinar yang aling memotong. Ini salah satu
simbol dari gerakan Freemansonry
Lambang sinar yang saling memotong
ini secara "kreatif" juga terdapat dalam cover kaset bagian dalam dan
depan secara keseluruhan.

Album Bintang Lima (2000)

Gambar sayap lazim dipakai sebagai salah satu simbol gerakan perkumpulan Theosofie Yahudi.

Album Cintailah Cinta (2002)

Cover depan album Dewa ini
memuat secara mencolok simbol Eye of Horus. Horus adalah Dewa Burung
dalam mitologi Mesir Kuno. sama spt Dewa Ra, Yahudi juga mengklaim
Horus merupakan salah satu dewa mereka. Di cover dalam juga terdapat
simbol yang sekilas mirip mata, tapi sebenarnya merupakan contekan
habis salah satu simbol yang terdapat dalam buku The Secret Language of
Symbol yang disarikan dari kitab Yahudi, Taurat. Simbol ini biasa
disebut Femina Geni.

Masih dalam album ini, masih terdapat beberapa simbol-simbol mata, yang merupakan salah satu simbol Gerakan Freemasonry

Album Atas Nama Cinta I & II (2004)

Lambang sayap yang merupakan lambang resmi Dewa dimuat dalam album live ini dengan latar belakang hitan kelam.

Album Laskar Cinta (2005)

Ininlah album ketujuh Dewa yang
akhirnya menjadi batu sandungan dan membuka selubung semua album-album
Dewa sebelumnya yang sarat dengan kampanye simbol & lambang Yahudi.

Selain lambang Allah yang dimuat tidak sebagaimana mestinya, tipologi huruf "Laskar Cinta" pun mengambil dari pola huruf Ibrani

"Pola
huruf tulisan Laskar Cinta diambil dari pola huruf Ibrani," ujar Ridwan
Saidi seraya membuka kitab Taurat berbahasa Ibrani asli dari Israel.

Dibawah
lagu berjudul "Satu" (album Laskar Cinta), berisi ajaran sesat yang
mengatakan ada kesatuan wujud antara Sang Khaliq dengan mahluk-Nya.
Dalam bahasa Syeh Siti Jenar atau Al Hallaj, paham ini disebut
"Manunggal ing kawulo Gusti". Parahnya, ini seakan dibenarkan sendiri
oleh Ahmad Dhani dengan menulis di bawah lirik lagu tsb dalam cover
versi kaset, "THANKS TO: AL-HALLAZ".

Dalam album yang sama versi CD, di bawah lirik lagu "Satu", ditulis Ahmad Dhani, "THANKS TO: SYEKH
LEMAH ABANG", yang tak lain adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar

Siapakah Ahmad Dhani?

DHANI THANKS TO:…. JAN PIETER
FREDERICH KoHLER (THANKS FOR THE GEN). Dhani berterima kasih
kepada:….Jan Pieter Frederich Kohler (Terima kasih atas darah
keturunannya)

Merunut dari silsilah keluarga,
Jan Pieter
Frederich Kohler adalah kakek Dhani (dari pihak Ibu) yang berkebangsaan
Jerman. "Kohler" adalah nama keluarga, sejenis marga. Jadi jelaslah,
Dhani punya kebanggaan akan darah darah keturunannya itu," ujar
pengamat Zionisme H. Ridwan Saidi.

Bisa jadi, sebab itulah dalam
berbagai kesempatan show-termasuk ketika manggung di Trans TV yang
menginjak-injak karpet dengan motif logo Allah yang kontroversial itu,
Ahad (10/4)- Dhani Dewa mengenakan kalung Bintang David, simbol
Zionis-Israel.

Bermula dari kasus kontroversial logo Allah, terkuaklah misteri dibalik (Dhani) Dewa

Dalam album-album Dewa, bertebaran gambar dan simbol-simbol Yahudi.
"Ada apa ini? Dalam album-album selanjutnya Dewa juga banyak memuat logo
dan simbol-simbol Zionis. Ini harus dilacak, ada apa di belakang Dewa?" papar Ridwan Saidi.

Saya
sebagai orang yang telah lama mempelajari Zionisme berani menyatakan
jika ini merupakan usaha penyebaran simbol2 Yahudi terbesar sepanjang
sejarah Indonesia!" tandas Ridwan.

taken by Majalah Saksi Edisi Mei 2005
wallahu’alam

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat (QS. An Nuur (24): 56)

Ambillah
zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’amu
itu menjadi ketentraman hati bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui (QS. At Taubah (9): 103)

Bola bang, Milan …

Sunday, May 15th, 2005

Malam yang tenang, cerah, tidak panas dan
tidak pula dingin mengigil. Damai, sedamai hirupan udara pagi yang
segar bebas dari segala polusi yang diproduksi tengah kota setiap hari.

"Ah … ini saat yang cocok sekali untuk tilawah kali ya"
Begitu pikirnya sambil menatap keluar jendela kamar yang terbuka.
Kemudian dia menuju kamar mandi untuk wudhu, karena barusan saja dia
merasakan sesuatu bau yang khas keluar dari daerah yang dia sendiri gak
tau seperti apa bentuknya sebenarnya. Karena letak yang begitu jauh
dari penglihatan. Seperti halnya dia tidak pernah bisa melihat sendiri
daun telinganya kalau tanpa bantuan cermin….

"Hmm… udah 2 hari
ini aku tak tilawah sama sekali". Gumamnya dalam hati menyiratkan
penyesalan yang meraut wajahnya begitu rupa.

"Kali ini aku harus
tilawah 1 juz sekalian ah, biar target minggu ini kecapai, harus… ya
harus". Raut sesal itu perlahan berganti dengan semangat yang
menggebu-gebu, dia megepalkan tangannya dan menatap tajam kedepan.
Sepertinya tak ada lagi alasan dan hal yang mampu menghadang tekadnya
untuk menyelesaikan 1 juz ayat-ayat suci Alqur’an.

"Oh andainya
2 hari kemaren aku tak sibuk mengurus ini… itu tentunya sekarang aku
sudah melahap juz surat ibrahim ini" Dia kembali bergumam sendiri
sambil membolak-balik mushaf dan mencari halaman terakhir yang dia
baca.

"Aktivis dakwah tuh harus tilawah setidaknya setengah juz perhari … ". Dia semakin mantap.

"Apapun
yang terjadi aktivis dakwah harus selalu konsisten untuk terus membaca
ayat-ayat alqur’an, baik dalam keadaan senang maupun susah". Dia selalu
menyemangati dirinya sambil terus membuka lembar demi lembar
mengingat-ingat dimana terkahir ayat yang dia baca dua hari yang lalu.

"Nah … ini dia." Dengan tersenyum dia memulai menarik nafas yang dalam terlebih dahulu. Kemudian dilepaskan dengan seksama.

"Membaca atau tilawah Al Qur’an itu harus konsentrasi penuh". dia menatap dalam dan mengumpulkan semua konsentrasinya.

"Audzubillahiminasyaitonirrojim…."
Suaranya begitu lepas dan mendayu keluar dari mulutnya begitu juga
wajahnya, matanya terpejam menikmati suaranya yang dia anggap merdu.

"Bang… bang … bang !" tiba-tiba ada suara yang memanggil dirinya dari arah pintau kamar.

Seketika itu juga mataya terbuka, pikiran konsentrasinya terganggu. sambil menatap sinis pada temannya yang bersuara barusan.

"Ugh ! meganggu orang ibadah aja ini anak !" begitu gumamnya dalam hati.

"Apa ?!?" Dia melemparkan wajah kesal.

"Bola bang, Milan … milan dah mulai. Abang ga nonton ?" Temannya memberitahu sambil berharap dia ikutan nonton.

"Ga… nonton aja sana, ga tau orang lagi tilawah apa ?". Dia menjawab sedikit ketus.

"Yakin nih ? ga nyesel ? ntar rugi lho …" temannya berkata sambil ngeluyur pergi.

"Ah dasar, menganggu saja … " dia melanjutkan lagi membuka lembaran mushaf yang belum sempat dibaca barusan.

"Tapi, ini kan pertandingan final … ".

"Aduh gimana ya ?". Dia mulai ragu dan kemudian bangkit jalan mondar-mandir.

"Ah, nanti kan ada siaran ulangnya". kembali dia duduk ditempat semula.

"Tapi
kalo gak ada gimana ? rugi dong ? milan nih … pertandingan yang
ditunggu-tungu". dia menopang dagunya dengan lutut. melihat mushaf yang
dia pegang.

"ah …"

dan tiba-tiba dia membuka lembaran mushaf kemudian…

"Sodaqollohul’adziimmm…."

Tanpa pikir panjang lagi mushaf ditutup ditarok pada tempatny a semula kemudian lansung keluar kamar.

Siapa Sangka ?

Saturday, May 14th, 2005

Sudahlah, kadang-kadang hidup tak bisa
dipikirkan nanti itu bagaimana, namun jelas akhirnya itu sudah pasti.
Apa yang terjadi 1 detik kedepan juga tak bisa ditebak. Siapa sangka
kalo malam ini tanpa pikir panjang aku memencet nomor memanggil dirimu
? Dan siapa juga yang berpikir kalo aku mencerita sebagian apa yang
kita bicarakan waktu itu, tidak ada bukan ?

Siapa juga yang
bakal nyangka kalo aku merasa bahagia juga mendengar sekumpulan suara
yang dibalut dengan penuturan lirih yang keluar dari mulutmu ? Siapapun
juga tak pernah bilang kalo kamu akan menceritakan bahwasanya jadi
pengawas ujian masuk Trans TV kemudian ditawari kerja disana, dan kamu
juga ketemu dengan 2 orang yang aku cintai ?…

Dan tak seorangpun
bilang kalo kamu akan menceritakan keadaan bapak yang udah sembuh
walopun yang aku tau sebelumnya sakit, dan itu juga taunya darimu bukan
? dan siapa yang sebelumnya akan memberitahu itu ?

Dan kamu juga takkan menyangka kalau tulisan ini sudah untuk kesekian kali yang aku susun, dari setumpuk deretan cerita.
Siapa
yang bisa bilang kapan kamu akan tau dengan semua ini ? tidak ada…
yang ada hanya gusti Allah SWT yang akan mengatur dan memeritahukan
semua. Dan apa yang semestinya diketahui untuk masa akan datang takkan
pernah datang sekarang.

Maafkan Aku

Wednesday, May 11th, 2005

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia

menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT
TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di
atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan
menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasaterjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibandingditerapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari
untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, "Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara
kami yang pernah menyakiti hati kami."

Bukankah Rasulullah pernah berkata, "Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu".

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada. Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’ di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu

Humor Ala Ikwah

Wednesday, May 11th, 2005

Ketika Ikhwan Tersenyum :)……
(Kumpulan Anekdot dan Kisah-kisah unik di sekitar aktifis dakwah)

Persembahan
Untuk
semua ikhwan dan akhwat yang mengazamkan dirinya untuk
senantiasaberjalan di atas jalan dakwah ini. Untuk mereka yang
senantiasa berdoa : Ya Allah karuniakanlah kepada kamikeikhlasan,
keistiqomahan, dan keteguhan dalam menempuh jalan ini.

…Pengantar
Salah
satu dari tiga alasan seorang Umar bin Khotob memilih untuk tetapeksis
hidup di dunia ini adalah : Keindahan ukhuwah. Dua yang lainnya
adalahkenikmatan qiyamul lail dan jihad fi sabilillah. Beruntung dan
bersyukurlah bagi setiap kita, para aktifis dakwah, yanghari-harinya di
penuhi dengan keindahan ukhuwah.Keindahan ukhuwah yang sedemikian
agung. Terwujud dari yang paling rendah :salamatus shadr (lapang dada),
sampai pada tahapan tertinggi :itsar.(mendahulukan saudaranya dari diri
sendiri).Adalah sebuah fenomena riil, jika kita lihat kehidupan
sehari-hari paraaktifis dakwah. Maka akan kita temukan sekelompok
manusia, atau sebuahkomunitas yang cenderung lebih ceria, akrab,
energik dan elegan. Jauh darikesan kaku, kolot, galak dan beku !.
Diantara sekian keceriaan dan keakraban itu, muncullah anekdot-anekdot
lucuatau pemaparan kisah-kisah unik yang menghangatkan ukhuwah diantara
mereka.Tulisan ini, adalah kumpulan anekdot dan kisah-kisah unik yang
pernahpenulis dengar, atau penulis alami sendiri dalam masa-masa
interaksi bersamapara aktifis dakwah tersebut.Apapun, harapan agung
penulis menyusun ini adalah untuk menghangatkanukhuwah di antara kita.
Agar kembali ceria wajah-wajah kita. Agar lebihtulus senyum dan sapaan
kita. Agar kita lebih siap menyambutpekerjaan-pekerjaan berat lainnya.
Karena agenda dan proyek-proyek kita,jauh lebih padat dari jatah usia
masing-masing dari kita. Wallahu’alambisshowab.

Selamat menikmati dan selamat meneruskan proyek-proyek dakwah antum!
Khartoum, Mei 2004
Abu Farwah

1.
Bughot di demo Gus Dur Pada pertengahan tahun 2001 yang lalu, Jakarta
kembali dimarakkan olehdemo-demo anti Gus-Dur, baik di Gedung DPR,
Bundaran HI maupun langsung keIstana merdeka. Banyak elemen masyarakat
dan mahasiswa yang bergabung untukturun ke jalan dengan membawa
berbagai nama. Dan semakin hari, aksi turun kejalan ini semakin sering
dengan jumlah yang kian hari kian meningkat.Fenomena seperti ini
meresahkan sebagian kalangan Nadhliyin yang menganggapGus Dur sebagai
perwakilan dan lambang identitas dari NU. Yang terjadikemudian adalah
munculnya wacana bughot (istilah fikih untuk pemberontakanpada
pemerintahan islam yang sah) dari sebagian ulama NU yang dituduhkanpada
mereka yang melakukan aksi demo tersebut. Wacana yang disertai
tuduhanini pun berkembang dimana-mana, dari mulai siaran TV, media
massa sampaidiskusi pembahasan fikih. Oleh para ikhwan, yang memang
paling aktif dalammelakukan demonstrasi ini, tuduhan tersebut dijawab
dengan enteng dengansebuah senyuman," memang kita akui, bahwa sebagian
besar dari kami adalah benar-benarseorang bughot, ya.. Bujangan
berjenggot ! "

2. Pedagang Asongan pun tahu Masih tentang demo
anti Gus Dur, maraknya tuduhan bughot pada parademonstran membuat
banyak masyarakat bertanya-tanya, siapa sebenarnya dandarimana
datangnya para demonstran yang kian hari kian banyak denganberbagai
nama organisasi baru, selain organisasi yang jelas dan sudah lamaeksis
seperti KAMMI dan BEM SI. Tapi kebingungan seperti ini tidak
melandapara pedagang asongan di sekitar bundaran HI dan istana merdeka.
Merekadengan jelas tahu persis siapa dibalik demo-demo ini. Seorang
wartawanmencoba bertanya pada salah satu dari mereka." Anda tahu siapa
sebenarnya dan darimana datangnya para peserta demo ini ?"" Jelas kami
tahu, mereka adalah orang-orang semacam KAMMI dan yang sejenisitulah
pokokmya ..! ""Tapi, darimana anda tahu ? "" Jelas kali, setiap kali
mereka demo kami selalu dilanda kerugian, karenatak satupun dari
peserta demo yang membeli rokok dari kami, dan hal initidak pernah kami
alami, selain di demo yang dilakukan orang-orang KAMMIdan sejenis itu
."" Oooo.. pantesan .."

3. Menentukan Hari DemoDalam situasi
genting dengan perkembangan peta politik yang demikian cepatmembuat
setiap ikhwah harus siap siaga. Kapan pun dan dimanapun adapanggilan,
mereka harus segera berangkat untuk ikut turun ke jalan, bahkanmungkin
dengan persiapan seadanya. Ada cerita, seorang ikhwah semalamansudah
belajar karena ada ujian (kuis) esok harinya, tapi setelah
subuhmendadak ada telpon panggilan demo. Akhirnya ujian pun
ditinggalkan untukmenunaikan tugas tersebut. Inilah susahnya bagi para
perancang demo, untukmenentukan jam dan hari demo yang tepat agar
banyak peserta yang datang danikut Karena jika tidak, jumlah peserta
yang sedikit akan melemahkan semangatpeserta demo dan mengurangi
kekuatan pressure mereka. Ada satu keunikan bahwa di Jakarta demo
paling sering dilakukan hariJumat setelah Jumatan, biasanya kumpul di
Al Azhar. Dan yang paling jarangbahkan tidak pernah dilakukan adalah
pada hari Sabtu. Salah seorangpenggerak demo ditanya masalah ini dan
mengatakan, bahwa pernah dilaksanakanpada hari Sabtu, tapi ternyata
pesertanya sangat sedikit sehingga menjadikurang efektif. Ketika
ditanya ada apa dengan hari sabtu, beliau menjawab," Hari sabtu itu
hari liqo’ nasional, kebanyakan ikhwah kita jadwal’ngajinya’ hari
Sabtu, jadi demo boleh jalan, tapi ngaji juga tetap jalanterus..jangan
sampai terganggu demo.."

4. Lagu-Lagu Demo Masih tentang demo.
Demonstrasi yang dilakukan para ikhwah pertengahan 2001yang lalu memang
agak unik. Dengan alasan pertimbangan keamanan, dalamdemonstrasi para
ikhwah di larang memperlihatkan segala atribut ataupun cirikeikhwahan.
bahkan dianjurkan untuk tampil unik, gaul ataupun sedikitpreman. Maka
jangan heran kalau banyak di temui sosok-sosok ustad yangberpakaian
sporty dan gaul. Dan keunikan pun muncul pada lagu-lagu
yangditampilkan. Kalau biasanya adalah lagu-lagu demo penuh nuansa
perjuangan,maka pada kali ini banyak dipakai lagu-lagu jahiliyah yang
diplesetkan. Adalagunya Zamrud, Sheila On Seven, lagu dangdut sampai
lagu Doraemon pun ikutdiplesetkan. Entah darimana mendadak ikhwah kita
hafal dan fasih dalammelantunkan lagu-lagu seperti ini. Tetapi
masalahnya tidak berhenti di sini.Karena di saat yang sama, sebagaimana
diceritakan oleh salah seorang al akh,bahwa dia pernah menjumpai sebuah
demo tandingan yang dilakukan oleh Forkotdan elemen kiri lainnya.
Ternyata dalam demo tersebut, mereka melantunkan lagu-lagu dengan
nadanasyid-nasyid perjuangan milik Izzatul Islam yang juga diplesetkan
!Benar-benar sebuah gambaran pertarungan yang menyeluruh, sampai lagu
demopun ikut saingan !

5. Sebab KeteganganPeristiwa 11 September
2001 membuat perhatian dunia tertuju pada Amerika danAfghanistan.
Serangan membabi buta yang dilakukan Amerika mengundang reaksikeras
dari seluruh muslim sedunia. Sedikitnya ada 2 negara besar
yaituPakistan dan Indonesia, yang penduduknya merespon dengan
demonstrasi yangbesar-besaran dan tidak henti-hentinya.Di Indonesia,
demonstrasi dilakukanoleh hampir semua elemen muslimin seperti GPI,
FPI, FIS dan tak ketinggalanjuga para ikhwah. Suatu demonstrasi
dilakukan oleh sebagian ikhwah yangtergabung dalam KAMMI pada sekitar
awal Oktober di depan gedung DPR/MPR.Ketegangan pun terjadi karena
tuntutan untuk masuk tidak digubris oleh pihakkeamanan, yang boleh
masuk hanya perwakilan, padahal tentu semua tahu bahwagedung itu adalah
milik rakyat sendiri. Maka sebagian ikhwahpun yang sudahlama tidak
berolahraga pun tergerak untuk menakut-nakuti polisi
denganmenggerak-gerakan pintu masuk. Situasipun semakin panas karena,
polisisabhara pun tak membiarkan mereka masuk. Maka dorong-mendorong
sangat dasyhat pun tak terelakkan, danketegangan pun terjadi dalam
waktu yang cukup lama, namun pintu tetap takterbuka. Sebagian ikhwah
pun terus mencoba berunding, bahwa mereka akanmasuk untuk ambil wudhu
dan sholat Ashar saja, karena waktu ashar sudahtiba. Permintaan seperti
inipun tetap tak digubris, akhirnya dengan nadaputus asa seorang ikhwah
dengan logat betawi berseru lantang, " Susah ..! polisinya kagak
‘ngaji’ sih, jadi kagak bakalan ngerti .cobakalo polisinya ikut ‘ngaji’
..dari tadi pasti pintunya udah dibuka !"Sebagian ikhwah yang ikut
mendengar tersenyum simpul dan membenarkan dalamhati.

6. KAMMI
Ganti Nama Setiap kali Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
berdemo danmelakukan long march, maka yang akan banyak terlihat adalah
barisan putihpanjang yang terdiri dari para ABG ( Akhwat Berjilbab
Gede) , yangdikelilingi oleh sedikit ikhwan sebagai boarders. Dari sini
jelas terlihatbagaimana perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat yang
terlampau mencolok. Danrepotnya hal seperti berlangsung terus di
demo-demo yang lain. Yang akhirnyamembikin ciri khas khusus bagi
demonstrasi yang dilakukan KAMMI, yangseolah-olah menggambarkan bahwa
KAMMI hanya milik para akhwat.Akhirnyamuncul usulan dari para ikhwan
untuk mengganti nama KAMMI menjadi KAMMMI,karena alasannya sesuai
sejarahnya, pertama kali pada jatuhnya orde barutahun 1966 ada yang
namanya KAMI dengan satu huruf M, kemudian disusul padabangkitnya orde
reformasi muncul KAMMI dengan dua huruf M. Maka sesuaiperkembangan
terakhir sekarang dimunculkan KAMMMI dengan tiga huruf M yaituKesatuan
Aksi Mahasiwa Muslim Muslim ah Indonesia.

7. S-2 dan S-3
Maraknya dakwah di Ibukota sangat mengharukan hati. Di kampus-kampus
umum,sekolah dan masjid-masjid perumahan sering diadakan
kegiatan-kegiatan dakwahyang beraneka ragam. Dari mulai ceramah biasa,
diskusi remaja, pemutaranfilm, bedah buku, bazaar sampai ke tabligh
akbar, semuanya semakin menambahmarak kesejukan suasana Ibukota yang
sudah penuh sesak. Semua ini kemudiandiikuti dengan bertambahnya
kebutuhan akan juru dakwah. Tapi kita tidakperlu khawatir, karena
banyak sekali aktivis dakwah kita yang masih muda,baru S-1 ataupun
masih kuliah yang sudah mendapat gelar Phd dan MBA. Dan inibanyak kita
temukan di kampus-kampus. Gelar Phd ini disematkan bagi merekayang
benar-benar ‘Pakar Halaqoh dan Dauroh’, sedangkan MBA untuk
‘MurobbyBanyak Akal !’.Ini di bidang dakwah, kadang ada juga istilah
lain yangdipakai untuk menyindir sampai dimana ‘proses’ seorang ikhwan,
seperti MBAdari ‘Murobby Belum Acc’ , dan MBM dari ‘Murobby Baru
Mencarikan’, ataukalau sudah selesai pros esnya bisa disebut MBM juga,
yaitu ‘Married By Murobby.!’Ada juga gelar yang sudah cukup masyhur di
kalangan aktivis dakwah yang diperuntukkan bagi lulusan Timur Tengah
ataupun LIPIA, yaitu Lc. Tapi gelar Lcini ternyata sekarang banyak
dipakai oleh para aktivis muda kita, tapi yangini berarti ‘Langsung
Ceramah’.Dan kabarnya pula Xanana Gusmao, PresidenTimor Lorosae juga
punya gelar Lc juga, yaitu ‘Lulusan Cipinang’.

8.Berbeda tapi
ternyata sama Seorang Akhi di UNS mendadak harus pulang ke kota
kecilnya di belahan utarapulau Jawa, karena ayahnya dikabarkan masuk
rumahsakit. Sebuah fenomenamemang kalau di sebuah kota kecil yang tidak
ada kampus ternamanya biasanyatidak banyak memiliki stock ikhwan
ataupun akhwat. Tapi di rumah sakit,tepatnya di bagian mushollanya,
pada waktu itu dengan firasat ikhwannyanyaal-akh ini berhasil menemukan
seseorang yang ‘disangkanya’ seorang ikhwanpula. Tapi keraguan itu
membuatnya bertanya dengan malu-malu, "Assalamualaikum wr wb, Langsung
saja Mas.. antum Ikhwan khan ? ". Yangditanya sempat kaget, lalu
tersenyum dan memjawab, " Apa ? bakwan !eh..ikhwan ? Maaf bukan mas,
saya dulu di JT tapi sekarang saya mantep diHT, insya Allah , ". Dengan
agak malu karena sok tahu, akh kita ini mintaijin untuk undur diri
sambil menyalahkan firasat ikhwaniyahnya yang gagalkali ini. Tapi
sebelum ia beranjak, orang tadi memanggilnya kembali," Afwan Akhi, saya
dulu memang di JT tapi ini Jamaah Tarbiyah bukan JamaahTabligh lho..""
Terus kenapa sekarang masuk HT ?"" Iya, dari dulupun saya ikut HT,
Halaqoh Tarbiyah ..!""Oooo..sama semua ya..ternyata"

9. Nama
Lain Ngaji Pada suatu malam Ahad, seorang Akhi yang baru memulai
sejarah dakwahnyapamit pada temannya se kostnya untuk pergi ‘ngapel’ ke
rumah seorang teman.Teman se-kost itu yang kebetulan juga seniornya
sangat khawatir denganaktivitas ‘anak baru’ tersebut. Kemudian dengan
diam-diam ia mengikutilangkah sang Akhi tersebut, yang ternyata masuk
ke dalam seorang rumahustad. Dan setelah ditunggu sekitar dua jam,
akhirnya sang Akhi tersebutkeluar dengan wajah penuh keceriaan. Sang
Senior yang sudah penasaran daritadipun langsung menginterogasinya,"
katanya ngapel, kok di rumah ustad ? "" Ya Mas, yang ini bukan ngapel
pacaran, tapi ngapel singkatan dari ‘ngajipelan-pelan’ alias liqo’
".Begitulah, seseuai dengan situasi dan kondisi di suatu tempat
kadang-kadangdigunakan bahasa lain untuk lebih menyamarkan atau
mengakrabkan aktivitasyang satu ini. Kalau di lingkungan kampus
biasanya dikenal istilah Mentoringatau Asistensi, Di Yayasan Iqro’ club
yang menangani anak-anak STM diJakarta menyebutnya dengan DSL (Dakwah
Sistem Langsung), beberapa ikhwanlain menyebutnya dengan istilah ‘Les
Privat’ ataupun ‘kencan mingguan’,danada juga yang bikin istilah keren
yang sama dengan sebuah paket acaratelevisi di Indosiar yaitu KISS
(Kisah tentang Selebritis), tapi KISS yangini berarti Kajian Islam
Seminggu Sekali, ada juga yang menyebutnya KajianIslam Sabtu sore,
Senin Sore, Selasa Sore, atau Sabtu Siang, .danseterusnya.

10.
Simatupang dan Situmorang Dua dari sepuluh karakteristik ideal seorang
dai adalah ‘Qowiyyul Jismi’ dan’Harisun ala waqtihi’. Idealnya seorang
yang beraktifitas di jalan dakwahmemang harus mempunyai ciri tersebut.
Tapi ada cerita unik, tentang duaorang ikhwan yang kebetulan tinggal
satu kamar di sebuah rumah kost-kostan.Keduanya kuliah di kampus yang
sama, jurusan yang sama, dan kebetulan sama-sama bergabung dalam LDK
(Lembaga Dakwah Kampus ) yang ada di kampusnya.Tapi yang menjadikannya
berbeda adalah dari segi jam terbang dakwahnya.Sebut saja akhi A,
beliau setiap hari hampir jarang ada di kamarnya.Berangkat pagi hari
habis sholat Subuh, kemudian sore pulang sebentar untukngambil sesuatu
dan mandi, kemudian pergi lagi dan pulang sampai larutmalam, itupun
tidak setiap hari beliau pulang. Belum lagi kalo pas harilibur atau
sedang kosong , tiba-tiba ada panggilan dakwah, maka beliaulangsung
pergi lagi walaupun jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Itucerita tentang si A. Lain lagi den gan temen sekamarnya si B, beliau
paling sering kelihatan di rumahnya, ataulebih tepatnya di kamarnya,
atau lebih pasnya lebih sering kelihatantidurnya. Pagi berangkat kuliah
sebagaimana biasa, dan siang pulang kemudiandi rumah terus sampai
esoknya lagi, kecuali satu hari saja untuk ‘aktivitasngaji’ di rumah
seorang ustad. Perbedaan yang sangat frontal ini kononmendapat
perhatian yang cukup serius dari ikhwah lainnya yang tinggalsekontrakan
dengan mereka berdua. Akhirnya, walaupun keduanya bukan daritanah
Batak, mereka sepakat memberi nama marga di belakang nama mereka
yangsatu Simatupang untuk akhi A, yang berarti ‘ Siang-malam tunggu
panggilan’karena aktivitas dakwahnya yang begitu padat. Sedangkan untuk
si Akhi Bdiberi gelar Situmorang, yang berarti ‘ Si ikhwan tukang molor
doang !".

11. JAMES BOND ala ikhwah Sudah menjadi fenomena umum
bagi seorang ikhwah mahasiswa yang kuliah dikota besar semacam Jakarta,
bagaimana sulitnya mencari sebuah kamar kostyang layak pakai fasilitas
lengkap, situasi mendukung untuk dakwah sekaligusnyaman untuk belajar,
deket kampus, dan tentu saja yang paling murah,istilahnya ‘harga
mahasiswa’. Maka beruntunglah, karena ternyata banyakmasjid di Jakarta,
yang juga deket dengan kampus yang menyediakan sebuahtempat khusus bagi
satu dua mahasiswa untuk tinggal di situ sekaligus ikutberpartisipasi
dalam memakmurkan masjid. Maka sebagian dari mereka ada yangmenjadi
petugas muadzin, ada pula yang menjadi imam tetap, ada pula
yangmengajar TPA dan mengisi kajian Ibu-Ibu. Dan alhamdulillah, tidak
jarangkemudian Takmir Masjid memberikan uang kompensasi bulanan sebagai
penggantiwaktu dan jerih payah mereka. Tapi meskipun demikian ada juga
beberapamahasiswa lain yang ikut membantu kebersihan masjid, dan
berfungsi gandasebagai petugas kebersihan masjid atau yang biasa
dikenal dengan istilah marbot. Mereka - mereka yangdisebutkan tadi,
dengan bangga menyebut profesi ini dengan istilah ‘JamesBond’, yang
berarti ‘ Jaga Mesjid dan Kebon’ !

12. Nasyid (1)Sore hari di
sebuah rumah kost para ikhwah di bilangan Jurangmangu,Tangerang.
Suasana yang ada diantara para ikhwah yang sedang bersantaisangat
akrab, sampai tiba-tiba seorang akhi yang baru beberapa hari pindahke
situ, ikut meramaikan suasana dengan bernasyid dari kelompok
SuaraPersaudaraan, Malang. Beberapa bait nasyid disambut atau diikuti
para ikhwahyang lain, namun ketika si Akhi ini sampai pada sebuah bait
di sebuah laguyang ada di album Balada sebuah Dangau , yang berbunyi. "
Kulihat Bunga di taman .Indah warna-warni dan menawan.."Mendadak seisi
rumah pada ramai, sebagian senior ada yang memperingatkanlangsung pada
sang munsyid." Bernasyid boleh akhi, tapi jangan langsung menyebut nama
seseorang dong.bisa timbul fitnah nantinya !"Si anak baru sampai di
sini masih belum menyadari kekeliurannya. Usut punyausut, ternyata di
organisasi remaja Masjid dekat perumahan tersebut adaseorang akhwat
aktivis yang namanya juga memang " Bunga " !.

13. Nasyid ( 2 )
Plesetan dari lagu " Aku Anak Sholeh " nya Harmoni Voice, STT
TelkomBandung. Aku Ingin NikahDengan Mahar MudahTidak susah- susahRukuh
dan Sajadah Istri Solihah..Harta yang berkah..Walau ku sudah
nikah..Tetap berdakwah..

14. Nasyid (3 ) Bait-bait Nasyid yang
didendangkan oleh Munsyid Izzatul Islam mempunyai cirikhas perjuangan
dan semangat yang menyala-menyala. Tapi bukan ikhwah namanyakalau tidak
punya kreasi lain dengan lagu-lagu tersebut. Tentu sajatujuannya untuk
memprovokasi satu sama lain. Lihat saja perbandingan laguasli dan
plesetannya di bawah ini, yang diambil dari album " Kembali "Berkobar
tinggi panaskan bumiMembakar ladang dan rumah kamiDarah syuhada
mengalir suburkan negriTiada kata lagi. kami harus kembali Berkobar
tinggi panaskan hatiDatang tawaran dari murobbyFoto-foto akhwat ada
dihadapan kamiTiada kata lagi..aku pilih yang ini !

15. Taaruf
Unik Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk
menyempurnakanseparuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun
menghubungi ustadnya danmemulai proses dari awal sampai akhirnya tiba
saatnya untuk taaruf, yaitudipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari
dan jam yang telah ditentukan,dengan semangat seorang aktivis, beliau
datang tepat waktu di sebuah tempatyang telah di janjikan ustad. Taaruf
pun dimulai, sang akhi duduk disebelahmurobby, sementara agak jauh di
depannya sang akhwat di temani murobbiyahnyadengan posisi duduk
menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelahsekian lama
berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan padamad’unya
yang malu-malu ini," Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah
mantap apa belum .?"" Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya
yang sebelah kiri itukhan ? "Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak
kemerahan. " Eh..gimanaantum ! yang itu istri saya !"

16. Belum
Menikah Memang susah jadi ikhwan bujangan, pasti banyak sindiran dan
provokasi yangdatang setiap saat untuk segera menyempurnakan separuh
dien ini. Apalagijika ia juga berprofesi sebagai seorang murobbi, maka
setiap pertemuanmingguan pasti ada sindiran-sindiran kecil dari para
mad’unya yang rata-ratajuga belum menikah. Sebenarnya sang murobbi ini
nggak enak dan takut jugakalau status bujangannya ini menghalangi anak
buahnya untuk segera menikah.Akhirnya pada suatu kesempatan mingguan,
setelah sekian lama para mad’unyamenanyakan masalah yang satu itu, sang
murobbipun berpesan singkat dihadapan para ikwah di hadapannya," Ikhwan
sekalian, untuk masalah pernikahan.. jangan jadikan status anasebagai
penghalang kalian menikah, cukup jadikan saja saya sebagai contohatau
tauladan ..! "Para ikhwan yang mendengar pun terbengong-bengong
keheranan.

17. Kriteria ( 1 ) Seorang Akhi muda yang baru lulus
S-2 di luar negri ditanya oleh ustadnyamengenai kriteria akhwat yang
diinginkannya. Maka dengan segala idealismesebagai seorang Ikhwan,
mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskanhampir lebih dari
sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnyatersebut.
Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari
yangpertama dia harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku
Sunda,berkacamata, lulus dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan
demikianseterusnya. Setelah diproses oleh sang ustad, akhirnya ia
diberitahu bahwatidak ada akhwat yang bisa sesuai dengan 10 syarat
tesebut. Kemudian sangIkhwan mengurangi kriterianya menjadi 9, setelah
diproses sekian mingguternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan
mengurangi satu lagi darikriterianya menjadi delapan. Dan setelah
ditunggu sekian lama hasilnya tetapnihil karena terlau ideal kata
ustadnya. Dan demikian seterusnya setiap kaligagal sang ikhwan
mengurangi satu k riteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun
sang Ikhwan akhirnyamenemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah
kriterianya tinggal satu !

18. Kriteria ( 2 ) Seorang Akhi
ditanya sang Murobby tentang kriteria seorang akhwat yangdiinginkannya.
Setelah beberapa saat berpikir, sang Akhi menjawab denganmalu-malu,"
Yang pertama Ustad, dia harus seorang yang cukup cantik.""
Astaghfirullah Akhi, bukannya Rasulullah menyuruh kita untuk
mengutamakanagamanya dulu ? "" Yang itu sih bukan masalah ustad ? ""
Bukan masalah bagaimana akhi, ada hadist nya lho .."" Khan yang namanya
akhwat pasti berjilbab gede, berarti semuanya kitaanggap sudah punya
pemahaman agama yang cukup baik, sekarang tinggalkriteria selanjutnya
yaitu yang cantik "" Antum bisa aja cari alasan !"

19. Kriteria
(3) Lagi-lagi seorang Ikhwah diinterogarsi oleh murobbinya tentang
calon akhwatyang diinginkannya. Ikhwan yang satu ini tampaknya sudah
kena blacklist samamurobbinya karena selalu menolak memberi kriteria
ketika ditanya." Akhi, ini yang terakhir kalinya, kira-kira seperti apa
akhwat yang antuminginkan menjadi pendamping antum dalam berdakwah" "
Sudah deh ustad, ane nggak banyak minta, yang asal-asalan aja "Sang
Murobbi pun bengong dibuatnya," Asal-asalan bagaimana maksud antum
?Antum kan punya hak untuk mengajukan kriteria."" Maksud ane, asal
sholihah, asal cantik, asal kaya, asal hafal Qur’an, asalpintar, dan
asal-asalan yang lainnya ."" Pantes saja antum nggak nikah-nikah !"

20.
Banyak Amanah Ini cerita lagi tentang seorang akhi dan berbagai
permasalahannya. Ikhwanyang satu ini memang dikenal dalam kelompoknya
sebagai seorang aktivis kelasberat di kampusnya. Namanya pun tercatat
hampir di setiap strukturorganisasi intra atau ekstra kampus yang
kredibel baik yang umum maupun yangberbau dakwah. Dan mungkin juga
karena kesibukannya tersebut beliau belumberani untuk menyempurnakan
separuh diennya walaupun sudah beberapa kali ditawari oleh sang ustad.
Dan suatu kali akhi kita ini datang terlambat dalampertemuan rutin
mingguannya di rumah ustad, suatu hal yang jarang terjadikarena sang
akhi termasuk yang selalu " harisun ‘ala waqtihi " . SangUstadpun
bertanya penuh selidik," Baru kali ini antum terlambat, ada masalah apa
di kampus, atau di DPCmungkin ? "" Ah enggak ustad, afwan nih, biasa
anak-anak LDK bikin dauroh rekrument dantadi habis Ashar ane diamanahi
untuk ngisi , dan afwan juga ustad, nantimungkin ane izin pulang lebih
dulu, karena ada amanah juga ngisi anak-anakRemas di dekat kost ane.""
Akhi, antum tahu nggak kelemahan antum selama ini..?"" Enggak tahu
Ustad"" Antum ini terlalu punya banyak amanah tapi tidak satupun
‘Aminah’ yangantum punya, jadinya ya seperti itu lah.."Al Akh yang satu
inipun tertunduk tersipu-sipu, sudah bujangan diledeklagi. Sementara
para ikhwan yang lain yang semuanya sudah berkeluarga,tertawa ringan
penuh kemenangan.

21. Poligami Seorang Akhi baru saja
melangsungkan pernikahan dakwahnya dengan seorangakhwat yang sama-sama
berjiwa aktivis pula. Minggu-minggu awal pun dilaluidengan penuh ceria,
Qiyamul-lail berjamaah, baca Al-Ma’tsurat sama-sama,tabligh akbar
bersama bahkan sampai demo dan longmarch pun dilakukansama-sama. Suatu
ketika setelah pulang dari suatu acara seminar bertemakanPoligami,
pasangan ini terlibat dalam pembicaraan serius," Bagaimana Mi, pendapat
Ummi tentang poligami secara umum "" Abi, secara umum poligami tidak
ada nilai buruknya sebagaimana yangdigemborkan banyak orang, bahkan itu
merupakan solusi satu-satunya lho."" solusi bagaimana maksud Ummi ?""
Maksudnya, coba deh abi lihat, berapa perbandingan jumlah ikhwan
danakhwat, di Jakarta aja lebih dari 1 : 7, kalau semuanya dapat
satu-satu,maka bagaimana nasib yang tiga lainnya ? "" Kalo Ummi sudah
paham, bagaimana kalo kita yang memulai ?"" Maksud Abi bagaimana ? ""
Abi mau poligami, tapi yang cariin calonnya ummi saja ya."" Apaa..! abi
mau poligami ? "" Ya dong, khan Ummi sendiri yang bilang tadi, ingat
ini juga sunnah NabiMuhammad SAW lho.."" Wah ! kalo begitu abi salah
menafsirkan Siroh Nabawiyah, khan Rasulberpoligami setelah istri
pertamanya Kahdijah ra, meninggal.Nah ! Jadi abi boleh menikah poligami
sampai empat pun boleh, asal setelahUmmi, istri pertama Abi ini,
meninggal, OK ?"" Ini pasti Murobbiyah ya yang ngajari..?"Sang istri
tersenyum manja penuh kemenangan

22. Fatwa Menikah Suatu sore di
akhir Ramadhan, beberapa orang ikhwah tampak sedangbercengkrama di
teras masjid Baitul Hikmah, Cilandak sambil menunggu waktuberbuka
puasa. Mereka semua adalah para peserta I’tikaf Ramadhan yang
datangdari tempat yang berbeda-beda. Dan mereka kini terlibat
pembicaraan seriustentang kegiatan dakwah di kampusnya masing-masing.
Beberapa saat kemudiandatang seorang Ikhwah dengan tergesa-gesa,
membawa suatu kabar." Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah
dengar belum ada fatwaterbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi
lho !"Dengan serempak mereka menjawab," Waalaikum salam, fatwa terbaru
tentang apa akhi ? "" Tentang Menikah !"" Menikah ? apa saja isi fatwa
tersebut ? "" Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang
seorang Ikhwantidak boleh menikah dengan akhwat satu kampus." Semua
ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu
samayang lain." Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar’i ?"" Kok
bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses,
langsungdibatalkan ya .."" Ane kira ini untuk kepentingan perluasan
dakwah juga .."" Kalau ane sih milih sami’na wa atho’na saja.."Setelah
beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sangAkhi
yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan,"
Tenang Akhi.., fatwa tersebut memang harus di dukung dan ada dalilnya
kok,bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya
sampaidengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah
mau menikahdengan ‘akhwat satu kampus’ yang jumlahnya ratusan ..!"

23.
Kartu Undangan Walimah Pernikahan para aktivis dakwah memang selalu
unik, banyak kisah dan ibrohyang kita dapatkan. Semuanya menjadi hal
yang selalu diperbincangkan olehmasyarakat awam. Dari mulai hijab dan
pemisahan tempat duduk para tamuundangan, nasyid yang disajikan, sampai
disembunyikannya pengantinperempuan. Hal-hal seperti itu kadang
membikin banyak pertanyaan besar dipandangan masyarakat awam, bahkan
ada yang sampai menuduh sebagai IslamJamaah, Islam fundamentalis,
Aliran baru dan lain sebagainya. Sampaiakhirnya ada juga Ikhwah yang
kreatif dengan menuliskan pesan singkat diKartu Undangan Walimah untuk
mengantisipasi hal ini. Mungkin di KartuUndangan Resepsi yang umum
sering kita temui tulisan sebagai berikut :" Dengan tidak mengurangi
rasa hormat kami, alangkah baiknya jika tali asihatau cinderamata yang
akan diberikan tidak dalam bentuk barang."Maka di Kartu Undangan
Walimah ala Ikhwan dibuat sedikit perubahan untukantisipasi hal-hal
yang tidak diinginkan, seperti berikut : " Dengan tidak mengurangi rasa
hormat kami, Resepsi Pernikahan ini akandilaksanakan sesuai Adab Islam
dengan pemisahan tempat duduk antara tamupria dan wanita."

24.
Perbandingan Jumlah Setiap kali tema Poligami dibicarakan, pasti
dihubungkan dengan perbandinganjumlah kader ikhwan dan akhwat. Masalah
keterpautan yang cukup jauh inimemang cenderung mengkhawatirkan banyak
kalangan. Dan juga perbandingan disuatu daerah tidak sama dengan daerah
yang lain. Di Jakarta ada yangmengatakan 1:7, sumber lain menyebutkan
angka 1 : 13 , sementara di Solo,Malang dan kota-kota mahasiswa yang
lainnya pun menyebutkan angkaperbandingan yang hampir sama. Akan tetapi
di daerah pinggiran ataupun luarjawa yang terjadi mungkin sebaliknya,
jumlah ikhwan lebih banyak dari jumlahakhwatnya. Memang secara realita
dapat kita lihat secara jelas ketika adaacara aksi-aksi demo dan lain
sebagainya, bahwa jumlah peserta akhwat pasticenderung lebih banyak,
bahkan kadang mencolok. Tapi realita seperti inikadang masih bisa
dibantah. Salah seorang ikhwan kita mencoba menganalisahal ini dengan
lebih obyektif," Adalah suatu kekeliruan ketika kita melebih-lebihkan
perbandingan jumlahkader ikhwan dan akhwat, hanya dengan melihat
sekilas dalam suatuacara-acara demonstrasi dan sebagainya. Banyak
perhitungan yang mengatakanjumlah akhwat jauh lebih banyak karena
secara performance, sosok akhwatmemang lebih mudah dihitung dan
dideteksi dengan melihat ‘JilbabPanjangnya’, dan deteksi ini tidak
berlaku bagi kalangan ikhwan. Kalau kitamenghitung jumlah ikhwan hanya
dengan melihat baju taqwanya, atau jenggottipisnya, maka kita hanya
akan mendapatkan jumlah yang sangat kecil.Performance seorang ikhwan
tidak bisa dibatasi dengan baju taqwa dan jenggotsaja. Berapa banyak
sosok ikhwan yang kita kenal adalah orang-orang yangberpenampilan
paling sporty, paling modis, funky dan ada juga yang berambutpanjang.
Kalau saja kita menggunakan hitungan dengan memperhatikan sisi
yanglebih luas seperti ini, kemungkinan besar akan kita dapatkan
perbandinganjumlah yang lebih seimbang antara ikhwa n dan akhwat !!! "

25.
Gang Jenggot Kawasan Bangka, Mampang Jakarta Selatan banyak disebut
sebagai kawasanharokah . Adalah Yayasan AlHikmah, yang disebut oleh
Majalah SuaraHidayatulah sebagai ‘Pusat Inkubasi Aktifis Harakah’ yang
selama inimenarik minat para ikhwan dan akhwat dari seluruh penjuru
nusantara untukmenuntut ilmu dan bermukim di sekitar situ. Berbagai
program diselenggarakanoleh Yayasan ini, dari mulai Tahfidz, Tahsin,
PBAT sampai Kuliah DirasatIslamiyah khusus untuk para akhwat. Mungkin
itu semua yang menyebabkanhampir setiap hari jalan-jalan di kawasan
tersebut di penuhi olehkawanan-kawanan PJM* atau para ABG**. Salah satu
jalan yang paling strategisdan paling sering dilewati oleh para ikhwah
kita adalah Jalan Bangka V, yangmempunyai banyak sejarah dan
cerita…Sore itu metromini no 77 dari Blok M menuju Ragunan tampak
berjalanpelan-pelan penuh dengan penumpang yang beberapa diantaranya
adalah paraikhwan dan akhwat yang hendak menuju kawasan AlHikmah.
Seorang mahasiswaikhwan lengkap dengan atributnya (baju koko, jenggot
tipis dan tas punggung)tampak sedang khusyuk bergelantungan di samping
pintu. Sang Kondektur pundatang menagih ongkos. Kemudian dikeluarkanlah
dari sakunya satu lembarlimaratusan,.." Apa-apaan ini ? kok Cuma lima
ratusan!", protes sang Kondektur." Biasa Mang, Mahasiswa.", sahut sang
Akhi dengan senyum kalemnya." Mahasiswa kok berjenggot ! mana ada !",
protes sang kondektur kesal. Akhikita ini memilih diam saja. Ia masih
berdiri di dekat pintu, dan berdiridisampingnya sang Kondetur dengan
wajah penuh dendam. Metromini itupun terus berjalan menuju arah Kemang,
sampai setelah dekatjalan Bangka V, Sang Kondektur yang sudah hapal
bahwa sang MahasiswaBerjenggot akan turun di sana, berseru lantang.."
Ya..kiri.. gang jenggot.., gang jenggot, gang jenggot..kiri.."Dan sejak
saat itu Jalan Bangka V punya nama lain yang unik, gang jenggot !.* =
Persatuan Jenggot Melambai**= Akhwat Berjilbab Gede

26.
Menundukkan Pandangan Masih cerita di sekitar kawasan AlHikmah, Jakarta
Selatan. Suatu soremenjelang maghrib, hujan baru saja berhenti dan
cuaca masih agak mendung.Jalan dan selokan di kawasan tersebutpun masih
tergenang oleh air SeorangAkhwat berjalan sendirian menuju jalan Bangka
Raya, beliau baru saja pulangdari kursus bahasa arab di PBAT. Sementara
beliau berjalan, dari arah yangberlawanan muncul seorang ikhwan yang
juga hendak menuju masjid Al-Hikmahuntuk kursus di PBAT. Sebagaimana
biasa, yang sudah merupakaan ciritersendiri bagi seorang akhwat, ketika
berpapasan dengan seorang ikhwanseolah-olah bagaikan bertemu dengan
seekor harimau yang siap menerkamnya.Maka mulailah sang Akhwat
menundukkan pandangannya, berjalan menepi ke arahkiri dengan cepat
untuk menghindari jarak radiasi dengan sang ikhwan. Namunmungkin karena
kurang hati-hati dalam melangkah dan tidak sadar, sang akhwattercebur
dan jatuh di sebuah selokan yang penuh dengan air. Karena tidakbanyak
orang yang ada pada wakt u itu, akhirnya dengan menggunakan tali yang
ada pada tasnya, terpaksa siIkhwan ikut membantunya keluar dari selokan
tersebut. Dan sang akhwat harusberterima kasih pada ‘Harimau’ yang tadi
ditakutinya itu.

27. Wasiat Tambahan Imam Syahid Percepatan dan
perluasan dakwah yang melanda Indonesia sejak 4 tahunterakhir ini
menimbulkan banyak perubahan dan tuntutan-tuntutan bagi seorangdai.
Pekerjaan-pekerjaan dakwah yang kian beragam mulai menjangkau
semuawilayah dakwah, dari mulai pendidikan, ekonomi sampai politik. Dan
semua itumelahirkan konsekuensi bagi seorang dai untuk mampu mengatur
waktunya yangterasa kian sempit dipenuhi beban-beban dakwah. Ada
kalanya seorang aktifisharus pergi pagi dan pulang sampai larut malam
untuk sebuah kegiatandakwah.Fenomena yang terjadi kemudian adalah
banyaknya aktifis dakwah kitayang merubah atau mengganti jam tidurnya.
Sebagian dari ikhwah kitapunterpaksa terbiasa tidur setelah sholat
Subuh, sebelum memulai pekerjaanbarunya. Dan ini bisa merupakan masalah
besar ketika menjadi sebuahkebiasaan bagi seorang aktifis. Akhirnya
dari kenyataan tersebut munculsebuah anekdot yang pernah dilontarkan
seorang ikhwan," Kalau saja Imam Syahid mengetahui keadaan ikhwah kita
sekarang, mungkinbeliau akan menambahkan sebuah wasiat lagi dalam
sepuluh wasiatnya yangterdahulu, yaitu wasiat untuk tidak tidur lagi
setelah sholat Shubuh !"

28. Ustad Kiri Ustad Kanan Istilah
‘kiri’ biasa diartikan pada hal yang berbau marxis, Lenin danbeberapa
tokoh komunis, sosialis lainnya. Tapi dikalangan ikhwah sendiri,istilah
ini bukan barang asing. Sampai untuk istilah ustad pun mengenalustad
kanan dan ustad kiri. Disebut ustad kanan bukan berarti karena
iaseorang fundamentalis atau bergaris keras, sebaliknya juga disebut
ustadkiri bukan karena ia pro sosialis yang revolusioner. Sebutan ini
melainkanhanya untuk membedakan latar belakang studi atau ilmu yang
digelutinya.’Ustad kiri’ buat para aktivis atau dai yang kalau membaca
buku dari hurufpaling kiri terus ke kanan alias buku-buku berhuruf
latin dan berbahasaIndonesia berari berlatarbelakang ilmu umum,
sedangkan sebaliknya sebutan’Ustad Kanan’ untuk para ustad yang membaca
bukunya dari kanan ke kiri,alias buku-buku berbahasa arab, yaitu yg
berlatar belakang ilmu syariah !

29. Empat Perempat KAMMI Sebuah
acara dialog yang diselenggarakan sebuah kampus di bilangan
JakartaSelatan menghadirkan pembicara seorang Ketua Umum KAMMI pada
waktu itu.Peserta yang kebanyakan para ikhwan dan akhwat dari kalangan
mahasiswamendengarkan dengan antusias dan bersemangat. Pada sesion
tanya jawab punbermunculan banyak soal yang kritis menanyakan posisi
dan independensi KAMMIsebagai organisasi mahasiswa yang netral. Seorang
Akhwat berdiri dan denganantusias bertanya kepada sang ketua KAMMI yang
dari tadi teguh menyatakanbahwa KAMMI tidak berafiliasi pada salah satu
ormas ataupun partai tertentu." Anda bisa saja menyatakan bahwa KAMMI
adalah organisasi mahasiswa ygindependen, netral dan tidak berafiliasi
pada salah satu ormas atau partaitertentu, tapi semua orang pun tahu
bahwa kenyataan di lapangan mengatakanbahwa hampir sekitar tiga
perempat anggota KAMMI adalah anggota & simpatisansebuah partai
dakwah, sekali lagi tiga perempat bung ! bgmn mungkin andamasih
mengatakan kenetralan KAMMI dari elit politik ? ", tanya Akhwattersebut
dengan cepat dan kritis. Mendengar pertanyaan dan pernyataanseperti
ini, sang Ketua KAMMI tersenyum tenang dan -setelah dipersilahkanoleh
moderator- iapun menjawab," pernyataan anda salah, dari mana anda
mendapatkan angka bahwa tigaperempatdari anggota KAMMI adalah
simpatisan & anggota sebuah partai dakwah ? kamiingin mengoreksi
bahwa yang benar sesuai catatan kami adalah bukan tigaperempat,
melainkan empatperempat ..alias seratus persennya ..! "

30.
Mendukung Poligami Suatu ketika di sebuah resepsi pernikahan aktivis
dakwah. Sebagaimana biasa, kedua mempelai belum banyak mengenal pribadi
masing- masing pasangannya.Hal inilah yg kemudian menjadi incaran sang
pembawa acara untuk dijadikanbahan ‘game’ sebagai hiburan bagi para
hadirin. Tentu saja ini tidak sekedargame yang kosong tanpa makna,
namun juga mengandung pesan dakwah kepada parahadirin. Sang mempelai
pria duduk tenang di singgasananya sendirian. Dan agakjauh dibalik
hijab disampingnya duduklah pasangan putrinya. Akhi pembawaacara mulai
mengomando jalannya game tersebut. Aturannya, sang mempelaiputra akan
ditanya tentang sesuatu dan jika jawaban tersebut benar menurutmempelai
putri, maka sang mempelai putri akan menabuh gendang satu kali.
Dangendang akan ditabuh dua kali jika jawaban dianggap salah. Tentu
saja halini ditujukan untuk menguji sejauh mana kekompakan kedua
mempelai. Beberapapertanyaan diajukan, dan jawaban dari mempelai pria
selalu dibenarkan olehpasangannya, Sampai suatu ketika pembawa acara
memberi pertanyaan ygberbunyi :" Apa pendapat istri anda tentang sunah
Rasulullah yg bernama poligami,mendukung atau menentang ?"Sang mempelai
pria pun dengan mantap dan tenang menjawab, " mendukung !"Tidak ada
jawaban dari pihak mempelai putri. Yang ada malahan sedikitkeributan di
barisan hadirin putri. Namun alhamdulillah beberapa saatkemudian
terdengarlah tabuhan gendang sebanyak satu kali pertanda mempelaiputri
pun setuju dan mendukung poligami. Para hadirin yg kebanyakan
paraikhwah pun lega dan bertakbir dengan mantap. Sesampainya di rumah,
seolah tak percaya sang suami pun menanyakankembali tentang dukungan
istrinya tadi," Bener nih mi, mendukung poligami ?"" wah, abi kurang
yakin ya..? poligami sebagai sunah Rasul jelas harus kitadukung bi,
tapi kalo abi yg mau poligami, itu jelas urusan lain bi.., enggakrela
lah ! ". Sang istripun tersenyum manja penuh kemenangan.

31.
Makan dan Kerja Seorang ikhwah sedang dalam proses menuju pernikahan.
Kali ini ia diundangoleh orangtua si akhwat - yang telah dikhitbah
olehnya beberapa harisebelumnya - untuk makan siang bersama di rumah
sang Bapak. Sang mahasiswasempat keder dan berusaha menolak undangan
tersebut dengan berbagai macamalasan acara dan aktivitas. Namun
alhamdulillah, sang ikhwah nampaknyatidak diundang sendirian, melainkan
bersama keluarganya. Tiba saatnya makan siang, kedua keluarga telah
siap di depan mejamakan. Sang Akhwat tak nampak di antara yang hadir,
mungkin aktivitas dapurlebih menarik dan lebih ‘aman’ baginya. Sang
Bapak pemilik rumah menawarkanpada pada para tamu untu segera memulai
menikmati hidangan. Dan mulailahpara tamu mengambil hidangan secara
bergantian, dan menikmatinya. Adalahsudah menjadi gambaran umum bagi
seorang ikhwah untuk selalu ‘itqon’ dalamsetiap aktivitasnya. Demikian
juga akhi kita tersebut, sebagaimana sudahmenjadi ‘fitrah’ dan
kebiasaannya di kost-kostannya yang dulu, ia pun makandengan lahap dan
cepat, jauh meninggalkan para hadirin yang lain. Bagi paraikhwah, hal
tersebut adalah wajar dan manusiawi. Tapi bagi seorang calonmertua ?.
Benar juga, sang calon mertua agak terkejut dengan aktivitas makancalon
menantunya tersebut. Mungkin ia berpikir, " kok ustad makannya banyakya
? ". Keterkejutan ini berdampak pada perubahan wajah dan
pandanganmatanya. Keterkej utan tersebut tampaknya diketahui oleh Bapak
sang Akhi, dan membuat beliaumenjadi agak malu juga. Akhirnya sang
Bapak Pemilik rumah tak bisamenyembunyikan keheranannya, dan berkata
menyindir," Wah .., Nak Budi makannya lahap juga ya .? ".Sang Akhi
sempat kaget juga menyadari sindiran tersebut, demikian jugaBapaknya
yang merasa ikut tersindir. Suasana seketika berubah menjadi serbakikuk
dan canggung. Namun Akhi kita ini sudah terbiasa berhadapan
dengansituasi seperti itu. Untuk memecahkan kebekuan singkat tersebut,
dengancepat ia menjawab secara yakin ," Iya Pak, kalau untuk makan saja
nggak semangat, gimana nanti kerjanya .?"Suasana menjadi hidup kembali,
nampaknya semua sepakat dengan jawaban calonmenantu tersebut. Kalau
untuk makan - yang nota bene nikmat dan mudah- sajakita nggak semangat
atau malas, bagaimana kalau kita dihadapkan pada sebuahpekerjaan atau
aktivitas dakwah yang berat ?

32. Strategi Dakwah Jalanan kota
Jakarta siang itu, seperti biasa, macet. Bus P 4jurusan BlokM - Pulau
Gadung penuh dengan penumpang.Bus itu penuh penumpang,sebagian
diantaranya berdiri menggantung lengan. Bus merambat pelan seolahmasih
menyimpan banyak fasilitas tempat duduk yang kosong. Satu demi
satuartis jalanan mulai unjuk gigi. Menghias panas terik mentari
denganlagu-lagu bertemakan sosial dan kemasyarakatan. Kadang di hiasai
sindiranala politikus, tapi kadang dinodai oleh lirik-lirik sendu yang
kurang pantasdilantunkan. Ada yang aneh terlihat. Seorang bapak-seperti
dari Madura- setengahbaya memakai batik, peci, dan sarung - khas
pendatang baru- duduk di tepijendela dengan tenang. Tetapi yang membuat
semua penumpang terheran, bapakitu asyik menjulurkan tangannya ke luar
jendela. Bukan sekali dua kali, tapimalah terus-terusan tanpa beban.
Sementara penumpang lain mulai berteriakmemberi peringatan." Pak,
Hati-hati.. tangan bapak dimasukkan bisa patah kena mobil nanti ."seru
seorang ibu yang duduk di sebelahnya." Pak, kemarin ada peristiwa
seperti itu. Tangan seorang kakek lepas saatterjulur keluar dan
tersangkut pohon di tepi jalan..hi..ngeri." seoranglainnya ikut
menakut-nakuti.Pak Kondektur pun tak tinggal diam. Tampaknya
kesabarannya sudah menipis ,aksen batak pun menambah ketegangan." Bah,
ini orang tak tahu di untung, kalo tak lepas itu tangan, matilah kau."
Tapi sang Bapak tak bergeming sedikitpun. Tangannya masih asyikterjulur
dan mengayun-ayun di luar jendela. Sorot matanya yang lugu punterkesan
percaya diri. Seolah ia tahu apa yang dilakukan dan apa
akibatnya.Sebenarnya apa yang ada di benak Bapak tersebut ? Seorang
ikhwan yang bergelantung agak jauh dari bapak tersebutsegera bereaksi.
Setelah mengamati gerak-gerik, sorot mata, dan mimik wajahtersebut,
sang akhi ikut memperingatkan sang Bapak. Tapi peringatan ini laindari
seruan-seruan sebelumnya.Dengan santun sang akhi berteriak ," Maaf Pak,
kalau tangan bapak nggak di masukkan, nanti sayang lho kalo kenapohon,
bisa hancur dan rusak pohonnya. Apalagi kalo kena tiang listrik,
wahnanti tiangnya patah seluruh kota bisa padam listriknya Pak. Jadi
saya usuldimasukkin saja pak tangannya, biar nggak terjadi kerusakan
nantinya…. " Mendengar usulan sang akhi tersebut, sang Bapak tampak
tersenyum. Iapaham betul dengan peringatan tersebut. Nampaknya ia
sepakat dengan sangakhi. Ia tidak ingin pohon-pohon dan tiang itu rusak
karena ulah tangannya.Makanya dengan cepat ia tarik tangannya ke dalam
bus kembali. Selesaipersolan semua penumpang menjadi lega. Sebagian
lain tersenyum sambilberbisik-bisik menduga-duga. "Oooo..ternyata Bapak
ini dari tadi percaya diri karena yakin dengankesaktian tangannya
tooo.. Alah-alaaaaaaaah., untung tadi nggak jadi nabrakpohon" Dalam
berdakwah, kita juga harus tahu bahasa yang terbaik bagisetiap orang
tentu berbeda, sesuai dengan latar belakang objek dakwahmasing-masing.
Bukan sekedar bahasa dakwah, tapi bahasa dakwah yang terbaik.Akh kita
tadi, telah memberi contoh yang sedemikian nyata. Bisakah andabayangkan
jika tangan sakti sang Bapak terbentur sebuah pohon besar ?

33.
Masih mau Sekolah Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1
nya menghubungi sangMurobby. Apalagi kalau bukan untuk meminta sang
ustad mencarikan jodohterbaik baginya. Tentu saja sang akhi ini tidak
sekedar ingin menikah, tapijuga siap menikah. Lho, apa bedanya ?. Ingin
menikah bagi seorang akhi cenderung bersifat objektif. Artinya
iamenginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya
nanti- untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik,
menurutnya. Bisajadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi,
pintar masak,cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia
menginginkan yanglebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen,
hafidzah, atau mungkin yangberasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi
jika ‘ingin menikah’ di siniberarti : ingin menikahi ukhti A, B atau C.
Yang jenis ini bukan berartitidak boleh. Hanya saja, kurang elegan.
Lalu bagaimana dengan siap menikah?. Siap menikah bagi seorang akhi
berartikesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur
kemampuandirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh
faktor siapayang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya
kesimpulan : " yangpenting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri
ana dan bagaimanapundia, toh ana juga yang harus membimbingnya ". Yang
jenis ini lebih elegan.Artinya siap mental dalam menikah.Nah kembali ke
cerita sang akhi yang selain ingin, juga siap untuk menikah.Sang
murobby yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan
semangat.Betapa tidak ? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan
mulia. Apalagi yangdijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang
masing-masing mempunyai misi danvisi untuk dakwah?Maka dimulailah
proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang Murobby.Dari mulai
tukar biodata sampai ta’aruf belum terlihat ada masalah. Namunketika
sang murobby mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sangakhwat
menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya
bisaberalasan pada sang murrobby :" Afwan ustad, saya masih mau
melanjutkansekolah dulu.."Terpukul hati sang akhi mendengar jawaban
sang akhwat. Pikirnya dalam hati,mengapa kalau masih mau sekolah ia
bersedia memberikan biodatanya dan bahkansampai proses taaruf ?Sang
murrobby pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di
balikpenolakan ini ?. Sang Akhi beritikad baik untuk tetap menikah.
Sang murrobby pun kembalidengan senang hati membantu sang akhi. Dilalui
proses dari awal sebagaimanayang pertama tadi. Namun sayang seribu
sayang. Kasus penolakan yang pertamakembali terulang. Masih dengan
alasan yang sama : sang akhwat masih maumelanjutkan sekolah.Pusing
kembali melanda sang akhi kita ini. Dicobanya sekian kali
untukberinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya ? Atau ada
kesalahan kahsaat taaruf kemarin ? Ah , rasa-rasanya semuanya begitu
lancar, tak adamasalah. Atau masalah penampilan fisik ?. Ah, benarkah
itu masih menjadi kriteriayang prinsip di jaman ini ? . Sang akhi
bingung, ia benar-benar belummenemukan jawaban yang tepat atas kasus
penolakan dirinya.Sang murroby tampaknya ikut merasa bertanggung jawab
dengan penolakntersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali
penolakan tersebut,sang murrobby pun berinisiatif untuk ambil langkah
yang lain. Kebetulan iamempunyai adik perempuan yang juga seorang
akhwat. Maka setelah mengadakanbriefing yang intensif terhadap sang
adik, dimulailah proses perjodohankeduanya. Biodata adik sang murroby
pun berpindah ke tangan sang akhi ini.Dengan seksama di baca semua
point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar fotoukuran post card juga
diperhatikan agak lama.Sang Murobby yang juga kakak sang akhwat
terburu-buru untuk menanyakankesediaan sang akhi untuk meneruskan
proses." Gimana akhi, antum bersedia melanjutkan proses ini kan ? "Sang
akhi bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam
dadanya.Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat.
Diulang-ulang kembali,sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul
terus menerus danmengganggu." Gimana Akhi, sudah siap untuk meneruskan
prosesnya ? "Pertanyaan sang murobby menambah kegalauannya. Keringat
dingin mulai menetesdari dahinya. Ia menunduk agak lama.Sang akhi
merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulaimengangkat
kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa duaakhwat yang
terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik !! Kriteria fisik
,kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi
begitukontemporer. Selalu saja ada di mana saja dan kapan saja." Gimana
akhi, bisa di jawab sekarang ?? "Dengan sedikit berdehem, sang akhi
menjawab, " Afwan Ustad, setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya "
masih maumelanjutkan sekolah " saja ustad … "Lemes tubuh sang
murrobby. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hatiia berkata :
Dasar aktifis jaman kini, masih teguh mempertahankan kriteriafisik !!!.
Andakah salah satunya ?
In uriidu illa ishlahi ma’stato’tu wa ma taufiqii illa billahiWa akhiru da’waana ani lhamdulillahi robbil a’lamiin

#tulisan dari postingan di http://artikelkita.blogspot.com/

Aku Rindu Zaman Itu

Tuesday, May 10th, 2005

# Di ketik ulang dari secarik kertas yang ditempel di papan pengumuman musholla tempat biasanya sholat berjamaah.

Aku Rindu Zaman Itu

Aku rindu, zaman ketika Halaqah adalah kebutuhan.
Bukan sekedar sambilan apalagi hiburan.
Aku rindu, zaman ketika membina adalah kewajiban.
Bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.
Aku rindu, zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan.
Bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan.
Aku rindu, zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan….

Bukan tuntutan dan hujatan.
Aku rindu, zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan.
Bukan keraguan apalagi kecurigaan.
Aku rindu, zaman ketika nasehat menjadi kesenangan.
Bukan su’udzon apalagi menjatuhkan.
Aku rindu, zaman ketika memberikan segalanya untuk dakwah ini.
Aku rindu, ketika nasyid guroba menjadi lagu kebangsaan.
Aku rindu, zaman ketika gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.
Aku
rindu, zaman ketika seorang ikhwah benar-benar berjalan kaki 2 jam di
malam gelap gulita sepulang tabligh dakwah di desa sebelah.
Aku rindu, ketika pergi liqo selalu membawa uang infaq, alat tulis, buku catatan dan qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan.
Aku rindu, zaman ketika seorang binaan menangis karena tidak dapat hadir dalam liqo.
Aku rindu, zaman ketika seorang ikwah berangkat liqo dengan jatah ongkos esok harinya.
Aku rindu, zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan mengumpulkan uang sekuat tenaga.
Aku rindu zaman itu.
Ya Allah jangan kau hilangkan kenikmatan itu dari hati-hati kami.
Kami rindu nikmat itu.
Amin…

# gak tau penulisnya siapa, tapi yang jelas ane juga rindu akan zaman itu.