Revolusi Itu Berangkat Dari Kedai Kopi
Tuesday, May 31st, 2005Pengajian senin sore kemaren mengajak
jari saya untuk menelusuri seperti apa kafe yang ada di Mesir. Sore itu
sang ustadz bilang…
"Kafe di Mesir mempunyai fungsi yang sangat berbeda dengan kafe-kafe yang ada di Indonesia".
"Kafe
di Indonesia identik dengan minuman keras, tempat dugem, perdangan
narkoba dan sembarang kalir yang tidak jauh dari itu. Lain halnya
kafe-kafe yang ada di Mesir. Disana mereka menjadikan kafe sebagai
tempat munculnya pergerakan, revolusi rakyat pun digodok dari
kedai-kedai ini. Belasan karya sastra utama juga lahir dari sana"….
"Para ulama dan darwisy sufi juga punya pangkalan kafe (maqha) tersendiri. Minum kopi biar bisa zikir tahan lama".
Ah
masa sih ? saya sendiri juga sedikit meragukan hal tersebut dan membuat
saya penasaran. Akhirnya saya menelusuri internet untuk mencari
bagaimana sebenarnya keberadaan dan fungsi kafe di Mesir. Berikut ada
beberapa tulisan yang saya dapatkan dari catatan koresponden Gatra di
Kairo, Mohamad Guntur Romli, tentang serba-serbi kafe Mesir.
ANGKA
1919 adalah angka keramat bagi rakyat Mesir. Bilangan ini mewakili
peristiwa paling heroik dalam sejarah negeri itu: revolusi tahun 1919.
Ketika itu, gelombang revolusi rakyat Mesir menggulung kolonialisme
Inggris. Tahun yang sama, warga Mesir mengangkat tokoh pujaan mereka,
Saad Zaghlul, sebagai perdana menteri pertama.
Tapi, tak banyak
yang tahu tempat asal cita-cita revolusi 1919 itu mulai dibangun.
Revolusi rakyat tersebut ternyata lahir dari bangunan sederhana di
bundaran Atabah, muara Jalan Muski, Kairo. Di tempat itu sebagian warga
melepas lelah, ngobrol, dan minum kopi. Kedai kopi? Ya! Revolusi itu
dimulai dari kedai kopi bernama Maqhâ (Kafe) Mitatia.
Spirit
revolusi itu tertanam jauh sebelum 1919. Pada penghujung abad ke-19, di
Kafe Mitatia, sosok lelaki asing separuh baya hadir menarik perhatian
banyak orang. Pria itu lahir di Afghanistan, belajar di Persia (Iran),
dan punya hobi melanglang buana. Ia telah menjelajah India, Turki,
Suriah, dan terakhir di Mesir.
Kumis dan janggut berjuntai
menutupi bagian bawah wajah pria itu. Gaya bicaranya meledak-ledak.
Terkadang keluar kata-kata keras dan tajam dari bibir yang tidak pernah
lepas menyedot pipa shisha –rokok Arab bertabung dan berpipa panjang–
itu. Asap shisha meliuk-liuk dipermainkan angin menerpa wajah
orang-orang sekitarnya.
Kata-kata keras sosok asing itu
belakangan mampu membakar semangat rakyat Mesir untuk melawan
penjajahan Inggris. Orang-orang yang biasa memanggilnya, Syekh
Jamaluddin. Lengkapnya –karena ia berasal dari Afghan– Syekh
Jamaluddin al-Afghani. Di kafe Mitatia, 20-an orang selalu setia
menyimak kata-katanya.
Di antara hadirin itu hampir selalu
tampak seorang pria lulusan Al-Azhar bertubuh pendek, berkumis, dan
berjenggot. Namanya Muhammad ‘Abduh. Kelak, Abduh dikenal sebagai murid
setia Syekh Jamaluddin dan salah seorang pelopor pembaruan keagamaan
serta mufti Mesir ternama.
Halaqah Kafe Jamaluddin al-Afghani
SELAIN
Abduh, ada dua sosok lelaki lain yang rajin hadir. Pertama, Abdullah
al-Nadim yang nantinya dijuluki Khathîb al-Tsawrah (Orator Revolusi
1919). Yang kedua, yunior Abduh di Al-Azhar, bernama Saad Zaghlul.
Kelak Zaghlul-lah yang menjadi tokoh utama revolusi 1919 dan perdana
menteri pertama Mesir.
Al-Nadim dan Zaghlul sama-sama dikenal
sebagai "singa panggung". Pengaruh sang guru, Syekh Jamaluddin,
tertanam kuat dalam jiwa mereka. Selain nama-nama besar tersebut, masih
ada tokoh revolusi 1919 lain yang juga setia mengikuti "halaqah kafe"
Syekh Jamaluddin. Yaitu, Mahmud Sami al-Barudi.
Cerita itu
bukanlah kabar burung, atau sekadar kisah dari mulut ke mulut. Tapi
tercantum dalam buku Ayyam laha Tarikh (Hari-hari yang Memiliki
Sejarah), karya terpenting sastrawan Mesir, Ahmad Bahauddin. Revolusi
1919 yang dahsyat ternyata berasal dari pojok kafe sederhana. Kafe
ternyata memiliki kekuatan mengubah jalan sejarah.
Pengaruh kafe
di Mesir tak hanya dikenal dalam bidang politik. Sastrawan Mesir peraih
Nobel 1988, Naguib Mahfouz, juga lebih banyak menghabiskan waktunya
dari kafe ke kafe. Tidak ada kafe ternama yang belum disinggahi Naguib.
Penyanyi
legendaris Umm Kultsum juga terbiasa nongkrong di kafe. Setiap lepas
show, Ummi Kultsum berdialog dengan fansnya di kafe untuk menanyakan
kesan dan kritik mereka. Saat ini Ummi Kultsum diabadikan menjadi nama
sebuah kafe yang sering ia kunjungi.
Jika ke Mesir, perjalanan
Anda memang tidak lengkap bila belum menyinggahi kafe-kafenya. Di situ
Anda bisa duduk rileks sambil minum teh. Kalau suka, teh bisa dicampur
daun na’na’ (mint) agar napas lebih segar dan harum. Sambil menyeruput
teh atau kopi Arab beraroma khas, bisa diselingi menyedot shisha.
Revolusi dan Miniatur Negara
AROMA
shisha, rokok Arab itu, juga bisa dipilih. Ada aroma stroberi, mangga,
apel, melon, dan buah-buahan lain. Di samping teh dan kopi, Anda juga
bisa mencoba minum sahlab –susu kental panas ditaburi kacang, pisang,
dan sedikit cokelat. Sambil ngobrol Anda bisa bermain domino dan
mahyong yang disediakan secara gratis oleh pemilik kafe.
Kafe
tak bisa dilepaskan dari kehidupan rakyat Mesir. Di setiap sudut jalan,
kafe-kafe mudah dijumpai. Mulai kelas rakyat jelata hingga eksekutif.
Orang Mesir tahan berlama-lama duduk di kafe hanya untuk ngobrol
ngalor-ngidul, minum teh, dan main domino. Tak jarang tradisi ini
menuai kritik karena dipandang membuang-buang waktu.
Tapi, jika
kita mengunjungi kafe-kafe yang punya sejarah panjang ada yang terasa
mengesankan. Kafe adalah saksi sejarah, forum diskusi, dialog, dan
debat tokoh-tokoh Mesir sejak dulu. Bagi rakyat Mesir, kafe adalah
"miniatur negara" karena segala persoalan negara, dari politik,
ekonomi, sosial, sastra, dan budaya, dibahas di kafe.
Para
pengunjung duduk mengepung meja, mereka bergantian bicara, tanpa
moderator ataupun notulen. Kesimpulan pembicaraan tak pernah satu,
terserah pada kepala masing-masing. Fenomena ini tidak hanya ada di
Kairo, juga di kota negeri Arab lain seperti Beirut di Lebanon, Baghdad
di Irak, Rabat di Maroko, dan Damaskus di Suriah.
Tradisi kafe
semacam ini bukanlah tradisi khas Arab. Di kota besar benua lain, kafe
dengan fungsi sosial-politik juga mudah dijumpai. Di Paris terdapat
kafe-kafe bersejarah tempat diskusi Picasso, Victor Hugo, Pascal,
Descartes, Camus, hingga Foucault. Ada kafe Deux Magots dan de Flore
tempat Sartre, Hemingway, dan Simone de Beauvoir berdialog melahirkan
filsafat eksistensialisme. Konon, kafe juga menjadi tempat titik tolak
revolusi pemuda di Prancis tahun 1968.
Di Mesir, sosok kafe
seperti ini baru dikenal pada zaman pemerintahan Turki pada 1517.
Sebelumnya, memang ada beberapa tempat yang sering dijadikan tempat
kumpul masyarakat Mesir, seperti pasar dan masjid. Tetapi untuk
kegiatan seni, sastra, dan budaya, pasar terlalu gaduh dan masjid
terlalu sakral.
Kafe Anti-Perempuan
SEBELUM kafe
dikenal, kegiatan sastra Kairo dipusatkan di perahu-perahu yang
mengapung di Sungai Nil. Kebiasaan rakyat Mesir ini berlangsung sejak
era pemerintahan Mamalik. Hingga pemerintahan Muhammad Ali Pasha,
perahu-perahu Nil masih sering digunakan untuk tempat pesta rakyat.
Namun,
dengan masuknya penjajah Prancis di Mesir pada Juni 1797, fenomena kafe
mulai tumbuh pesat di Kairo. Pesta di perahu mulai elitis dan
membutuhkan biaya tinggi, selain terasa terlalu sempit. Selain itu,
kebiasaan serdadu-serdadu Prancis nongkrong di pinggir jalan ikut
menyebabkan lahirnya kafe-kafe baru.
Menurut catatan Ali Pasha
Mubarak, pada tahun 1880, setidaknya ada 1.067 kafe di Kairo. Jumlah
kafe terbanyak ada di kawasan Azbakia, sebanyak 252 buah. Sebagian
besar, 228 kafe, juga menyediakan minuman keras. Di kawasan Bulak
terdapat 160 kafe, di kawasan Jamalia ada 142 kafe, dan di kawasan
Abidin tercatat 102 kafe.
Aktivitas di kafe juga beragam. Mulai
mendengarkan musik, syair, dongeng rakyat, hingga merayakan ritual
keagamaan seperti Maulid Nabi. Alkisah, Syekh Al-Bakri, seorang syekh
tarekat di kawasan Azbakia, selalu mengadakan perayaan maulid Nabi di
salah satu kafe. Konon, penguasa Mesir saat itu, Napoleon Bonaparte
juga rajin hadir.
Sejak itu, beragam kafe tumbuh di Kairo. Mulai
kafe umum hingga kafe khusus yang memiliki pelanggan dari strata
tertentu. Seperti kalangan buruh, pedagang dan tentu saja, kafe khusus
serdadu Prancis. Pada awal pertumbuhannya, kalangan bangsawan masih
sungkan duduk di kafe. Alasannya, nongkrong di kafe akan mengurangi
kewibawaan.
Kalangan perempuan Mesir juga dilarang duduk dan
ngobrol di kafe. Larangan tersebut masih berlaku sampai muncul gerakan
feminisme di Mesir. Seorang jurnalis Mesir terkenal, Dr. Mahmud Azmi,
pernah dikecam masyarakat karena duduk di Kafe Bar Liwa bersama
istrinya, seorang perempuan berkulit putih asal Rusia.
Kafe Khusus Ulama Al-Azhar
YANG
menarik, para pengajar dan ulama Al-Azhar juga punya kafe khusus.
Namanya, Kafe Afandia. Kisah kafe ini terungkap dari korespondensi
Abdullah Fikri Pasha yang berada di Turki dengan Syekh Utsman Haddukh,
seorang pengajar Ilmu Nahwu di Al-Azhar.
Surat bertanggal 5
Jumadal Ula 1288 H (1870 M) itu menceritakan kerinduan Fikri Pasha
minum kopi dan ngobrol di Kafe Afandia, dekat Masjid Al-Azhar. Sepulang
dari Turki, Abdullah Fikri Pasha sempat menjabat Menteri Pendidikan
Mesir. Meski Kafe Afandia tak bisa ditemukan lagi, namun kafe Afandia
dikenal sebagai pelopor kafe sastra.
Sudut kota Kairo yang
hingga kini sering dipenuhi lautan manusia adalah kawasan Masjid
Husein. Orang sering menyebutnya kawasan Al-Azhar karena Masjid
Al-Azhar ada di seberangan jalan Masjid Husein. Sebutan lain kawasan
itu adalah Khan Khalili, berasal dari nama pasar tradisional di samping
Masjid Husein.
Segitiga emas Masjid Husein, Masjid Al-Azhar dan
Khan Khalili membuat tempat itu selalu ramai hingga sekarang. Kawasan
kuno itu dibangun tahun 972 M oleh Jawhar Saqali, seorang jenderal
Daulah Fathimiyah. Tepat di samping istana kerajaan, pusat
pemerintahan, dibangun Masjid Al-Azhar sebagai pusat keilmuan.
Adapun
pasar tradisional Khan Khalili dibangun pada 1382 oleh seorang amir
bernama Djaharks el-Khalili. Pasar ini bergaya Turki. Para pelancong
yang datang ke Mesir bisa membeli suvenir mulai dari kertas papirus,
hingga patung kuno di sini. Ada juga minyak kadal Mesir dan batu
jahamam yang konon ampuh menambah kekuatan seks.
Kehidupan seni
dan sastra juga berkembang di kawasan ini. Pelajar, ulama, dan syekh
al-Azhar memiliki kafe tersendiri untuk berdiskusi. Para darwisy sufi
juga memiliki kafe khusus yang bernama Kafe Wali Ni’am yang berdiri
hingga sekarang. Tokoh tarekat Syekh Sholih al-Ja’fari juga sering
nongkrong di kafe ini sepulang dari Masjid Husein.
Pojok Ilham Naguib Mahfouz
MENURUT
Fathi Wali Niam, 50 tahun, pemilik Kafe Wali Ni’am sekarang, keberadaan
kafe ini tidak bisa dipisahkan dari tradisi darwisy-darwisy sufi. Para
darwisy itu hobi minum kopi untuk menghilangkan kantuk agar bisa kuat
begadang dan wirid. Tapi, Kafe Wali Ni’am bukanlah kafe tertua di Pasar
Khan Khalili.
Kafe yang paling uzur di kawasan Khan Khalili
adalah Kafe El-Fishawi. Menurut sastrawan Mesir Hafidz Ibrahim dalam
buku al-Shalîb wa al-Hilâl (Salib dan Bulan Sabit), menjelang revolusi
1919 kafe ini sering digunakan tempat rahasia untuk mempertemukan
delegasi Koptik Kristen dan ulama Al-Azhar. Di sini mereka menyusun
strategi revolusi.
Pada era 1920-an dan 1930-an Kafe El-Fishawi
juga dijadikan pusat informasi rahasia perlawanan rakyat Mesir terhadap
penjajahan Inggris. Ketika Perang Dunia I dimulai pada September 1939,
kafe ini menjadi "pelarian" orang-orang yang hobi begadang. Sebab, pada
saat itu tidak ada satu pun kafe yang berani buka kecuali Kafe
El-Fishawi.
Di tengah berkecamuknya perang, orang merasakan
ketenangan duduk di kafe yang terletak di pelataran Masjid Husein itu.
Mengenai usia kafe ini, terjadi silang pendapat antara pemilik kafe
El-Fishawi dan para arkeolog. Menurut ahli sejarah Kairo Lama
(al-Qâhirah al-Qadîmah), kafe ini berumur 200 tahun lebih.
Tetapi,
menurut Akram Mustafa el-Fishawai, 46 tahun, generasi ketujuh pemilik
kafe El-Fishawi, kafe ini telah berumur 245 tahun. Sebagian orientalis
punya teori lain. Menurut mereka cikal bakal Kafe el-Fishawai berasal
dari Kafe Al-Pasvor yang dibangun pada saat Prancis menguasai Mesir.
Konon,
Napoleon pernah mengunjungi kafe ini karena tertarik dengan lokasinya.
Menurut catatan sejarah Kairo Lama, kafe ini memulai aktivitasnya sejak
1772, pada era Sultan Muhammad Abu Dahab yang dikenal dengan sebutan
Al-Pasvor. Pendiri kafe yang berasal dari keluarga El-Fishawi memberi
nama kafenya dengan nama sultan.
Kafe Tutup, Kuda Pun Mati
AWALNYA,
luas Kafe El-Fishawi tidak lebih dari 60 meter persegi, dan terletak di
pelataran Masjid Husein. Namun lama-lama kafe ini tidak tampak lagi
dari pelataran masjid. Beberapa rumah makan dan kafe-kafe baru menutupi
Kafe El-Fishawi. Luasnya pun juga tidak lagi seperti sebelumnya.
Pada
1968, Pemerintah Mesir memutuskan memangkas sepertiga luas kafe ini.
Karena kecewa, pemilik kafe saat itu, Mustafa El-Fishawi, mati secara
mendadak. Anehnya, kuda kesayangan pemilik kafe ini pun turut mati
menyusul tuannya. Cerita tragis tersebut hingga kini terus menjadi
cerita turun-temurun.
Pada awal abad ke-20, Kafe El-Fishawi
menjadi primadona. Tokoh besar Mesir seperti Syekh Jamaluddin
Al-Afghani, Umar Makram, Syekh Al-Basyari, dan Abdullah al-Nadim sering
terlibat diskusi hangat di kafe ini. Raksasa sastra Mesir, Naguib
Mahfouz –pemenang Hadiah Nobel Sastra 1988– juga mulai membentuk pola
pikir dan tulisannya di kafe ini.
Kafe El-Fishawi berdekatan
dengan perpustakaan Al-Gouri milik Kementerian Wakaf tempat Mahfouz
bekerja. Mahfouz memiliki tempat khusus di pojok kafe untuk menyendiri
dan merenung. Beberapa karya emas mengalir dari tangan Naguib Mahfuoz
lewat kafe ini, yakni: Khan Khalili, al-Bidayah wa al-Nihayah, Awlad
Haratina, dan lain lain.
Saat ini pojok tempat Mahfouz
berkontemplasi diabadikan dan diberi nama Rakn (Pojok) Naguib Mahfouz.
Potret Mahfouz muda yang sedang duduk di Kafe El-Fishawi tergantung di
ruangan itu bersama potret Amr Musa, Sekjen Liga Arab. Mahfouz ditemani
gambar besar Syekh El-Fishawi kakek pendiri Kafe El-Fishawi.
Kafe
El-Fishawi juga punya sederet tanda tangan dan catatan tokoh besar yang
pernah berkunjung. Seperti Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, Syekh
Jamaluddin Al-Afghani, Syekh Muhammad ‘Abduh, Saa’ad Zaghlul, Mustafa
Kamil, Abbas Mahmud Akkad, Ahmad Amin, Thaha Husein, dan Ahmad Syauqi.
Koleksi Tokoh Ternama
JUGA
ada goresan tangan musisi Mesir ternama Muhammad ‘Abdul Wahab, penyanyi
legendaris Umm Kultsum, penyair Ahmad Rami, dan tokoh-tokoh Revolusi
1952: Muhammad Naguib, presiden pertama Mesir, Gamal Abd Naser, serta
Anwar Sadat. Catatan dan tanda tangan mereka tersimpan rapi dalam
sebuah buku pengunjung.
Salah satu contoh catatan dan tanda
tangan dari mereka adalah: "Salam penuh cinta untuk tanahku tercinta,
Kafe El-Fishawi. Semoga Allah mengabadikan usianya dan orang-orang yang
datang mengunjunginya. Salam hormat, Naguib Mahfouz 23/12/1982."
Pada
saat ini, aktivitas sastra di kafe El-Fishawi tidak seramai dulu.
Tetapi, menurut Akram Mustafa El-Fishawi, tidak sedikit tokoh sastrawan
Mesir masih sering datang untuk sekadar minum teh, menyedot shisha, dan
mengingat-ingat masa lalu di pojok Naguib Mahfouz.
"Meskipun
tempat ini tidak seperti dulu lagi, namun para sastrawan tetap memiliki
kepentingan untuk merasakan romantisme historis di tempat bersejarah
ini. Dan mereka tidak akan mampu menemukan perasaan itu kecuali di
tempat ini." Kata Akram.
Sejauh pengamatan Gatra, Kafe
El-Fishawi memang telah berubah fungsi. Saat ini tidak lebih dari
sekadar tempat melepas lelah para pembeli yang kecapaian berputar-putar
di Pasar Khan Khalili. Beberapa orang datang hanya untuk menyeruput teh
hijau minuman khas Kafe El-Fishawi yang konon bisa menghancurkan lemak.
Lebih Tua daripada Republik
PERUBAHAN
fungsi ini diakui secara jujur oleh Akram El-Fishawi yang biasa
dipanggil mu’allim (master). "Zaman sekarang bukan lagi seperti zaman
dulu. Puluhan ribu kafe telah berdiri di Kairo. Meskipun begitu, semua
orang pun tahu, Kafe El-Fishawi satu-satunya kafe yang memiliki akar
historis lebih tua daripada umur republik ini," katanya.
Akram
El-Fishawi menganggap kafe ini warisan sejarah yang bernilai tinggi.
"Meski kafe ini mungkin tidak seperti dahulu, saya harus tetap
menjaganya," katanya. Kafe El-Fishiwa kini memang tidak semenarik dulu.
Pelataran depan kafe ini berebut dengan lorong sempit tempat orang
lalu-lalang.
Tetapi sejarah seolah mengabadikan kafe ini.
Meskipun telah ada kafe bernama Naguib Mahfouz yang jauh lebih indah
dan modern di dekatnya, Kafe El-Fishawi tetap terkenal sebagai kafenya
Naguib Mahfouz. Tanyalah pada orang yang lalu lalang di lorong Pasar
Khan Khalili, "Di mana kafe Naguib Mahfouz?" Niscaya semua orang akan
mengantarkan Anda ke Kafe El-Fishawi.
"Kafe yang paling banyak
memberikan ilham, ide dan alur cerita kepadaku adalah El-Fishawi,"
demikian pengakuan Naguib Mahfouz dalam buku Hara’iq Kalam fi Maqahi
al-Qahirah. Bagi Mahfouz, ilham tidak datang dari bangunan kafe yang
sudah dimakan usia. Kafe ini menumpahkan ide ke kepala Mahfouz melalui
bibir mereka yang duduk ngobrol bersamanya.
Naguib Mahfouz: Peraih Nobel yang "Gila" Kafe
TAK
ada sastrawan Mesir yang gila kafe melebihi Naguib Mahfouz. Kakek
kelahiran 1911 di Abbasea, Kairo, ini menghabiskan hampir seluruh
umurnya di kafe. Mulai kafe rakyat di tempat kelahirannya, Abbasea,
Husein, hingga Kasino Kafe Kasr Nil dan Kafe Ali Baba di bundaran
Tahrir. Seandainya Naguib tidak dimakan usia dan tidak ada
fundamentalis yang mencoba membunuhnya, niscaya hingga kini ia masih
kongko-kongko di kafe.
Sejak mengalami upaya pembunuhan pada
1994, Naguib tidak lagi berani duduk di kafe-kafe tepi jalan. Dia
pindah ke kafe-kafe hotel berbintang lima dan kapal pesiar di Sungai
Nil. Kapal pesiar yang sering dikunjunginya adalah Farah Boat. Jika tak
keluar rumah, sosok tua itu kini menghabiskan hari-harinya di sebuah
kamar rumahnya yang diberi nama "kafe".
Kafe tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan Naguib Mahfouz. Karya-karya terpentingnya
seperti Qashr Syawq (Istana Rindu), al-Sakariyah, dan Bayna Qashrayn
(Antara Dua Istana) lahir di kafe. Di Kafe Opera yang berornamen Eropa,
Naguib memulai forum sastranya sejak tahun 1940, setiap Jumat, jam
10.00-13.00.
Menurut kritikus sastra Jamal al-Ghaythani, forum
sastra tersebut banyak dihadiri sastrawan senior dan junior. Dari forum
ini, kelak lahir generasi sastrawan Mesir angkatan 1960-an. Selepas
diskusi di Kafe Opera, Naguib dan teman-temannya akan melanjutkan
obrolan di salah satu kafe rakyat di Azbakia.
Pada 1962, forum
sastra Kafe Opera dilarang aparat keamanan. Dua tahun kemudian, Naguib
memulai forum sastranya di Klub Qishshah, namun hanya bertahan beberapa
minggu. Lalu pindah ke Kafe Sphinx di depan Bioskop Radio. Kafe ini
kemudian berubah jadi toko sepatu. Naguib pun kemudian pindah ke Kafe
Riche.
Menurut Magdi Abd Mullak, pemilik Kafe Riche, forum
sastra Naguib bertahan selama 17 tahun. Tradisi Naguib ini
dipertahankan sampai sekarang. Tiap hari Jumat jam 10 pagi, Magdi
menggelar acara "sarapan sastra" bersama kalangan sastrawan, wartawan,
dan penulis Mesir.
Setelah 17 tahun bersama Kafe Riche, Naguib
terpaksa pindah Kafe Kasr Nil karena pemerintah menutup Riche setiap
hari Jumat. Naguib terkenal sosok yang akrab, penuh humor, dan
familiar. Setiap pengunjung kafe pasti mengenali tawa Naguib yang
terbahak-bahak. Naguib menyediakan hari Kamis untuk bertemu teman-teman
lamanya.
Dalam bukunya, Haraiq al-Kalam fi Maqahi al-Qahirah
(Kobaran Kata di Kafe-kafe Kairo), Naguib menulis pengakuannya tentang
kehidupan kafe. "Selain Kafe Qasytamar, Arabi, dan El-Fishawi untuk
menjumpai teman-teman lama, aku juga sering mengunjungi beberapa kafe
lain, bertemu kalangan sastrawan dan intelektual," tulis Naguib.
Naguib
sering duduk di Kafe Ummi Kultsum, bundaran Arabi. Di musim panas, ia
berjalan kaki dari rumahnya menuju kafeteria Hotel Shahr Zad untuk
minum teh dan membaca koran pagi. Naguib punya kesan berbeda antara
kafe rakyat dan kafe Eropa. "Jika pergi ke kafe rakyat, kamu tidak
butuh teman. Kamu akan banyak menemukan teman ngobrol," katanya.
Sedangkan
pada kafe lain, seperti kafe bergaya Eropa, Naguib berpesan, "Jika kamu
pergi sendiri, maka kamu akan sendirian sepanjang waktu." Kafe-kafe di
tengah kota Kairo, bagi Naguib, adalah tempat berjanji dan menunggu
teman-temannya sebelum pergi ke bioskop dan teater. Ia pernah menulis
skenario film yang disutradarai Salah Abu Saif di kafe Taryabon di
Iskandariyah, serta menulis skenario film Raya wa Sikkina di Kafe
Galemo Nobolo.
"Novel-novel karyaku tidak bisa aku tulis kecuali
di atas meja, baik di rumahku maupun di kantorku," tulis Naguib.
"Tetapi aku sering mencari ide dan alur cerita novel sewaktu
duduk-duduk di kafe, kemudian aku menulisnya sewaktu pulang." Kafe yang
paling banyak memberinya ilham, ide, dan alur cerita karya-karyanya
adalah Kafe El-Fishawi.
Menurut Dr. Adil Mohamed Atha Ilyas,
penulis disertasi tentang karya Naguib, al-Lishsh wa al-kilâb (Pencuri
dan Anjing-anjing), mengutip pernyataan Naguib bahwa universalitas
(al-’âlamiyah) dimulai dari lokalitas (al-mahalliyah). Novel-novel
Naguib semuanya bercerita tentang peristiwa dan tempat sekelilingnya.
Kafe, bagi Naguib, menyajikan miniatur masyarakat sekitarnya karena di
sanalah bertemu segala lapisan masyarakat.
Samir Sarhan: Dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana
PROYEK
buku murah Pemerintah Mesir dengan moto "Membaca untuk Semua Kalangan"
tak lepas dari peran Dr. Samir Sarhan, Ketua Lembaga Umum Buku Mesir.
Sastrawan Mesir ini berhasil memasyarakatkan buku dan tradisi membaca.
Di tangan Samir pula, Pameran Buku Internasional Mesir diadakan tiap
tahun.
Tahun 1980-an, Samir menerbitkan biografinya berjudul,
‘Ala Maqha al-Hayah (Di Kafe Kehidupan). Pilihan judul ini memiliki
alasan tersendiri. Samir, sebagaimana Naguib Mahfouz, menghabiskan
sebagian besar usianya di kafe-kafe. Pengenalannya pada dunia sastra
dimulai dari Kafe Abdullah di bundaran Giza, tahun 1950-an.
Ketika
itu, Kafe Abdullah menjadi ajang pertemuan para sastrawan dan kritikus
sastra: Abd Kadir el-Kit, Lewis Iwadl, Anwar al-Ma’dawi, Salah Abd
Sabur, Mahmud al-Sa’dani, dan lain-lain. Diam-diam, Samir yang baru
berumur 16 tahun mengamati keasyikan mereka berdiskusi. Samir ingin
sekali masuk komunitas itu dan berdiskusi.
Tapi, Samir sadar ia
belum punya satu karya pun. Namun, Samir terus menguping pembicaraan
para sastrawan itu tentang sastra Arab dan Barat. Dalam banyak segi,
Samir cukup paham karena banyak membaca sastra Arab dan Barat. Maka,
tekad Samir untuk bergabung pun makin kuat. Samir mulai menulis cerita
pendek dan menerjemahkan beberapa cerpen asing.
Karya pertama
Samir diberi judul Tujuh Mulut. Setelah merasa cukup baik, Samir pergi
ke Dar al-Fikr al-Arabi, penerbit ternama waktu itu. Pemilik Dar
al-Fikir al-Arabi, Abd Munim, jelas tidak mau gegabah menerbitkan karya
orang yang belum terkenal. Munim hanya mau menerbitkan bila karya Samir
diberi pengantar kritikus sastra terkenal waktu itu, Anwar al-Ma’dawi.
Samir
bergegas ke Kafe Abdullah dan menyerahkan karyanya kepada Anwar
al-Ma’dawi untuk dikaji dan diberi pengantar. Anwar terkejut. Pemuda
yang sering dilihatnya memperhatikan pembicaraan sastrawan tersebut
datang membawa karya. Anwar berjanji mempelajari naskah Samir dan akan
memberi pengantar khusus.
Janji Anwar ditepati. Akhirnya, Tujuh
Mulut diterbitkan Dar al-Fikir al-Arabi. Dengan terbitnya karya pertama
tersebut, Samir merasa telah hidup seratus tahun! Sejak itu, Samir
menjadi bagian komunitas sastrawan Kafe Abdullah. Setelah berkali-kali
mengikuti diskusi, dia merasa masih bodoh. Itu membuatnya makin
semangat membaca dan berkarya.
Suatu hari, komunitas Kafe
Abdullah pindah ke Kafe Indiana di Dokki, tidak begitu jauh. Bedanya,
Kafe Abdullah terletak di bundaran Giza yang dikelilingi masyarakat
kelas bawah. Sedangkan Kafe Indiana dikepung masyarakat kelas menengah
dan atas.
Bagi Samir, perpindahan itu berarti perpindahan dunia.
Perpindahan ide dan inspirasi. Masyarakat yang datang membawa
permasalahan berbeda dari kafe satu dengan kafe lain. Letak kafe dan
pengunjung kafe sangat menentukan kehidupan di dalamnya.
Masa
muda Samir berbeda dengan pemuda Mesir lain yang lebih menyukai tempat
hiburan dan bioskop. Samir menghabiskan masa mudanya berdialog dengan
para sastrawan dari kafe ke kafe. Setelah menamatkan S-1 jurusan sastra
Inggris di Universitas Kairo, Samir pun mendapat beasiswa melanjutkan
studi di Amerika Serikat.
Samir terkejut karena ditempatkan di
Universitas Indiana, nama yang sangat familiar dengannya. Perpindahan
hidup kembali dijalani Samir dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana.
Toh, kehidupan Samir di Amerika tidak berubah, banyak dihabiskan
membaca buku di kafe-kafe.
Tidak banyak kesan yang didapat
kecuali dia bisa membaca buku sastra sebanyak-banyaknya. Setelah tamat,
Samir kembali ke Mesir. Tempat yang dia kunjungi lebih dahulu adalah
kafe-kafe yang pernah mempertemukannya dengan para sastrawan Mesir.
Mulailah
Samir Sarhan mengawali kehidupannya seperti semula, berdiskusi, mencari
ide dari kafe ke kafe. Kafe Abdullah di Giza, Kafe Indiana di Dokki,
dan Kafe Riche di bundaran Tal’at Harb. Bagi Samir, kafe adalah
kehidupan itu sendiri. Dari kafe dia merasa banyak belajar tentang
kehidupan dan mendapatkan inspirasi.
Dari tulisan : Mohamad Guntur Romli (Kairo)
sumber : milis ikbal_alamien
Kasus