Archive for June, 2005

Aku mencintaimu … sungguh !

Tuesday, June 14th, 2005

Apa kabarmu hari ini ? ah, mudah-mudahan baik-baik saja. "Aku mencintaimu … sungguh !" itu kata-kata yang selalu kutulis belakangan ini. Kamu tau kenapa ? bukan, yang jelas itu karena aku tak tau kenapa. Aku cuma ingin mengungkapkan dalam tulisan. Apakah aku sedang jatuh cinta ? ya, aku sedang jatuh cinta . Aku sedang berbunga-bunga, menikmati cinta yang hadir dalam hatiku bukan sekedar kata-kata.

Apa kabarmu hari ini ? ah, mudah-mudahan tambah ceria saja. Aku belum pernah merasakan cinta yang sedahsyat ini. Kalaupun aku mati, aku yakin cinta ini akan tetap bersemi. …

Apa kabarmu hari ini ? ah, mudah-mudahan kamu bahagia mendengar berita ini. Apapun yang terjadi, aku Insya Allah takkan berpaling. Sungguh … dari lubuk hati aku ingin berucap … Sungguh, aku mencintai dakwah ini !

Gak Ngulang Lagi

Monday, June 13th, 2005

Masih ingat gak waktu kecil dulu, kita
sering banget boongin bunda. Kalo sore hari dah menjelang, kita sering
pergi nyuri-nyuri. Tau aja Bunda lagi mandi atau lagi istirahat dari
pekerjaannya seharian, kita tanpa ba-bi-bu lagi langsung kabur.
Kadang-kadang sendal jepit yang kita pake sering putus ato tanggal
karena kesandung.

Rasanya lega banget kalo kita dah nyampe di
jalan besar itu, trus bareng teman-teman yang udah nungguin dari tadi
menelusuri aspal menuju sungai tempat kita menumpang mandi, he he he.
Kita tuh lupa dengan kata-kata bunda, atau jeweran dikuping yang masih
kerasa dari kemaren, atau kayu untuk kecil yang sering patah di betis.
Semuanya hilang dan yang ada hanya kegembiraan, keceriaan yang tak
habis-habisnya….

Satu persatu baju, celana, daleman kita tarok
begitu saja diatas rumput dipinggiran sungai. Kemudian badan polos
telanjang bulat terbang setelah aba-aba satu, dua, tiga menggema. Tubuh
melambung melayang terbang … kemudian sesaat kemudian menukik
menyongsong air … dan byur !!! menyelam beberapa saat dengan mata
terpejam kemudian muncul sambil melonjak kegirangan dengan kepala yang
basah dan wajah sumringah dengan ketawa.

Tidak peduli air itu
datang darimana dan coklat adalah warna utama, yang penting bisa lompat
dan nyebur aja sudah cukup. Kadang berenang ke seberang jika pohon
mangga berbuah. Batu, kayu atau apa saja jadi senjata untuk menjatuhkan
mangga-mangga muda. "Wuzzz…" suara kayu dan batu melayang menuju
segerombolan mangga yang bertengger didahannya. Sesaat kemudian
"bledug.. bledug..!" Mangga jatuh berserakan dan kita pun berhamburan
berebutan.

Kita kecapekan berenang, untuk kembali kita mencari
batang pisang. Kemudian ditebang, beruntung kalo ada yang panjang kita
bisa bergelantungan berpasang-pasang. Atau kalau lagi senang kita bikin
rakit dengan 3-4 batang. Setelah jadi, kita tarik ke hulu yang paling
jauh… kemudian kita menuju hilir dengan berakit sambil duduk atau
tidur terlentang menikmati awan berarak, atau terlungkup menikmati
bunyi aliran air. Dan tak lupa pula kita mengupas mangga dengan
gigi-gigi yang mulai kokoh, walopun terkadang terasa nyeri di gigi yang
baru saja copot kemaren hari dan belum tumbuh pengganti.

Selama
perjalanan dari hulu menuju hilir tak ada teriak tak ada ketawa dan tak
ada suara. Kita sama-sama melepas lelah, menikmati alam yang jelas
beberapa tahun lagi kita takkan pernah bisa menikmatinya. Karena kita
malu dengan usia, dan tentunya kita akan berpisah sesuai garis yang
sudah ditakdirkanNya. Saat itu masing-masing kita ingat Bunda. Ya,
bunda yang sedang sibuk mencari dimana kita berada. Dan kita
membayangkan sebentar lagi kita akan kejar-kejaran dengan Bunda kembali
ke rumah.

"Adiiiii, Ipaatttt, Andiiiii, Imaaannn …
pulaaaangggggg !!!" Benar saja … dari kejauhan Bunda datang
tergesa-gesa, dan kita pun lebih tergesa-gesa lagi menuju ketepian. tak
sempat lagi mengambil pakaian dan kita pun berlarian dengan polos tanpa
benang menuju rumah idaman.

Sesampai dirumah kita sudah siap
sedia menerima hukuman. Kita berbaris di teras, menunggu bunda. Sesaat
bunda datang kita jadikan saat yang tepat untuk saling menyalahkan.
Siapa yang mengajak, dan siapa yang mau. Namun disaat bunda datang kita
tak berani berkata-kata. Hanya ada kata "aduuhh", "ampuun bundaa", "gak
ngulang lagi"… berkali-kali kita ucapkan. Untuk kata-kata yang
terakhir kita tidak berucap jujur, karena kita yakin kita akan nyebur
bareng lagi

Sholat Isya`

Saturday, June 11th, 2005

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Seandainya
aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan
/ menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya."

(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy)

Dari anas bin Malik ra :
"bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya` hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat". (HR. Muttafaqun Alaihi).

Namun
yang jadi permasalahan sekarang, bagusan mana sholat Isya` di awal
waktu berjamaah atau sholat Isya` sendirian tengah malam ?…

Dari Abu Hurairoh Ra ia berkata: Nabi SAW bersabda:
"Tidak
ada sholat yang paling berat untuk dilakukan oleh orang-orang munafik
daripada sholat shubuh dan sholat Isya. Dan kalaulah mereka mengetahui
apa-apa yang ada pada keduanya (fadhilah sholat shubuh dan isya)
pastilah mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sungguh
aku bermaksud untuk memerintahkan muadzin kemudian ia membacakan iqomah
kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang,
kemudian aku mengambil api kemudian membakar orang-orang yang tidak
keluar untuk melaksankan sholat setelahnya"
(HR. Bukhori)

Paket Itu

Saturday, June 11th, 2005

Assalam, wan alhamdulillah paket tu lah selamat sampai, la tonang kan ?

Alhamdulillahirobil
‘alamiin (lagi jalan bareng Yopi dari musholla "minimalize"), Wah ini
anak pinter juga bikin saya dag dig dug dag dig dug gak karuan dari
kemaren. Bayangin 2 minggu baru nyampe ke tangan tujuan. Beneran dah !
Mana
ditambah lagi sebelumnya Pajeror [baca : Ipar Error] dikonfirmasi malah
jawabannya aneh-aneh mulu tuh. Sampe sempat mikir "duh nih
orang-orang kok pada sombong banget ya ?". Tapi akhirnya ketepis juga
sih, ya kali aja mereka lagi sibuk. Ato mungkin susah untuk
menghubungi. Eh ternyata emang bener, susah untuk ketemuannya. Satu
janji yang satu lupa, satunya datang yang satu gak ada. Mo datang ke
kosan ngambil sungkan. So jadi lah itu paket bersemayam bagai ayam
sedang memeram….

Walopun demikian, Alhamdulillah bi khoir ya.
Akhirnya itu paket sampai juga. Andi memang te-o-pe be-ge-te [baca :
top banget]. Andi emang layak dapat bintang. Ah, ntar tak kirimin buku
yang bagus. Gak papa kan ? Tapi buku apa ya ? hm butuh ke eramedia
dulu nih.

Keteguhan Seorang Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin

Saturday, June 4th, 2005

Salah seorang Ikhwan mengirim surat kepada Hasan Al-Hudhaibi Mursyid
‘Am Ikhwanul Muslimin yang isinya meminta keringanan dan mendukung
Abdun naser agar bisa bebas dari penjara atau untuk menghindari
penyiksaan dan demi mempertahankan dakwah. Hasan Al-Hudhaibi menjawab,

"Sesungguhnya
dakwah tidak didasarkan pada rukhshah (dispensasi). Para pengemban
dakwah harus mengambil sikap azimah (melakukan suatu perbuatan seperti
apa yang telah ditetapkan Allah SWT), sedang rukhshah hanya diambil
orang-orang lemah. Saya tidak membolehkan kalian mengambil rukhshah
tetapi saya berkata kepada kalian; Ambillah azimah dan berpegang
teguhlah dengannya".

Apakah kita akan terus mencari celah rukhshah, sedangkan kita masih mampu untuk azimah. wallahualam.

Mental Dalam Beramal Jama’i

Friday, June 3rd, 2005

Ir. H. Tifatul Sembiring
Pjs. Presiden Partai Keadilan Sejahtera

Bergabung dalam sebuah amal jama’i memiliki kekhasan tersendiri. Mesti ada sikap toleransi, ada adaptasi, ada pengorbanan-pengorbanan tenaga dan harta serta pikiran bahkan sampai ke tingkat pengorbanan perasaaan.

Dalam kesehariannya, mungkin saja terjadi perbedaan-perbedaan dalam memandang suatu permasalahan, bahkan debat yang seru. Namun, semuanya itu harus berujung pada sebuah kesepakatan untuk dijalankan bersama. Sehingga tercipta suatu suasana, dimana setiap kader memiliki azam yang kuat untuk menjalankan hasil keputusan tersebut.

Oleh sebab itu, seluruh kader hendaknya selalu mengedepankan semangat syuro (musyawarah) dan istisyaroh (konsultasi). Akan sangat berbahaya, apabila struktur partai sudah mengambil suatu keputusan - sesuai dengan kewenangannya - ada pihak-pihak atau kader yang mencoba berjalan di
luar keputusan syuro. Apalagi kemudian kemudian ada yang berupaya melakukan pengembangan persepsi mereka masing-masing. Jika hal ini berkelanjutan, tidak menutup kemungkinan akan menjadi bibit-bibit perpecahan dalam tubuh partai.

Terkadang perubahan ini berlangsung sangat cepat. Struktur perlu merespon dan mengantisipasinya segera. Dalam situasi seperti ini, terkadang tidak mudah mensosialisasikan keputusan secara menyeluruh disebabkan adanya kendala waktu.

Apalagi medan politik, perubahan-perubahan dapat saja terjadi dari jam ke jam bahkan dari menit ke menit. Dalam keadaan demikian, biasanya pengurus akan kembali berpedoman kepada dhawabith ‘ammah (kaidah umum) konstitusi dan aturan partai.

Perkembangan dakwah, kadang berlangsung demikian pesat. Contoh kongkritnya adalah beban partai hari ini setelah pemilu 2004, hasilnya melompat dibandingkan hasil pemilu pada tahun 1999. Pada awalnya dakwah ini dikelola dalam lingkup lokal saja. Kemudian pada waktunya berkembang
menjadi gerakan yang bersifat nasional. Pada tahapan tertentu berkembang menjadi lingkup regional bahkan sampai ke tingkat internasional. Hal ini sekaligus juga berarti perluasan kegiatan distribusi rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru negeri.

Dahulu, dakwah ini dikelola dengan cara berjalan kaki, keluar masuk gang dan kampung, naik kendaraan umum. Lantas dakwah berkembang, sehingga ada satu dua teman-teman yang mulai punya sepeda motor. Lalu meningkat lagi punya kendaraan roda empat. Bahkan saat ini, untuk kawasan tertentu, dikelola dengan pulang pergi menggunakan pesawat terbang. Artinya,
telah terjadi perubahan-perubahan lingkup medan dakwah dan juga sarana transportasi yang dibutuhkan.

Awalnya para ustadz menjelaskan materi dakwah dengan mengunakan kapur tulis. Lalu memakai spidol, kemudian meningkat menggunakan alat-alat presentasi yang modern. Bahkan saat ini sesuai perkembangan teknologi informasi, untuk mahasiswa Indonesia yang berada di Sydney misalnya
dapat menyimak pengajian pagi yang berlangsung di masjid Pondok Gede, dengan memanfaatkan sarana internet.

Dari sisi mihwar (orbit) dakwah, telah terjadi pula perkembangan dan perubahan yang pesat. Awalnya dakwah ini berada pada mihwar tanzhimi (orbit struktur) lalu berlanjut ke mihwar sya’bi (orbit masyarakat), lantas berkembang menjadi mihwar muassasi (orbit institusi) dan
bahkan hari ini kita sudah melangkah ke arah mihwar dawly, yaitu orbit kekuasaan.

Dengan perubahan dan perkembangan seperti ini, mestinya sikap mental dan pola pemikiran kita juga harus berubah, jangan sampai ada yang ketinggalan. Struktur berdasarkan evaluasi dan penetapan kebijakan Majelis Syuro, saat ini merumuskan bahwa kita sedang berada pada
posisi menuju mihwar dawly. Artinya orbit kita sedang menuju orbit pemerintahan, bagian dari pengambil keputusan penting di republik ini. Hal ini perlu disadari dan dipahami oleh seluruh pengurus dan kader, karena jika ada diantara mereka yang ketinggalan wacana positioning
kita saat ini, tentu akan menjadi sebuah problematika baru.

Untuk selanjutnya-mengenai positioning ini perlu didiskusikan lebih jauh lagi. Sebab pada orbit institusi, perilaku organisasi kita, baik sikap dan policy-nya kerap kali bernuansa opposan. Kita selalu mengambil posisi pada satu kutub, sementara pemerintah kita letakkan pada kutub
lain. Namun, tentunya berbeda suasananya pada orbit kekuasaan. Yang terjadi sebaliknya, justru kita yang didemo kelompok lain, yang merasa tidak puas atas policy penguasa. Sebagai contoh kongkrit adalah kasus kebijakan pemerintah menaikkan BBM. Walaupun bukan PKS yang menaikkan, bahkan dari awal PKS tidak menyetujuinya, tetapi sebagai rekan koalisi pemerintah, tetap saja PKS terkena getahnya.

Apalagi ketika - Insya Allah- suatu saat nanti PKS diamanahi oleh Allah memegang kekuasaan penuh pemerintahan ini. Tentu beban berat pengelolaan negara beserta seluruh rakyat Indonesia ini harus kita pikul. Semua kelompok agama, etnis, maupun ras yang ada mesti diurus. Harus mampu
mengakomodasikan berbagai macam kepentingan kelompok dan golongan. Mesti cepat dan tanggap terhadap tuntutan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Pada posisi ini, sikap mental dan kemampuan penguasaan kita terhadap konsep-konsep pengelolaan negara, tidak bisa tidak, mesti
sudah dimiliki dan siap dijalankan.

Pada jajaran fungsionaris partai dan para kader, pada saat ini, tentu ada sebagiannya-walaupun jumlahnya masih kecil- berbeda frekwensi. Masih saja termangu-mangu dan bahkan kadang menolak sebuah policy partai. Kalaulah penolakan ini disebabkan oleh ketidakmengertian terhadap
masalahnya, maka hal ini masih mudah dipahami. Berikan penjelasan, diskusikan pertimbangan serta latar belakangnya, lalu masalahnya selesai. Akan tetapi kalau penolakan ini bersifat I’tiqodi
(konseptual), maka keadaanya bisa menjadi runyam, terutama kalau yang bersangkutan termasuk kategori orang yang sulit menerima taushiyyah serta pendapat orang lain.

Kewajiban kita adalah menasehati teman-teman yang berperilaku demikian, agar selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, juga taat kepada qiyadah mereka yang tergabung dalam jama’ah dakwah ini. Selanjutnya kita serahkan urusannya kepada Allah SWT, Wallahu A’lam.

Majalah Saksi No. 17 Tahun VII 25 Mei 2005

Syaikhut Tarbiyah, KH Rahmat Abdullah: “Ikhwanul Muslimin Inspirasi Gerakan Tarbiyah”

Thursday, June 2nd, 2005

Usianya belumlah setengah abad. Tapi pembawaannya yang tenang kebapakan
serta rambut dan janggutnya yang sebagian telah memutih, mengesankan pria
kelahiran Jakarta, 3 Juli 1953 ini lebih tua dari usia yang sebenarnya. Sehingga
cukup pantas bila ia kerap dituakan dan disegani oleh lingkungan pergaulannya.

Dalam publikasi acara Seminar Nasional "Tarbiyah di Era Baru" di Masjid UI,
Kampus UI Depok, awal bulan lalu, ustadz keturunan Betawi ini ditetapkan
sebagai pembicara utama (keynote speaker) serta disebut sebagai Syaikhut
Tarbiyah; sebuah jabatan yang belum populer di telinga masyarakat, termasuk
di kalangan aktivis da’wah dan harakah (pergerakan) selama ini. Ketika dikonfirmasi Sahid tentang jabatan tersebut, sambil tersenyum dan merendah Rahmat membantahnya. Menurut Ketua Yayasan Iqro’ Bekasi ini sebutan tersebut hanyalah gurauan panitia yang kebetulan telah akrab dengannya.

Rahmat sempat mengajukan keberatan kepada panitia, tapi ternyata publikasinya sudah
terlanjur disebar. Akhirnya ayah dari tujuh putra-putri ini cuma bisa balik
bergurau, "Adik-adik mau nyindir bahwa saya sudah kakek-kakek ya? Syaikh itu
kan dalam bahasa Arab artinya kakek."

Boleh jadi jabatan Syaikh Tarbiyah itu, seperti diakuinya, cuma gurauan atau
sindiran panitia. Tapi banyak orang percaya sejatinya suami Sumarni HM Umar
ini memang orang yang dituakan dalam gerakan yang bernama Tarbiyah. Apalagi
mengingat di kepengurusan Partai Keadilan (PK) Rahmat memegang amanat
sebagai
Ketua Majelis Syuro dan Ketua Majelis Pertimbangan Partai. Seperti
dimaklumi,
PK didirikan dan disokong oleh para kader Tarbiyah.

Dalam seminar nasional yang dihadiri ribuan aktivis dan simpatisan Tarbiyah,
Rahmat mengawali acara dengan orasi bertajuk "Kilas Balik 20 Tahun Tarbiyah
Islamiyah di Indonesia dan Langkah Pasti Menyongsong Masa Depan." Dalam
kesempatan tersebut dicanangkan tahun 1422 H ini sebagai tahun kebangkitan
Tarbiyah Islamiyah di Indonesia.

Dalam kancah pergerakan Islam di Indonesia, nama gerakan Tarbiyah belum
populer di kalangan masyarakat awam. Kata tarbiyah lebih biasa dilekatkan
orang
pada Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), sebuah ormas Islam yang berbasis
di
Sumatera Barat dan pernah menjadi partai Islam.

Namun bagi orang yang akrab dengan gerakan da’wah kampus, tidaklah merasa
asing dengan sebutan itu. Di era ‘80-an dan ‘90-an gerakan ini kerap juga
disebut Ikhwan, karena akrabnya aktivis Tarbiyah dengan manhaj gerakan
Ikhwanul
Muslimin, gerakan Islam di Mesir yang pengaruhnya telah mendunia.

Dari orasi yang disampaikan Rahmat, memori orang terpanggil lagi pada
kenangan 20 tahun ke belakang ketika aktivis Tarbiyah merintis gerakan ini
di
kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Salah satu tandanya adalah merebaknya
pengajian
usrah dan halaqah di kampus-kampus. Tonggak lainnya, mulai maraknya
pemakaian jilbab oleh para siswi dan mahasiswi yang mendapat tentangan keras
dari
berbagai kalangan yang alergi terhadap syariat Islam. "Gedung sekolah dan
semua
peralatan sekolah, termasuk Departemen Pendidikan yang dibangun 90% dananya
dari ummat Islam, harus mengusir putri-putri Islam karena mereka menggunakan
busana demi melaksanakan perintah agama mereka," ungkap murid kesayangan
almarhum KH Abdullah Syafi’i ini dalam orasinya.

Begitu banyak pahit getir yang dirasakan, sehingga ada sebagian kader yang
terputus dari jalan perjuangan. Tapi banyak pula yang bersabar, terus
bermujahadah menempa diri dan menabung amal, bertahan hingga kini, menyemai
insan
dakwah ke seluruh pelosok negeri. Hasilnya antara lain, jilbab jadi pakaian
jamak bagi wanita di negeri ini. Dari yang benar-benar penuh kesadaran
berislam
hingga yang masih ikut-ikutan lantaran telah jadi mode.

Tentu saja itu semua bukan cuma hasil kerja Rahmat Abdullah dan kawan-kawan
seperjuangannya di Tarbiyah. Tapi harus diakui saham harakah Tarbiyah
bersama
harakah-harakah lain telah memberi itsar (bekas) perjalanan da’wah yang
mengesankan di zamrud katulistiwa tercinta ini.

Bagaimana sejarah bermulanya harakah ini? Apakah benar terkait dengan
Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir? Kepada Saiful
Hamiwanto,
Pambudi Utomo dan Deka Kurniawan dari Sahid, yang bertandang ke rumahnya
yang
sederhana nan asri di Kompleks Islamic Village Iqro’, Pondok Gede, Bekasi,
kiai yang ramah ini membeberkannya untuk Anda, para pembaca. Berikut ini
kutipan dari sekitar tiga jam perbincangan dengannya. Selamat mengikuti.

Dengan menggelar seminar "Tarbiyah di Era Baru", gerakan Tarbiyah tampaknya
mulai membuka diri secara terang-terangan. Bahkan tahun ini dicanangkan
sebagai ‘Aam (Tahun Kebangkitan) At-Tarbiyah. Apa latar belakangnya?

Bismillah, sangat disadari bahwa setiap fase perjuangan itu menuntut
sikap-sikap sesuai dengan fase-fase tersebut. Sehingga ada doktrin dalam
Tarbiyah
yang disebut, likulli marhalatin mutaqallabatuhaa (setiap fase itu ada
tuntunannya); kemudian li likulli marhalatin muqtadhayatuhaa, (setiap fase
ada
konsekuensi yang harus dilahirkannya), dan likulli marhalatin rijaaluhaa
(setiap
fase ada orangnya, tokohnya atau kadernya).

Kemudian, apa yang kita sampaikan ketika dakwah ini mengalami satu fase yang
berbeda dengan masa lalu? Kemarin dakwah berhasil melalui masa-masa sulit,
mengayuh diantara dua persoalan dan kondisi, yakni kondisi melawan arus yang
tidak terlawan dengan kekuatan yang secara thobi’i (alami) susah dihadapi
secara face to face, serta kondisi larut.

Memang, dalam fase itu, kita lihat banyak juga yang tidak memiliki
istimroriyah (kesinambungan), kontinyunitasnya tidak jelas. Kalaupun ada
yang berjalan
terus, perkembangannnya menyedihkan. Ada juga yang berkembang tapi
kehilangan asholah (orisinalitas). Ini adalah kasus-kasus perjalanan dakwah
dalam
menghadapi rezim yang represif dan tekanan budaya. Bisa jadi banyak yang
larut.
Seperti para pengikut Nabi Isa, setelah beberapa lama malah jadi pengikut
penjajah yang nyaris menyalib Nabi Isa sendiri.

Nah, kita ingin, keberhasilan melewati masa-masa kritis dan sulit semacam
itu juga bisa kita capai ketika keadaan ini berubah, karena tidak otomatis
daya
tahan itu ada. Makanya harus dicanangkan sesuatu agar apa-apa yang menjadi
doktrin Tarbiyah di atas, bisa direalisasikan.

Bisa jadi, kader yang dulu tahan menderita lama, tiba-tiba ketika segalanya
terbuka seperti sekarang ini, menjadi tidak tahan lagi. Kalau dulu kan jelas
sekali perbedaannya, furqon-nya, antara haq dan batil, sehingga akhlak para
kader itu selalu berlawanan dengan akhlak buruk orang-orang memusuhi mereka.
Nah, setelah keadaan ini terbuka, apa ada jaminan bahwa mereka tidak akan
larut?

Memang, secara doktrin sudah diantisipasi, misalnya dengan pemahaman tentang
tamayyu’ (mencairnya nilai-nilai), idzabah (pelarutan), istifdzadzat
(provokasi), ighra’at (rayuan-rayuan), dan mun’athofat (tikungan-tikungan).
Secara
teoritis kita tahu semua tentang itu. Tapi ketika kita menjalaninya, apakah
kita cukup siap?

Maka pencanangan ini beranjak dari kenyataan, dimana sebuah komunitas dakwah
sedang mengalami fase-fase lain yang berbeda dengan fase ketika mereka
dibesarkan dulu. Pencanangan ini untuk menyiapkan sesuatu yang secara
teoritis
sudah mereka kenal, tetapi secara komunal, penghayatan, apresiasi perlu
dihadapi
secara lebih serius agar tidak menimbulkan persoalan yang rumit yang
menyebabkan taurits (pewarisan) itu menjadi terputus.

Dulu dimulai satu langkah dan hasilnya adalah hari ini. Bagi yang tidak mau
melihat hasil yang sama di hari nanti, ya sekarang diam dan tidur saja. Tapi
kalau ingin melihat terus-menerus keadaan seperti ini, maka harus bergerak
untuk masa mendatang. Ini terutama yang melatarbelakangi pencanangan ‘Aam
At-Tarbiyah (Tahun Tarbiyah).

Tapi perlu dicatat bahwa pengertian tarbiyah (pendidikan) ini tidak
menafikan proses tarbiyah yang terjadi di Indonesia sejak dulu. Tanpa proses
tarbiyah, bagaimana mungkin walisongo dapat melahirkan pejuang-pejuang
handal. Apapun
namanya, apakah itu pengkaderan dengan ‘t’ kecil (tarbiyah), yang jelas itu
adalah proses pendidikan. Namun Tarbiyah yang sedang kita perbincangkan
dalam
konteks ini adalah dengan ‘t’ besar, Tarbiyah (sebagai nama sebuah gerakan,
red).

Wanti-wanti tentang pelarutan ini pernah Anda sampaikan waktu Munas PK tahun
2000. Apakah memang anda sendiri sudah melihat kecenderungan itu, sehingga
perlu ada pencanangan ini?

Kalau kita baca sirah (sejarah), Rasululllah pernah berpesan diantaranya "ma
al-faqru bi akhsya alaikum, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari
kalian, tapi aku mengkhawatirkan apabila bumi di buka (dimenangkan) lalu
kamu
bersaing memperebutkan dunia, sehingga kamu celaka, sebagaimana celakanya
orang-orang sebelum kamu." Dulu, kesulitan itu membuat segalanya terbatas,
dan kita
berhasil melewatinya. Contohnya, kita tidak punya villa, tapi bisa menikmati
banyak villa. Dan kawasan Puncak (Bogor, red) yang dianggap identik dengan
maksiat, seperti hari ini bisa berubah sebagai tempat acara pengajian karena
seringnya digunakan untuk pengkaderan oleh semua pihak, diantaranya oleh
kalangan Tarbiyah.

Wanti-wanti rasul itu, dalam kaitan ini, menegaskan bahwa setiap kondisi ada
pengaruhnya. Kalau dulu, setiap waktu mereka bisa bertemu, sehingga
kesalahan sedikit saja bisa langsung diketahui. Tapi ketika mereka sudah ada
di
kawasan yang menggiurkan, secara massal tantangan akan semakin keras.
Sesuatu yang
menggiurkan, kalau baru cerita, masih bisa bilang tidak mau. Tapi kalau
sudah sudah di depan mata, bagaimana mungkin tidak tidak tergoda.

Supaya tidak larut, mereka jangan sampai lupa kepada akarnya. Makanya,
pemantapan nilai Tarbiyah dalam pencanangan ini tidak bisa kita abaikan,
meskipun
sekarang mereka masih rutin bertemu setiap pekan dengan muhasabah (evaluasi)
dan muraqabah (pengawasan).

sumber : milis muslim-gta