Gak Ngulang Lagi
Masih ingat gak waktu kecil dulu, kita
sering banget boongin bunda. Kalo sore hari dah menjelang, kita sering
pergi nyuri-nyuri. Tau aja Bunda lagi mandi atau lagi istirahat dari
pekerjaannya seharian, kita tanpa ba-bi-bu lagi langsung kabur.
Kadang-kadang sendal jepit yang kita pake sering putus ato tanggal
karena kesandung.
Rasanya lega banget kalo kita dah nyampe di
jalan besar itu, trus bareng teman-teman yang udah nungguin dari tadi
menelusuri aspal menuju sungai tempat kita menumpang mandi, he he he.
Kita tuh lupa dengan kata-kata bunda, atau jeweran dikuping yang masih
kerasa dari kemaren, atau kayu untuk kecil yang sering patah di betis.
Semuanya hilang dan yang ada hanya kegembiraan, keceriaan yang tak
habis-habisnya….
Satu persatu baju, celana, daleman kita tarok
begitu saja diatas rumput dipinggiran sungai. Kemudian badan polos
telanjang bulat terbang setelah aba-aba satu, dua, tiga menggema. Tubuh
melambung melayang terbang … kemudian sesaat kemudian menukik
menyongsong air … dan byur !!! menyelam beberapa saat dengan mata
terpejam kemudian muncul sambil melonjak kegirangan dengan kepala yang
basah dan wajah sumringah dengan ketawa.
Tidak peduli air itu
datang darimana dan coklat adalah warna utama, yang penting bisa lompat
dan nyebur aja sudah cukup. Kadang berenang ke seberang jika pohon
mangga berbuah. Batu, kayu atau apa saja jadi senjata untuk menjatuhkan
mangga-mangga muda. "Wuzzz…" suara kayu dan batu melayang menuju
segerombolan mangga yang bertengger didahannya. Sesaat kemudian
"bledug.. bledug..!" Mangga jatuh berserakan dan kita pun berhamburan
berebutan.
Kita kecapekan berenang, untuk kembali kita mencari
batang pisang. Kemudian ditebang, beruntung kalo ada yang panjang kita
bisa bergelantungan berpasang-pasang. Atau kalau lagi senang kita bikin
rakit dengan 3-4 batang. Setelah jadi, kita tarik ke hulu yang paling
jauh… kemudian kita menuju hilir dengan berakit sambil duduk atau
tidur terlentang menikmati awan berarak, atau terlungkup menikmati
bunyi aliran air. Dan tak lupa pula kita mengupas mangga dengan
gigi-gigi yang mulai kokoh, walopun terkadang terasa nyeri di gigi yang
baru saja copot kemaren hari dan belum tumbuh pengganti.
Selama
perjalanan dari hulu menuju hilir tak ada teriak tak ada ketawa dan tak
ada suara. Kita sama-sama melepas lelah, menikmati alam yang jelas
beberapa tahun lagi kita takkan pernah bisa menikmatinya. Karena kita
malu dengan usia, dan tentunya kita akan berpisah sesuai garis yang
sudah ditakdirkanNya. Saat itu masing-masing kita ingat Bunda. Ya,
bunda yang sedang sibuk mencari dimana kita berada. Dan kita
membayangkan sebentar lagi kita akan kejar-kejaran dengan Bunda kembali
ke rumah.
"Adiiiii, Ipaatttt, Andiiiii, Imaaannn …
pulaaaangggggg !!!" Benar saja … dari kejauhan Bunda datang
tergesa-gesa, dan kita pun lebih tergesa-gesa lagi menuju ketepian. tak
sempat lagi mengambil pakaian dan kita pun berlarian dengan polos tanpa
benang menuju rumah idaman.
Sesampai dirumah kita sudah siap
sedia menerima hukuman. Kita berbaris di teras, menunggu bunda. Sesaat
bunda datang kita jadikan saat yang tepat untuk saling menyalahkan.
Siapa yang mengajak, dan siapa yang mau. Namun disaat bunda datang kita
tak berani berkata-kata. Hanya ada kata "aduuhh", "ampuun bundaa", "gak
ngulang lagi"… berkali-kali kita ucapkan. Untuk kata-kata yang
terakhir kita tidak berucap jujur, karena kita yakin kita akan nyebur
bareng lagi