Archive for December, 2005

Cerita Menjelang Pagi

Friday, December 30th, 2005

Hari
ini insya Allah saya akan melanjutkan perjalanan ke Kota gudeg Jogja.
Dua hari di kota dingin ini saya tidak bisa berbuat banyak. Kecuali
diisi dengan ngurus ijazah, ngenet, ketemu temen-temen, makan sate,
tidur di kasur berdebu, backup data (lebih tepatnya film-film terbaru
sih) di ftp nya mesin.

Kemaren hari saya sempat ketemu dengan bapak ini
yang mana sebelum ini saya tidak sempat pamit pada beliau. Sebelum
bertemu dengannya saya sudah bersiap sedia untuk dimarahi, maklum saya
meninggalkan webnya yang cantik itu
tanpa ada yang ngurus. Alhamdulillah banyak yang kami obrolkan, walopun
sebelumnya saya disindir (alhamdulillah gak dimarahi) berangkat begitu
saja tanpa pamit ataupun pesan.

Banyak agenda saya yang belum
terselesaikan disini. Ke DPD, pamitan dengan ustadz, Ngasihin kwitansi,
tidur di Sentaurus, ambil tape recorder dan .. ah banyak kali yang
belom saya selesaikan. Sekarang saya masih berkutat dengan bekap-bekap
data di komputernya Ibon. Entahlah, saya sepertinya sedang merasakan
syurga internet di kampus brawijaya ini.

Sejujurnya saya bilang,
bagi mahasiswa yang saat ini masih memanfaatkan fasilitas ini. Saran
saya pergunakan dengan sebaik-baiknya, karena gak bakal ada fasiltas
seperti ini di dunia kerja sana. Ada, itu kalo menjadi staff IT atau
bekerja di bidang IT, kalo menjadi kuli biasa mah jangan harap akan
menikmati sajian internet seperti ini.

tulisan bulan Mei yang lalu

Wednesday, December 14th, 2005

Alhamdulillah, tulisan yang sengaja saya tulis bulan Mei yang lalu. Sudah banyak
tersebar di media web, dibahas dalam forum online, di foward ke milis-milis, di
kirim ke buletin board friendster.

Insya Allah saya tidak
memusingkan kalo ada orang yang mencatut namanya sebagai penulis
tulisan tersebut. Bagi saya, semakin banyak orang yang tau semoga Allah
semakin ridho kepada saya. Semoga dengan tulisan itu bisa menggugah
kesadaran orang-orang yang saya tuju. Biar saja penulis tulisan itu
tidak ada atau tertera hamba Allah atau mungkin ada orang yang berani
bikin namanya sebagai penulis. Biarkan saja. Karena sejak awal saya
memang tidak ingin diketahui bahwa yang nulis itu adalah saya….

Ya
Allah, Engkau maha mengetahui segala apa yang tampak maupun yang tak
tampak. Aku berharap keridhoanMu bagi mereka-mereka yang sudah berperan
menyebarkan apa-apa yang pernah aku tulis walopun terkadang ada
diantara mereka yang menyatut nama. Jangan Engkau hukum kami atas
kekhilafan kami ya Allah. Berikan ampunan kepada kami ya
Allah.

Ngapain Harus Ontime ?

Monday, December 5th, 2005

Saat ini masih 5 Desember. Saya sedang mengikuti pelatihan manajemen
Apotik di Sucofindo. Gak usah dibahas ya, kenapa kok bisa ikutan
pelatihan semacam itu. Yang bakal saya bahas adalah masalah klasik
budaya orang Indonesia Raya !

Entah kenapa dan sampai kapan saya
tidak tau alasannya, kenapa kok setiap seminar, pelatihan dan
sejenisnya bangku/tempat duduk yang penuh duluan adalah bagian
belakang. Aneh, bangku depan adalah bangku ajaib yang selalu kosong.
Atau mungkin ada jin yang sudah ada duduk disana ? Kalau sang pembawa
acara mau memulai acara kemudian
mempersilahkan untuk memenuhi
tempat duduk di depan, baru kita malu-malu dengan tersenyum simpul
sambil dorong-dorong pindah ke depan. ah, klasik sekali !

Hal
ini bukan berarti saya tidak pernah seperti itu. Saya pernah sengaja
untuk duduk di belakang. Dulu waktu kuliah selalu memilih duduk di
belakang, karena memang postur dan rambut saya yang gondrong
menghalangi mahasiswa yang lain makanya saya pilih duduk di belakang.
Dan alasan yang lebih tepat lagi, saya kuliah niatnya bukan untuk
dapetin ilmu tapi lebih sering niatnya nyambung tidur yang baru 2 jam.
Itu dulu … ( ah, kayak orang-orang sudah tua saja saya )

Terus
terang, ternyata budaya seperti saya di mahasiswa dulu masih banyak
yang memakainya di dunia kerja. Saya akui, saya dulunya bukanlah
mahasiswa yang patut ditiru. Walopun saya pernah menjadi mahasiswa
berprestasi di kuliah dulu (maaf sedikit membuka rahasia).

Entah
angin, hujan, petir ataupun mimpi apa semalam saat ini saya kok
sepertinya lebih kelihatan (kelihatan belum tentu sebetulnya) lebih
bijaksana (ehm). Saya berpikir gimana saya bisa maksimal mengikuti
pelathihan ini kalau saya duduk di belakang. Mungkin orang lain bisa
kali ya, soalnya mereka emang pinter-pinter. Tapi untuk saya sepertinya
susah deh. Apalagi saya adalah orang yang awam dalam hal
ini.

Trus,
ini nih yang bikin saya (mungkin juga yang lain) rada gak ngeh. Gak di
DPR, instansi, dimana aja budaya ngaret tetap saja ! Sejak saya datang
disini, duduk di bangku ini, sampai saya menulis sebanyak ini belum ada
tanda-tanda acara mau di mulai. Sampai kepikiran, ini acara jadi gak
sih ? satu setengah jam belum mulai juga ? ini mah bukan telat lagi
tapi "molos" (molornya kayak mbolos). Saya mo protes, protes pada siapa
?

Apa saya harus ngikut kata iklan "Kalo yang lain pada ngaret
ngapain harus ontime ?". Ah, malu saya sama Allah. Kalo akhirnya telat juga apa gunanya sholat
ontime ?

Kalo Boleh

Friday, December 2nd, 2005

Hari
ini, andai saja diperbolehkan aku ingin sekali kamu duduk disampingku, sekedar
menemani untuk berbincang-bincang. Atau mungkin kalau saya boleh
memakai istilah yang lagi "in" saat ini, saya ingin curhat. Ya, saya
ingin curhat ! saya ingin bercerita, saya juga ingin seperti mereka
yang selalu setia menjadikan saya sebagai pendengar yang baik. Walau
terkadang saya meragukan apa benar saya bisa menjadi pendengar yang
baik ? Malah saya dimintai pendapat gimana baiknya. Jelas, saya
berusaha untuk memberikan pendapat se-obyektif mungkin sesuai dengan
apa yang pernah saya alami, pikirkan bahkan dari referensi yang pernah
saya baca dan tepatnya sesuai dengan kemampuan saya untuk mencerna. …

Harapan
saya cuma satu, agar masalah yang mereka bisa sedikit mencair setelah
berbincang dengan saya, atau setidaknya mereka bisa meletakkan untuk
sementara beban yang berat dipundaknya. Walaupun nanti akan menumpuk
lagi di pundaknya. Ya lebih tepatnya ada saat melepas kepenatan pikiran
dengan berbincang-bincang. Saya ingin melihat mereka tersenyum lega
setelah berbicara panjang lebar ke dalam telinga saya. Dan tentunya itu
semua harus saya simpan rapi di dalam hati, dikeluarkan hanya sesuai
porsi orang-orang terntentu yang berkaitan erat dengan pembicaraan.
Bahkan untuk hal yang sangat sensitif atau aib saya mengunci mati dalam
sebuah peti.

Saya ingin seperti mereka… ingin sekali. Makanya
saya ingin (kalo boleh) kamu saat ini berada disampingku, untuk hanya
sekedar mendengarkan kenapa saya tidak bisa tidur cepat tadi malam.
Atau mungkin mendengarkan saya bercerita tentang rumah yang sewa
kemaren sore. Ah, kamu tau ? semua itu rasanya plong banget … setelah
saya bercerita tumpah ruah. Walopun capeknya setengah mati saya bekerja
seharian, tapi disaat ada kamu tempat saya berbagi saya akan merasa
semua capek itu hilang seketika, walopun kamu hanya diam membisu
mendengarkan saya dan sesekali melemparkan senyum. Itu saja. Ya itu
saja, diam dan senyum tulus itu bagi saya lebih dari mutiara.

Untuk
saat ini saya harus menunggu "kalo boleh" itu sekian lama lagi. Ya Allah saya mohon jagalah diri ini, jagalah hati ini hanya kepadamu. Ya
Allah saya serahkan urusan semua ini padamu. Ijinkanlah kami untuk
berkumpul dalam kebaikan, untuk menuju kebaikan Mu ya Allah.
Permudahlah jalan ini ya Allah, karena Engkaulah sesungguhnya pemberi
kemudahan. Tidak ada sesuatupun yang mudah tanpa kemudahan dari Engkau.
Hanya padaMu hamba berserah diri.