Archive for March, 2006

KASIHANILAH PARA PENCINTA

Tuesday, March 7th, 2006

Anis Matta
Tarbawi Edisi 120

Sepasang aktivis itu datang menemui saya dengan mata berbinar. Binar cinta yang bersemi di mushalla kampus dan di bangku kuliah dan di arak-arakan jalanan demonstrasi untuk reformasi. De tengah badai politik itu cinta mereka bersemi.

Tapi cinta gadis keturunan arab dengan pemuda jawa itu kandas. Kasih mereka tak sampai ke pelaminan. Restu orang tua sang gadis tak berkenan meneruskan riwayat asmara putih mereka. Tragis. Tragis sekali. Kerena di hati siapapun cinta yang suci dan tulus seperti itu singgah, kita seharusnya mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui di sisi Allah. Sebab karena direstui itulah Rasulullah SAW lantas bersabda, ”Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan”.

Islam memang begitu. Sebab ia agama kemanusiaan. Sebab itu pula nilai-nilainya selalu selalu ramah dan apresiatif terhadap semua gejolak jiwa manusia. Dan sebab cinta adalah perasaan kemanusiaan yang paling luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang sangat luas dalam tata nilai islam.

Itu karena islam memahami betapa dahsyatnya goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur. Tak ada lelah. Tak ada takut. Tak ada jarak. Tak ada aral. Yang ada hanya hasrat, hanya tekad, hanya rindu, hanya puisi, hanya keindahan. Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara ke jantung hati sang kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.

Dua jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak bagaikan api dengan panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan cahaya. Mungkin berlebihan atau mungkin memang begitu, tapi siapapun yang melantunkan bait ini agaknya ia memang mewakili perasaan banyak arjuna yang sedang jatuh cinta : separuh nafasku terbang bersama dirimu.

Bisakah kita membayangkan betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta lantas dipisah tradisi atau apa saja? Tragedi Zaenuddin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijk, atau Qais dan Laila dalam Majnunu Laila, terlalu miris. Sakit. Terlalu sakit. Karena di alam jiwa seharusnya itu mustahil. Tragedi cinta, selamanya merupakan tragedi kemanusiaan. Sebab itu, memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai adalah misi terbesar syetan. Sebab itu, menjodohkan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah tradisi kenabian.

Suatu saat, khalifah Al Mahdi singgah beristirahat dalam perjalanan haji ke Mekkah. Tiba-tiba seorang pemuda berteriak, ”Aku sedang jatuh cinta.” Maka Al Mahdi pun memanggilnya, ”Apa masalahmu?”. ”Aku mencintai puteri pamanku dan ingin menikahinya. Tapi ia menolaknya karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib dalam tradisi kami.”

Al Mahdi pun memanggil pamannya dan berkata padanya, ”Kamu lihat patera-puteri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah lelaki ini dengan puterimu dan terimalah 20 ribu dirham ini; 10 ribu untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.”

TEMU JIWA SENTUH FISIK

Thursday, March 2nd, 2006

Anis Matta
Tarbawi Edisi 121

Sholatnya panjang dan khusuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai sholat perempuan itu akhirnya rebah di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang. Tapi cinta tetaplah cinta. Walaupun untuk jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia punh rebah dengan doa-doa ;

”Ya Allah, yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku mohon padaMu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu Engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah, tetapkanlah hukum-Mu di antara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami.”

Untungnya malam itu khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya, itu tadi; mencari tahu opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khususnya istri-istri mereka. Dan suara perempuan itulah yang ia dengar.
Ini tabiat yang membedakan cinta jiwa dari cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Disini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.

Cinta jiwa bukan sekedar kecenderungan spiritual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar syahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya Passionate Love. Tanpa itu, cinta jiwa akan menjelma menjadi kerinduan yang membawa semua penyakit. Sebagiannya hanya akan berujung kegilaan. Seperti yang dialami Qais dan Laila.

Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pencinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi lantas berubah jadi sumber penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat paling mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini juga penjelasan mengapa hubungan badan antara suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qoyyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan jiwa dan raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi.
Makna itu yang dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia bertanya, ”Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” ”Enam bulan,” jawab mereka. Kisah ini sebenarnya mengikut pada temuan yang sama di masa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu dan hasrat. Dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini ;

Air mata mengalir bersama larut malam
Sedih mengiris hati dan merampas tidur
Bergulat aku lawan malam
Terawangi bintang
Hasrat rindu mendera-dera
Melukai jiwa

Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau lepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak kan pernah sanggup menyelesaikannya. Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa mengobati hasrat jiwa.

Disaat itu nanti …

Wednesday, March 1st, 2006

Waktu
pun berjalan terasa lambat, dan kita lewati banyak kali dengan diam.
Hanya saling tukar menukar "call" setiap dini hari. Berharap, kita bisa saling
berdo’a dan memohon semoga Allah meridhoi, memberkahi dan memberikan
kemudahan rencana kita ini.

Biarkan orang bilang kuno, aneh atau
mungkin "sok ?". Namun itulah, kita harus tetap menjaga. dan beginilah indahnya saat-saat menunggu
sesuatu yang akan dihalalkan oleh Allah Azza Wa Jalla.

Sungguh, godaan
itu sering kali datang, namun dengungan untuk selalu memperbaiki diripun tak
kalah hebatnya. Saya merasakan itu, tentunya kamu juga ? Jelas, Kita memang
bukan malaikat, yang bisa tak pernah salah atau selalu handal dalam
menahan godaan. Tapi kita punya jalan bertobat, memohon ampunan setiap
kesalahan yang kita lakukan. …

Disaat itu nanti …
Kita
berdua berusaha untuk bisa maju kedepan selangkah demi selangkah,
berusaha mendekatkan jarak walaupun semili demi semili dengan derajat ketakwaan para
orang-orang sholeh. Lelah, letih, bahkan tertatih-tatih … memang ! namun percayalah, Insya Allah disamping kamu
ada aku dan disamping aku ada kamu, dan Allah selalu mengawasi, melihat dan semoga tersenyum kepada
kita.  amin !