tulisan bulan Mei yang lalu

December 14th, 2005 by padang

Alhamdulillah, tulisan yang sengaja saya tulis bulan Mei yang lalu. Sudah banyak
tersebar di media web, dibahas dalam forum online, di foward ke milis-milis, di
kirim ke buletin board friendster.

Insya Allah saya tidak
memusingkan kalo ada orang yang mencatut namanya sebagai penulis
tulisan tersebut. Bagi saya, semakin banyak orang yang tau semoga Allah
semakin ridho kepada saya. Semoga dengan tulisan itu bisa menggugah
kesadaran orang-orang yang saya tuju. Biar saja penulis tulisan itu
tidak ada atau tertera hamba Allah atau mungkin ada orang yang berani
bikin namanya sebagai penulis. Biarkan saja. Karena sejak awal saya
memang tidak ingin diketahui bahwa yang nulis itu adalah saya….

Ya
Allah, Engkau maha mengetahui segala apa yang tampak maupun yang tak
tampak. Aku berharap keridhoanMu bagi mereka-mereka yang sudah berperan
menyebarkan apa-apa yang pernah aku tulis walopun terkadang ada
diantara mereka yang menyatut nama. Jangan Engkau hukum kami atas
kekhilafan kami ya Allah. Berikan ampunan kepada kami ya
Allah.

Ngapain Harus Ontime ?

December 5th, 2005 by padang

Saat ini masih 5 Desember. Saya sedang mengikuti pelatihan manajemen
Apotik di Sucofindo. Gak usah dibahas ya, kenapa kok bisa ikutan
pelatihan semacam itu. Yang bakal saya bahas adalah masalah klasik
budaya orang Indonesia Raya !

Entah kenapa dan sampai kapan saya
tidak tau alasannya, kenapa kok setiap seminar, pelatihan dan
sejenisnya bangku/tempat duduk yang penuh duluan adalah bagian
belakang. Aneh, bangku depan adalah bangku ajaib yang selalu kosong.
Atau mungkin ada jin yang sudah ada duduk disana ? Kalau sang pembawa
acara mau memulai acara kemudian
mempersilahkan untuk memenuhi
tempat duduk di depan, baru kita malu-malu dengan tersenyum simpul
sambil dorong-dorong pindah ke depan. ah, klasik sekali !

Hal
ini bukan berarti saya tidak pernah seperti itu. Saya pernah sengaja
untuk duduk di belakang. Dulu waktu kuliah selalu memilih duduk di
belakang, karena memang postur dan rambut saya yang gondrong
menghalangi mahasiswa yang lain makanya saya pilih duduk di belakang.
Dan alasan yang lebih tepat lagi, saya kuliah niatnya bukan untuk
dapetin ilmu tapi lebih sering niatnya nyambung tidur yang baru 2 jam.
Itu dulu … ( ah, kayak orang-orang sudah tua saja saya )

Terus
terang, ternyata budaya seperti saya di mahasiswa dulu masih banyak
yang memakainya di dunia kerja. Saya akui, saya dulunya bukanlah
mahasiswa yang patut ditiru. Walopun saya pernah menjadi mahasiswa
berprestasi di kuliah dulu (maaf sedikit membuka rahasia).

Entah
angin, hujan, petir ataupun mimpi apa semalam saat ini saya kok
sepertinya lebih kelihatan (kelihatan belum tentu sebetulnya) lebih
bijaksana (ehm). Saya berpikir gimana saya bisa maksimal mengikuti
pelathihan ini kalau saya duduk di belakang. Mungkin orang lain bisa
kali ya, soalnya mereka emang pinter-pinter. Tapi untuk saya sepertinya
susah deh. Apalagi saya adalah orang yang awam dalam hal
ini.

Trus,
ini nih yang bikin saya (mungkin juga yang lain) rada gak ngeh. Gak di
DPR, instansi, dimana aja budaya ngaret tetap saja ! Sejak saya datang
disini, duduk di bangku ini, sampai saya menulis sebanyak ini belum ada
tanda-tanda acara mau di mulai. Sampai kepikiran, ini acara jadi gak
sih ? satu setengah jam belum mulai juga ? ini mah bukan telat lagi
tapi "molos" (molornya kayak mbolos). Saya mo protes, protes pada siapa
?

Apa saya harus ngikut kata iklan "Kalo yang lain pada ngaret
ngapain harus ontime ?". Ah, malu saya sama Allah. Kalo akhirnya telat juga apa gunanya sholat
ontime ?

Kalo Boleh

December 2nd, 2005 by padang

Hari
ini, andai saja diperbolehkan aku ingin sekali kamu duduk disampingku, sekedar
menemani untuk berbincang-bincang. Atau mungkin kalau saya boleh
memakai istilah yang lagi "in" saat ini, saya ingin curhat. Ya, saya
ingin curhat ! saya ingin bercerita, saya juga ingin seperti mereka
yang selalu setia menjadikan saya sebagai pendengar yang baik. Walau
terkadang saya meragukan apa benar saya bisa menjadi pendengar yang
baik ? Malah saya dimintai pendapat gimana baiknya. Jelas, saya
berusaha untuk memberikan pendapat se-obyektif mungkin sesuai dengan
apa yang pernah saya alami, pikirkan bahkan dari referensi yang pernah
saya baca dan tepatnya sesuai dengan kemampuan saya untuk mencerna. …

Harapan
saya cuma satu, agar masalah yang mereka bisa sedikit mencair setelah
berbincang dengan saya, atau setidaknya mereka bisa meletakkan untuk
sementara beban yang berat dipundaknya. Walaupun nanti akan menumpuk
lagi di pundaknya. Ya lebih tepatnya ada saat melepas kepenatan pikiran
dengan berbincang-bincang. Saya ingin melihat mereka tersenyum lega
setelah berbicara panjang lebar ke dalam telinga saya. Dan tentunya itu
semua harus saya simpan rapi di dalam hati, dikeluarkan hanya sesuai
porsi orang-orang terntentu yang berkaitan erat dengan pembicaraan.
Bahkan untuk hal yang sangat sensitif atau aib saya mengunci mati dalam
sebuah peti.

Saya ingin seperti mereka… ingin sekali. Makanya
saya ingin (kalo boleh) kamu saat ini berada disampingku, untuk hanya
sekedar mendengarkan kenapa saya tidak bisa tidur cepat tadi malam.
Atau mungkin mendengarkan saya bercerita tentang rumah yang sewa
kemaren sore. Ah, kamu tau ? semua itu rasanya plong banget … setelah
saya bercerita tumpah ruah. Walopun capeknya setengah mati saya bekerja
seharian, tapi disaat ada kamu tempat saya berbagi saya akan merasa
semua capek itu hilang seketika, walopun kamu hanya diam membisu
mendengarkan saya dan sesekali melemparkan senyum. Itu saja. Ya itu
saja, diam dan senyum tulus itu bagi saya lebih dari mutiara.

Untuk
saat ini saya harus menunggu "kalo boleh" itu sekian lama lagi. Ya Allah saya mohon jagalah diri ini, jagalah hati ini hanya kepadamu. Ya
Allah saya serahkan urusan semua ini padamu. Ijinkanlah kami untuk
berkumpul dalam kebaikan, untuk menuju kebaikan Mu ya Allah.
Permudahlah jalan ini ya Allah, karena Engkaulah sesungguhnya pemberi
kemudahan. Tidak ada sesuatupun yang mudah tanpa kemudahan dari Engkau.
Hanya padaMu hamba berserah diri.

satu minggu yang lalu

October 14th, 2005 by padang

Tepat satu minggu yang lalu saya menginjakkan kaki di kota kecil ujung barat pulau jawa ini. Masih jelas membekas jejak-jejak kaki ini di jalan-jalan, taman, kafet, kampus dan kantor DPD yang sering saya kunjungi di ujung pulau jawa sebelah timur sana. Malang, kota yang mengajarkan saya tentang arti kehidupan. Tempat mencari jati diri yang semula hilang. Di kota itu lah saya berjuang merintis segalanya. Di kota itu saya menghabiskan lembaran perjalanan hidup yang tak mungkin lagi terulang. perjuangan demi perjuangan dengan semua kenangan indah, suka duka, tawa dan air mata, darah nanah yang semula tumpah ruah harus saya kumpulkan dalam sebuah dus besar dalam benak dan hati ini, mengisi sekian memori perjalanan hidup dan saya bawa terus kemana saya pergi.

Tidak akan cukup lembaran untuk menuliskan semua kisah, cerita, bahagia, derita dan sengsara saat saya berada disana. Manusia-manusia yang ikut berperan serta, saudara seiman, sahabat karib, teman dekat, kerabat dan semuanya. Satu persatu lekuk wajah, potongan rambut bahkan sampai gaya tawa mereka masih jelas dalam ingatan saya.

Malang, telah membuat seorang anak manusia yang saat ini duduk di depan monitor menyusun berpuluh-puluh kata dan lagi bingung karena saking banyaknya yang harus dia ceritakan… terlalu banyak dan terlalu indah untuk dikenang ! Tapi suatu saat nanti saya berharap bisa menyusun kata-kata menceritakan awal keberadaan saya di kota sejuk itu sampai akhirnya saya harus melanglang buana ke kota yang lain yang saya yakin nantinya juga akan mengisahkan cerita yang lain. Insya Allah

Aku mencintaimu … sungguh !

June 14th, 2005 by padang

Apa kabarmu hari ini ? ah, mudah-mudahan baik-baik saja. "Aku mencintaimu … sungguh !" itu kata-kata yang selalu kutulis belakangan ini. Kamu tau kenapa ? bukan, yang jelas itu karena aku tak tau kenapa. Aku cuma ingin mengungkapkan dalam tulisan. Apakah aku sedang jatuh cinta ? ya, aku sedang jatuh cinta . Aku sedang berbunga-bunga, menikmati cinta yang hadir dalam hatiku bukan sekedar kata-kata.

Apa kabarmu hari ini ? ah, mudah-mudahan tambah ceria saja. Aku belum pernah merasakan cinta yang sedahsyat ini. Kalaupun aku mati, aku yakin cinta ini akan tetap bersemi. …

Apa kabarmu hari ini ? ah, mudah-mudahan kamu bahagia mendengar berita ini. Apapun yang terjadi, aku Insya Allah takkan berpaling. Sungguh … dari lubuk hati aku ingin berucap … Sungguh, aku mencintai dakwah ini !

Gak Ngulang Lagi

June 13th, 2005 by padang

Masih ingat gak waktu kecil dulu, kita
sering banget boongin bunda. Kalo sore hari dah menjelang, kita sering
pergi nyuri-nyuri. Tau aja Bunda lagi mandi atau lagi istirahat dari
pekerjaannya seharian, kita tanpa ba-bi-bu lagi langsung kabur.
Kadang-kadang sendal jepit yang kita pake sering putus ato tanggal
karena kesandung.

Rasanya lega banget kalo kita dah nyampe di
jalan besar itu, trus bareng teman-teman yang udah nungguin dari tadi
menelusuri aspal menuju sungai tempat kita menumpang mandi, he he he.
Kita tuh lupa dengan kata-kata bunda, atau jeweran dikuping yang masih
kerasa dari kemaren, atau kayu untuk kecil yang sering patah di betis.
Semuanya hilang dan yang ada hanya kegembiraan, keceriaan yang tak
habis-habisnya….

Satu persatu baju, celana, daleman kita tarok
begitu saja diatas rumput dipinggiran sungai. Kemudian badan polos
telanjang bulat terbang setelah aba-aba satu, dua, tiga menggema. Tubuh
melambung melayang terbang … kemudian sesaat kemudian menukik
menyongsong air … dan byur !!! menyelam beberapa saat dengan mata
terpejam kemudian muncul sambil melonjak kegirangan dengan kepala yang
basah dan wajah sumringah dengan ketawa.

Tidak peduli air itu
datang darimana dan coklat adalah warna utama, yang penting bisa lompat
dan nyebur aja sudah cukup. Kadang berenang ke seberang jika pohon
mangga berbuah. Batu, kayu atau apa saja jadi senjata untuk menjatuhkan
mangga-mangga muda. "Wuzzz…" suara kayu dan batu melayang menuju
segerombolan mangga yang bertengger didahannya. Sesaat kemudian
"bledug.. bledug..!" Mangga jatuh berserakan dan kita pun berhamburan
berebutan.

Kita kecapekan berenang, untuk kembali kita mencari
batang pisang. Kemudian ditebang, beruntung kalo ada yang panjang kita
bisa bergelantungan berpasang-pasang. Atau kalau lagi senang kita bikin
rakit dengan 3-4 batang. Setelah jadi, kita tarik ke hulu yang paling
jauh… kemudian kita menuju hilir dengan berakit sambil duduk atau
tidur terlentang menikmati awan berarak, atau terlungkup menikmati
bunyi aliran air. Dan tak lupa pula kita mengupas mangga dengan
gigi-gigi yang mulai kokoh, walopun terkadang terasa nyeri di gigi yang
baru saja copot kemaren hari dan belum tumbuh pengganti.

Selama
perjalanan dari hulu menuju hilir tak ada teriak tak ada ketawa dan tak
ada suara. Kita sama-sama melepas lelah, menikmati alam yang jelas
beberapa tahun lagi kita takkan pernah bisa menikmatinya. Karena kita
malu dengan usia, dan tentunya kita akan berpisah sesuai garis yang
sudah ditakdirkanNya. Saat itu masing-masing kita ingat Bunda. Ya,
bunda yang sedang sibuk mencari dimana kita berada. Dan kita
membayangkan sebentar lagi kita akan kejar-kejaran dengan Bunda kembali
ke rumah.

"Adiiiii, Ipaatttt, Andiiiii, Imaaannn …
pulaaaangggggg !!!" Benar saja … dari kejauhan Bunda datang
tergesa-gesa, dan kita pun lebih tergesa-gesa lagi menuju ketepian. tak
sempat lagi mengambil pakaian dan kita pun berlarian dengan polos tanpa
benang menuju rumah idaman.

Sesampai dirumah kita sudah siap
sedia menerima hukuman. Kita berbaris di teras, menunggu bunda. Sesaat
bunda datang kita jadikan saat yang tepat untuk saling menyalahkan.
Siapa yang mengajak, dan siapa yang mau. Namun disaat bunda datang kita
tak berani berkata-kata. Hanya ada kata "aduuhh", "ampuun bundaa", "gak
ngulang lagi"… berkali-kali kita ucapkan. Untuk kata-kata yang
terakhir kita tidak berucap jujur, karena kita yakin kita akan nyebur
bareng lagi

Sholat Isya`

June 11th, 2005 by padang

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Seandainya
aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan
/ menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya."

(HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy)

Dari anas bin Malik ra :
"bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya` hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat". (HR. Muttafaqun Alaihi).

Namun
yang jadi permasalahan sekarang, bagusan mana sholat Isya` di awal
waktu berjamaah atau sholat Isya` sendirian tengah malam ?…

Dari Abu Hurairoh Ra ia berkata: Nabi SAW bersabda:
"Tidak
ada sholat yang paling berat untuk dilakukan oleh orang-orang munafik
daripada sholat shubuh dan sholat Isya. Dan kalaulah mereka mengetahui
apa-apa yang ada pada keduanya (fadhilah sholat shubuh dan isya)
pastilah mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sungguh
aku bermaksud untuk memerintahkan muadzin kemudian ia membacakan iqomah
kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang,
kemudian aku mengambil api kemudian membakar orang-orang yang tidak
keluar untuk melaksankan sholat setelahnya"
(HR. Bukhori)

Paket Itu

June 11th, 2005 by padang

Assalam, wan alhamdulillah paket tu lah selamat sampai, la tonang kan ?

Alhamdulillahirobil
‘alamiin (lagi jalan bareng Yopi dari musholla "minimalize"), Wah ini
anak pinter juga bikin saya dag dig dug dag dig dug gak karuan dari
kemaren. Bayangin 2 minggu baru nyampe ke tangan tujuan. Beneran dah !
Mana
ditambah lagi sebelumnya Pajeror [baca : Ipar Error] dikonfirmasi malah
jawabannya aneh-aneh mulu tuh. Sampe sempat mikir "duh nih
orang-orang kok pada sombong banget ya ?". Tapi akhirnya ketepis juga
sih, ya kali aja mereka lagi sibuk. Ato mungkin susah untuk
menghubungi. Eh ternyata emang bener, susah untuk ketemuannya. Satu
janji yang satu lupa, satunya datang yang satu gak ada. Mo datang ke
kosan ngambil sungkan. So jadi lah itu paket bersemayam bagai ayam
sedang memeram….

Walopun demikian, Alhamdulillah bi khoir ya.
Akhirnya itu paket sampai juga. Andi memang te-o-pe be-ge-te [baca :
top banget]. Andi emang layak dapat bintang. Ah, ntar tak kirimin buku
yang bagus. Gak papa kan ? Tapi buku apa ya ? hm butuh ke eramedia
dulu nih.

Keteguhan Seorang Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin

June 4th, 2005 by padang

Salah seorang Ikhwan mengirim surat kepada Hasan Al-Hudhaibi Mursyid
‘Am Ikhwanul Muslimin yang isinya meminta keringanan dan mendukung
Abdun naser agar bisa bebas dari penjara atau untuk menghindari
penyiksaan dan demi mempertahankan dakwah. Hasan Al-Hudhaibi menjawab,

"Sesungguhnya
dakwah tidak didasarkan pada rukhshah (dispensasi). Para pengemban
dakwah harus mengambil sikap azimah (melakukan suatu perbuatan seperti
apa yang telah ditetapkan Allah SWT), sedang rukhshah hanya diambil
orang-orang lemah. Saya tidak membolehkan kalian mengambil rukhshah
tetapi saya berkata kepada kalian; Ambillah azimah dan berpegang
teguhlah dengannya".

Apakah kita akan terus mencari celah rukhshah, sedangkan kita masih mampu untuk azimah. wallahualam.

Mental Dalam Beramal Jama’i

June 3rd, 2005 by padang

Ir. H. Tifatul Sembiring
Pjs. Presiden Partai Keadilan Sejahtera

Bergabung dalam sebuah amal jama’i memiliki kekhasan tersendiri. Mesti ada sikap toleransi, ada adaptasi, ada pengorbanan-pengorbanan tenaga dan harta serta pikiran bahkan sampai ke tingkat pengorbanan perasaaan.

Dalam kesehariannya, mungkin saja terjadi perbedaan-perbedaan dalam memandang suatu permasalahan, bahkan debat yang seru. Namun, semuanya itu harus berujung pada sebuah kesepakatan untuk dijalankan bersama. Sehingga tercipta suatu suasana, dimana setiap kader memiliki azam yang kuat untuk menjalankan hasil keputusan tersebut.

Oleh sebab itu, seluruh kader hendaknya selalu mengedepankan semangat syuro (musyawarah) dan istisyaroh (konsultasi). Akan sangat berbahaya, apabila struktur partai sudah mengambil suatu keputusan - sesuai dengan kewenangannya - ada pihak-pihak atau kader yang mencoba berjalan di
luar keputusan syuro. Apalagi kemudian kemudian ada yang berupaya melakukan pengembangan persepsi mereka masing-masing. Jika hal ini berkelanjutan, tidak menutup kemungkinan akan menjadi bibit-bibit perpecahan dalam tubuh partai.

Terkadang perubahan ini berlangsung sangat cepat. Struktur perlu merespon dan mengantisipasinya segera. Dalam situasi seperti ini, terkadang tidak mudah mensosialisasikan keputusan secara menyeluruh disebabkan adanya kendala waktu.

Apalagi medan politik, perubahan-perubahan dapat saja terjadi dari jam ke jam bahkan dari menit ke menit. Dalam keadaan demikian, biasanya pengurus akan kembali berpedoman kepada dhawabith ‘ammah (kaidah umum) konstitusi dan aturan partai.

Perkembangan dakwah, kadang berlangsung demikian pesat. Contoh kongkritnya adalah beban partai hari ini setelah pemilu 2004, hasilnya melompat dibandingkan hasil pemilu pada tahun 1999. Pada awalnya dakwah ini dikelola dalam lingkup lokal saja. Kemudian pada waktunya berkembang
menjadi gerakan yang bersifat nasional. Pada tahapan tertentu berkembang menjadi lingkup regional bahkan sampai ke tingkat internasional. Hal ini sekaligus juga berarti perluasan kegiatan distribusi rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru negeri.

Dahulu, dakwah ini dikelola dengan cara berjalan kaki, keluar masuk gang dan kampung, naik kendaraan umum. Lantas dakwah berkembang, sehingga ada satu dua teman-teman yang mulai punya sepeda motor. Lalu meningkat lagi punya kendaraan roda empat. Bahkan saat ini, untuk kawasan tertentu, dikelola dengan pulang pergi menggunakan pesawat terbang. Artinya,
telah terjadi perubahan-perubahan lingkup medan dakwah dan juga sarana transportasi yang dibutuhkan.

Awalnya para ustadz menjelaskan materi dakwah dengan mengunakan kapur tulis. Lalu memakai spidol, kemudian meningkat menggunakan alat-alat presentasi yang modern. Bahkan saat ini sesuai perkembangan teknologi informasi, untuk mahasiswa Indonesia yang berada di Sydney misalnya
dapat menyimak pengajian pagi yang berlangsung di masjid Pondok Gede, dengan memanfaatkan sarana internet.

Dari sisi mihwar (orbit) dakwah, telah terjadi pula perkembangan dan perubahan yang pesat. Awalnya dakwah ini berada pada mihwar tanzhimi (orbit struktur) lalu berlanjut ke mihwar sya’bi (orbit masyarakat), lantas berkembang menjadi mihwar muassasi (orbit institusi) dan
bahkan hari ini kita sudah melangkah ke arah mihwar dawly, yaitu orbit kekuasaan.

Dengan perubahan dan perkembangan seperti ini, mestinya sikap mental dan pola pemikiran kita juga harus berubah, jangan sampai ada yang ketinggalan. Struktur berdasarkan evaluasi dan penetapan kebijakan Majelis Syuro, saat ini merumuskan bahwa kita sedang berada pada
posisi menuju mihwar dawly. Artinya orbit kita sedang menuju orbit pemerintahan, bagian dari pengambil keputusan penting di republik ini. Hal ini perlu disadari dan dipahami oleh seluruh pengurus dan kader, karena jika ada diantara mereka yang ketinggalan wacana positioning
kita saat ini, tentu akan menjadi sebuah problematika baru.

Untuk selanjutnya-mengenai positioning ini perlu didiskusikan lebih jauh lagi. Sebab pada orbit institusi, perilaku organisasi kita, baik sikap dan policy-nya kerap kali bernuansa opposan. Kita selalu mengambil posisi pada satu kutub, sementara pemerintah kita letakkan pada kutub
lain. Namun, tentunya berbeda suasananya pada orbit kekuasaan. Yang terjadi sebaliknya, justru kita yang didemo kelompok lain, yang merasa tidak puas atas policy penguasa. Sebagai contoh kongkrit adalah kasus kebijakan pemerintah menaikkan BBM. Walaupun bukan PKS yang menaikkan, bahkan dari awal PKS tidak menyetujuinya, tetapi sebagai rekan koalisi pemerintah, tetap saja PKS terkena getahnya.

Apalagi ketika - Insya Allah- suatu saat nanti PKS diamanahi oleh Allah memegang kekuasaan penuh pemerintahan ini. Tentu beban berat pengelolaan negara beserta seluruh rakyat Indonesia ini harus kita pikul. Semua kelompok agama, etnis, maupun ras yang ada mesti diurus. Harus mampu
mengakomodasikan berbagai macam kepentingan kelompok dan golongan. Mesti cepat dan tanggap terhadap tuntutan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Pada posisi ini, sikap mental dan kemampuan penguasaan kita terhadap konsep-konsep pengelolaan negara, tidak bisa tidak, mesti
sudah dimiliki dan siap dijalankan.

Pada jajaran fungsionaris partai dan para kader, pada saat ini, tentu ada sebagiannya-walaupun jumlahnya masih kecil- berbeda frekwensi. Masih saja termangu-mangu dan bahkan kadang menolak sebuah policy partai. Kalaulah penolakan ini disebabkan oleh ketidakmengertian terhadap
masalahnya, maka hal ini masih mudah dipahami. Berikan penjelasan, diskusikan pertimbangan serta latar belakangnya, lalu masalahnya selesai. Akan tetapi kalau penolakan ini bersifat I’tiqodi
(konseptual), maka keadaanya bisa menjadi runyam, terutama kalau yang bersangkutan termasuk kategori orang yang sulit menerima taushiyyah serta pendapat orang lain.

Kewajiban kita adalah menasehati teman-teman yang berperilaku demikian, agar selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, juga taat kepada qiyadah mereka yang tergabung dalam jama’ah dakwah ini. Selanjutnya kita serahkan urusannya kepada Allah SWT, Wallahu A’lam.

Majalah Saksi No. 17 Tahun VII 25 Mei 2005